Bus Kota Kata Kita

 

Pengap tentu saja.  Aku berada dalam semacam bus kota rombeng, jalannya lambat dengan mesin menggerung-gerung berat, jok di bangkunya apak, cuma ada dua lampu redup berdengung kasar seperti akan segera putus, dan di luar sepertinya malam.

Aku sedikit panik, sama sekali tidak bisa ingat bagaimana aku bisa tiba-tiba ada di sini, duduk di bangku paling depan sebuah bis kota tua yang aku tidak tahu menuju kemana. Aku baru saja hendak menengok ke belakang mencari-cari penumpang lain saat tangan seseorang menepuk pelan bahu kananku. Kemudian senyum itu, kau.

“Hai.” Sapamu pendek.

“Kau?”

“Iya. Aku.”

Kau masih tersenyum dan sepertinya menikmati raut mukaku yang kebingungan. Kau bangun dari bangku di belakangku kemudian berdiri di samping tempat dudukku. Mau tak mau aku bergeser ke sisi dekat jendela. Kau duduk di sebelah kananku. Lenganmu menyentuh lenganku. Hangat. Rasa hangat yang menjalar ke dada. Aku tidak heran saat kemudian aku merasa sedikit lebih tenang.

Aku memandangi wajahmu, meyakinkan bahwa kau adalah laki-laki itu. Laki –laki dengan tulang wajah samar yang sama, laki-laki dengan mata redup yang sama. Laki-laki yang sering tiba-tiba kulihat di perempatan yang rungsing, yang berdiri di sisi lampu merah di mana seorang gelandangan muda menarik-narik rantai seekor monyet bertopeng mengharapkan orang-orang melemparkan recehan ke kaleng, yang kadang-kadang kulihat duduk entah menunggu apa di halte-halte terlantar, bersidekap di bawah papan reklame iklan minuman berkarbonasi, atau berdiri diam di sisa kemacetan selepas kecelakaan. Kau selalu tiba-tiba muncul di setiap aku melihat dan merasakan apapun yang membuat hatiku seketika mencelos diam-diam.

“Kau tahu aku siapa?” Kau bertanya

“Jangan mengujiku.”

“Katakan, aku siapa.”

“Kau adalah siapa saja.”

“Bagaimana bisa?”

“Bisa saja. Kau selalu ada di mana-mana.”

Kau tertawa. Bus terguncang, banyak lubang di jalan. Pelipisku terantuk jendela. Sesuatu di kepalaku seperti diketuk.

“Kau tahu kita di mana?” Tanyaku

“Iya.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

“Lalu di mana kita?”

“Kita sedang tersesat.”

“Kalau itu aku juga sudah tahu.” Aku mendengus kesal

“O ya? Tahu dari mana?”

“Dari semuanya. Bus tanpa rute, perasaan-perasaan asing, kita bahkan tidak tahu bagaimana cuaca di luar, dan sopir itu, aku bertaruh dia bisu tuli kalau kita tanyai. Atau malah jangan-jangan mukanya rata.” Gerutuku sambil menghempaskan punggung ke bangku. Bau sengak dari jok yang apak menyeruak. Kau tertawa. Aku melirikmu kemudian bersidekap dan kembali menggerutu.

“Tertawa terus, menurutmu ini lucu? Aku tahu-tahu di sini tanpa ingat apa-apa. Mungkin aku baru saja dilempar dari pesawat alien atau baru saja masuk dunia paralel dan tidak tahu bagaimana caranya pulang. Kita tersesat dan kau tertawa-tawa.”

“Aku cuma sedang geli melihat jam tanganmu itu.”

“Kenapa jam tanganku?” Kau memegang tangan kiriku dan mendekatkan punggung pergelangannya pada wajahku,

“Lihat ini.”

Aku menatap arlojiku dan seketika merasa pusing. Tiga buah jarum di sana berputar cepat saling mengejar, jarum jam dan menit-nya tidak menunjuk ke angka manapun tapi terus berputar-putar gila.

“Apa yang terjadi?”

Kau mengangkat bahu

“Mungkin waktu sedang sakit. Aku tidak tahu.”

Suara klakson. Entah untuk apa sopir bus kita membunyikannya, aku tidak merasakan keberadaan kendaraan lain. Mungkin ada anjing budug lewat, atau dia hanya ingin mengagetkan kita saja, menegaskan ketersesatan kita.

“Jadi bagaimana?” Aku bertanya padamu

“Ya tidak bagaimana-bagaimana. Kita tersesat. Itu saja.”

