Page 1

Pertanyaan Pemuda Afghanistan tentang Susu dan Kolom Rombeng di KTP

“Susu. Susu. Indonesian for milk is susu, right?”

Pemuda Afghanistan yang duduk persis di samping T, kawanku, kembali memotong pembicaraanku dan T, untuk ke-seratus tujuh puluh tiga kalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya maha penting sehingga mesti ditanyakan saat itu juga. Aku yakin pemuda ini tidak akan ragu menyogok lubang hidung T-Rex yang sedang berburu menggunakan batang bambu untuk sekedar memberitahu ndoro karnivora sebuah berita sensasional, “You know Kampung Arab? I’ve been there, It’s in Bo-ghor.” Selengkapnya »

Senyum Teh Madu Hangat

Ia mengenakan blus merah jambu dengan blazer berpotongan pas badan, rok span di atas lutut warna hitam dan stocking tipis dengan warna sama. Sepatu kulit–juga hitam–berhak rendah ia pakai dengan luwes. Tubuhnya ramping. Jemarinya bersih, tidak lentik, namun cantik dengan cat kuku merah muda yang dipoles cukup rapi. Sebuah buku tebal di pangkuan. Rambutnya berwarna emas bergelombang sebahu. Ia memiliki senyum sangat manis, barangkali yang paling nampak tulus yang pernah kulihat di kota ini. Selengkapnya »

MURAI BATU

Aku banyak tertawa namun lebih banyak merasa gemas.

“Kau tahu ia sudah menyia-nyiakanmu, menemuimu hanya saat bangkrut dan membutuhkan tumpangan atau makan siang, pendeknya ia mengadalimu habis. Kau sadar itu kan?”
“Sangat sadar.”
“Ia bahkan mencuri tulisanmu.”
“Yang lalu ia ikutkan lomba puisi di sebuah tabloid dan mendapat predikat puisi terpuji. Ya.”
“Dan setelahnya kau masih mau ia cium?”
“Betul. Tidak hanya mau dicium, aku juga membalas ciumannya.”
“Aku tidak mengerti perempuan.”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Tidak, aku tahu kau tidak bodoh.”
“Tidak bodoh, hanya tidak masuk akal? Kau pasti merasa sangat pintar sekarang, laki-laki.” Selengkapnya »