Page 1

Senyum Teh Madu Hangat

Ia mengenakan blus merah jambu dengan blazer berpotongan pas badan, rok span di atas lutut warna hitam dan stocking tipis dengan warna sama. Sepatu kulit–juga hitam–berhak rendah ia pakai dengan luwes. Tubuhnya ramping. Jemarinya bersih, tidak lentik, namun cantik dengan cat kuku merah muda yang dipoles cukup rapi. Sebuah buku tebal di pangkuan. Rambutnya berwarna emas bergelombang sebahu. Ia memiliki senyum sangat manis, barangkali yang paling nampak tulus yang pernah kulihat di kota ini.

Selengkapnya »

MURAI BATU

Aku banyak tertawa namun lebih banyak merasa gemas.

“Kau tahu ia sudah menyia-nyiakanmu, menemuimu hanya saat bangkrut dan membutuhkan tumpangan atau makan siang, pendeknya ia mengadalimu habis. Kau sadar itu kan?”
“Sangat sadar.”
“Ia bahkan mencuri tulisanmu.”
“Yang lalu ia ikutkan lomba puisi di sebuah tabloid dan mendapat predikat puisi terpuji. Ya.”
“Dan setelahnya kau masih mau ia cium?”
“Betul. Tidak hanya mau dicium, aku juga membalas ciumannya.”
“Aku tidak mengerti perempuan.”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Tidak, aku tahu kau tidak bodoh.”
“Tidak bodoh, hanya tidak masuk akal? Kau pasti merasa sangat pintar sekarang, laki-laki.”

Selengkapnya »

Ramon Fonseca, Novelis Pemutar Uang.

Beberapa hari yang lalu saya dibikin merinding saat membayangkan kerja lima jurnalis yang menggawangi harian Süddeutsche Zeitung di periode awal mereka menerima dan mengolah data bocoran skandal Panama Papers. Pertama kali membaca hasil investigasi yang membikin terjelengar ini, saya jadi bloon, diikuti perasaan culun, bahwa sementara di sini kami masih terus merundung Pak Menteri Gita Wiryawan perihal e-filing SPT yang kapiran, di luar sana para hartawan dari kalangan pengusaha, bandit, politikus, raja, atlet, ena-ena menabung pakai celengan babi raksasa tanpa pusing setor SPT. Macam anak SMA yang baru pertama kali baca bab awal Das Kapital aja, Lau. Cela Gita Wiryawan pada saya. Celaan Gita saya terima sebab saya paham hidupnya sebagai PNS dalam tugas belajar begitu syuram dan mencela manusia sempurna seperti saya adalah sama membahagiakannya dengan mencuri-cuil tepung di pinggiran tempe mendoan yang baru saja diangkat dari penggorengan. Ya, hakikat kebahagiaan bagi Gita memang se-ceketer itu saja. Cukup soal Gita, nanti cuping hidungnya megar.

Selengkapnya »