Bukan di manapun

Ini adalah cerita tentang sebuah beranda rahasia. Di sana sebuah balai-balai bambu menyudut tenang, dengan tikar pandan yang mengkilat karena seringnya diduduki, dan beberapa pot tanaman suplir yang dulu selalu kupandangi dengan takjub di rumah temanku pada masa kecilku. Kita hidup di masa televisi tidak ada, sehingga setiap lepas magrib, kita bisa mendengar sayup-sayup suara anak-anak belajar mengaji di surau dekat kolam Haji Ibrahim, kolam besar di mana setiap pagi dan sore Yu Mari merendam dandang tilasnya menanak nasi, kolam besar yang ketika hari terik anak-anak terpekik-pekik berlompatan menceburkan diri dan belajar nglangi.

Kau percaya? Di sana benar-benar tidak ada televisi, maka ketika bulan terbit dengan bulat dan sangat terang, anak-anak yang baru pulang dari surau berlarian ke halaman, bermain jilumpet dan jamuran. Kadang-kadang Bumi, anakmu yang tujuh tahun itu pulang dengan membawa beberapa kunang-kunang yang dia krukup dengan hati-hati di sarung kecilnya. Buru-buru dia berlari langsung ke kamarnya dan menaruhnya pada botol beling panjang dengan tutup berlubang-lubang kecil, “Bapak, malam ini aku berani tidur tanpa lampu!”, katanya bangga.

Pagi dan halaman dan sapu lidi selalu bertemu setiap hari. Aku tahu kau selalu suka memandangi garis-garis jejak lidi yang teratur menyapu tanah diselingi jejak sandal jepitmu. Menenangkanmu dengan cara yang aneh ya? Ketika tanah tidak lembab lagi di pagi hari karena kemarau, dan butir butir halusnya sering beterbangan masuk ke mata, kita tidak mengeluh saat harus menyapunya , sebab tidak pernah ada yang keberatan menyirami tanah kering dengan air dari kolam ikan kecil di belakang rumah. Kau paham benar perasaan tenteram itu bukan?  “Seperti bau hujan buatan.”, begitu selalu kau bilang.

Kehangatan adalah ketika hujan turun pagi-pagi, yang oleh karenanya kita tergigit-gigit oleh hawa dingin, dan membawa kita berebut duduk pada dingklik kecil di depan sebuah tungku kayu. Kau lihat hangat dari tungku itu meruap di sekitar kita? Merayap pada buku-buku jari, dan menyelinap pada senda gurau kecil di antara kantuk yang semakin menipis. Sementara menunggu panas api pelan-pelan mendidihkan seceret air, kadang kita hanya diam memperhatikan  kayu yang bergemeretak di makan api tanpa menggelisahkan apa apa.

Suara kayu terbakar, lalu hujan yang mulai mereda di luar, rasa malas beranjak yang keras kepala, pelukan yang kadang melonggar lalu kembali meng-erat, adalah butir-butir yang membuatku selalu merasa cukup. Mungkin itu cinta, yang dibawa oleh sangit asap tungku. Bau itu kemudian lekat. Di rambutmu, di rambutku.

 

 

Image

(pic fr http://andrea-ioana.deviantart.com)

Leave a Reply