Bengap

 

Tidak ada yang istimewa dengan pagimu. Bangun terburu-buru. Menyambar pekerjaan sekenamu. Bersiap. Bersiap. Bersiap untuk apa? Peduli setan, kau tidak ada waktu memikirkannya. Bergerak! Harus bergerak secepatnya. Itu saja yang ada di kepalamu sembari kau menyambar handuk sambil melirik cepat ke arah jam dinding yang tidak kenal belas kasihan.

Kemudian A B C D, kau sudah berjarak sekian jam sekian puluh kilometer dari saat kau bangun. Sarapan pagimu baru saja selesai. Kau mencari berita. Kau mendapat berita. Seorang khatib bebas setelah membunuh anaknya. Bocah perempuan lima tahun diperkosa dan disiksa sampai mati karena diragukan keperawanannya oleh ayahnya. Criingng!! Cuma perlu bayar denda. Di sana laki-laki tidak bisa dihukum karena membunuh anak perempuannya atau istrinya.

Kau mual.

Kau mencari berita lain. Kau menemukan berita lain. Cerita tentang perburuan perempuan. Gadis umur belasan diculik dan diperkosa sepanjang perjalanan melintasi tiga negara. Dijajakan semurah mungkin melayani antrian tiga puluhan pekerja tambang di tempat terbuka. Puting sebelah kanannya hilang meninggalkan bekas luka bakar. Sekujur badannya penuh codet dan bekas jahitan kasar.

Kau ingin muntah.

Kau muntab. Kau meluap. Batinmu bengap-bengap. Kau tidak ingin mempercayai apa-apa. Kau menyesal membaca. Kau menyesal sarapan. Kau menyesal bangun. Kau menyesali keseluruhan dunia dan manusia.

Kau tidak bisa apa-apa. Lambungmu jadi pusat semesta. Kepalamu ditarikputar ke segala arah. Jarimu tremor tiba-tiba, menuliskan pesan pendek kepada kontak darurat, “Dunia kenapa?”.

Sebuah pesan pendek balasan,

“Samsara.”

Kemudian airmata.

 

 

Image

(pic fr http://utkuatalay.deviantart.com)

 

 

Leave a Reply