Bar Bisu -sebuah bagian dari cerita yang (direncanakan) lebih panjang-

Kami tertarik untuk mendatangi sebuah bar di tepi laut, nama barnya: Bisu. Sesuai namanya, di bar itu kau tidak akan bisa mendengar suara orang bicara. Bukan berarti mereka benar-benar bisu, tetapi memang yang datang kesana adalah mereka yang lelah mendengar manusia bicara. Mereka ingin mengistirahatkan telinga dari omong kosong dan suara-suara yang kebanyakan tidak berguna. Kau tak harus menguasai bahasa isyarat untuk bisa masuk Bar Bisu, –tentu saja menguasai bahasa isyarat akan sangat membantu–, namun kau bisa menggunakan bahasa tubuh paling sederhana yang pernah dikenal manusia. Membentuk gelas dengan menggulung telapak tanganmu ke dalam menyerupai kepalan yang tak penuh lalu mendekatkannya ke mulut untuk memesan minum, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan untuk memesan dua gelas minum atau dua porsi makanan yang sama, atau menangkupkan kedua telapak tangan, menaruhnya di depan dada lalu menundukkan kepala dengan sedikit membungkukkan badan sambil tersenyum untuk menyampaikan terima kasih. Kau juga bisa membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan telunjukmu sebagai ganti kata “ok”. Hal-hal seperti itu.

Sebenarnya sudah lama aku ingin mendatangi Bar Bisu. Tapi aku terus maju mundur. Siapa nyana butuh begitu besar nyali untuk masuk ke dalam sebuah lingkungan yang merontokkan semua kalimat. Lebih-lebih aku sadar kalau aku –dan apalagi Rami, teman yang datang bersamaku– adalah biangnya omong besar. Masuk ke Bar Bisu akan terasa seperti melucuti diri sendiri dan melepaskan semua pertahanan tanpa sisa. Bagaimana kalau pramusaji salah paham dan memberi kami makanan yang bikin kami alergi, gatal-gatal sepanjang minggu, atau lebih buruk lagi, terserang sesak napas mendadak? Sangat tidak seksi. Bagaimana kalau kami tiba-tiba jadi tampak tolol di depan orang-orang yang selama ini kami ingin bikin terkesan dengan segala macam cerita dan lelucon yang berasal dari buku-buku milik penulis terkenal dunia? Bagaimana kalau ternyata kami nanti begitu cepat menjadi bosan karena ingin segera kembali ke keramaian sehingga pemilik bar dan semua pengunjung segera menyimpulkan bahwa kami adalah golongan manusia dangkal yang tidak bisa menghargai ketenangan? Dan Rami, sumpah demi semak putri malu yang diinjak-injak lars tentara, adalah manusia yang paling sulit dibujuk. Kau suap ia dengan gula-gula kapas, ia akan menerimanya tanpa tahu malu dan tetap menolak ajakanmu. Tak cuma gulalimu yang habis, kesabaran dan harga dirimu juga. Biasanya aku malas membujuknya, tetapi Bar Bisu terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Kau ini kayak tidak kenal aku saja, Koral. Malas, tau. Bayangkan, tidak ada orang bicara berarti semua orang bisa mendengar suaramu menghela napas, mendengar clap-clap kunyahan dari mulutmu, atau cleguk dari kerongkonganmu saat menelan air minum. Belum lagi derit kursi, suara geretekan tulang jari, suara sendawa, suara kuku menggaruk kulit kepala yang kering ketombean. Mengerikan sekali. ”

“Tidak seburuk itu. Ada suara ombak, angin laut, mereka juga memainkan musik. Instrumental tentu. Kurasa kau akan suka.”

“Nggak usah repot-repot begitu, deh.”

Rami kembali tak mengacuhkanku dan memulai upacara tidur-tidur ayamnya yang suci. Ia –dengan bebalnya, tentu— terus-terusan menolak ajakanku, hingga sore tadi, saat aku mengoleskan mentega ke lembar roti terakhir yang kami punya, Rami berdiri berkacak pinggang tepat di seberang meja. Rami memakai kaus yang disetrika. Rami menyisir rambutnya. Rami mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.

“Apa…?”

“Bar Bisu, sekarang.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera berjalan keluar rumah. Seperti habis kena sebuah tendangan di bokong, aku menyambar satu buku yang belum selesai kubaca dan tergopoh menyusul Rami yang tetap memasang tampang musang galak. Aku tak bisa menahan senyum.

“Jangan cengar-cengir, kamu. Aku mau kesana karena mungkin ini satu-satunya kesempatan di mana aku nggak perlu dengar lelucon terendah sepanjang peradaban manusia, –kenapa babi jalannya nunduk, karena dia malu punya ibu babi– itu.“

“Hahahahaha.. Musang sialan kau memang.”

“Hus! Jaga tertawamu dari sekarang, beruang.”

“Kau yakin tetap akan berangkat? Di sana kau tidak akan bisa terus-terusan mengerjaiku seperti di rumah.”

“Berisik. Sepertinya aku bakalan sering menggunakan jari tengahku di sana, deh.”

“Sialan!”

Aku mengumpat. Rami tertawa, belum-belum ia sudah merasa menang. Rambut Rami yang tertiup angin sore menutupi sebagian wajahnya. Cantik.

“Ah, sialan.”

Aku mengumpat lebih pelan.

Leave a Reply