“Kau ini. Sebenarnya untuk apa aku bertanya padamu coba? Dari awal aku sudah tahu kalau aku tersesat, lagipula ada kamu.”

“Ada aku?”

“Iya. Kamu. Kamu selalu tiba-tiba ada setiap kali aku merasa tersesat. Entah memang kau selalu muncul saat aku tersesat, atau justru malah kemunculanmu yang selalu menyesatkanku. Atau keduanya. Dan kali ini yang terparah.”

“Kau pintar menyanjung.”

“Kau mudah besar kepala.”

Lalu kita diam. Bahkan dari bangku terdepan sini kita tidak bisa melihat apapun. Tidak lampu, tidak pepohonan, tidak juga garis jalan. Hanya dua titik besar permukaan jalan yang tersiram lampu bus saja yang nampak, kadang-kadang ia berupa aspal tipis, berselang-seling dengan tanah dan lubang-lubang.

“Kau punya kenangan?” Tanyamu tiba-tiba

“Sepertinya punya. Tapi tidak terlalu berguna. Kenangan tidak bisa jadi peta.”

“Kau benar.”

“Tentu saja aku benar.”

Kau kembali bertanya dan kali ini terdengar lebih penasaran

“Kalau tiba-tiba bus ini berhenti, kau mau turun?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau aku turun kau akan ikut turun?” Aku diam sesaat

“Sebaiknya kau jangan turun.” Kataku

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan.”

“Kau tahu kita akan kemana?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tidak turun saja sekarang?”

“Turun juga tidak lalu berarti kita sampai.”

“Turunlah bersamaku!”

Aku memandangmu. Matamu menatap mataku. Tidak berkedip. Napasku tertahan.

“Kau sedang melamarku?”

“Iya. Dan aku tahu kau sedang pura-pura tidak bisa menerimaku.”

Aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir geli yang merambat dari perut ke dada dan segera berubah jadi  ngilu di sana.

“Sudahlah..”

“Iya. Sudah kok.”

Kau diam. Aku sebentar-sebentar mencuri lihat wajahmu. Raut muka gelisah yang begitu akrab. Kau lebih sering terlihat seperti kanak-kanak di mataku, kanak-kanak yang banyak kehilangan, yang tidak tahu bagaimana cara berhenti atau melanjutkan apapun. Aku selalu ingin memelukmu seakan-akan dengan begitu aku bisa melindungimu dari hujan yang tiba-tiba atau dari dingin yang menjadi-jadi. Keinginan yang tidak masuk akal, menyelamatkan diri sendiri saja kau tidak bisa, lagipula aku tidak perlu diselamatkan dari apapun, begitu katamu dulu. Angkuh, seperti biasa.

Ada kau, tiba-tiba aku sadar bahwa aku bahkan tidak peduli ada penumpang lain atau tidak di bus ini, atau bahwa bus ini akan membawaku kemana. Sesungguhnya aku sudah tidak begitu merasa hilang dari sejak mengetahui bahwa yang menepuk bahuku saat aku sedang kebingungan adalah kau dan bukannya orang lain.

Kau menyandarkan kepala ke punggung jok yang lapuk. Dudukku beringsut miring dan setengah menghadapmu. Seandainya aku bisa mencuri ambil luka-luka di matamu itu..

“Kau takut?” Aku bertanya padamu. Entah bagaimana mulanya tanganku mengelus wajahmu

“Mungkin.”

“Aku baru saja tahu sesuatu. Mau kuberitahu?” Ibu jariku mengusap anak-anak rambut di dahimu

“Apa?”

“Kita sedang ada di mimpiku.” Alis tebalmu mengernyit.

“Maksudmu? Kita sedang di mimpimu?” Aku mengangguk. Dudukmu kembali tegak.

“Katakan padaku, bagaimana rasanya kau tahu kau sedang ada di mimpimu sendiri?”

Ah, aku suka saat kau tiba-tiba tertarik pada sesuatu, membantuku menemukan binar-binar tipis di matamu yang lebih sering redup itu.

“Rasanya seperti terjebak. Terjebak tapi menang.”

Mata kita bertemu. Dan kita tahu mereka berbicara lebih banyak daripada semua percakapan yang pernah kita lakukan.

“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanyamu.

“Iya.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu.”

Kau tersenyum tipis.

“Simpan itu dan katakan lagi nanti.”

“Kapan?”

“Setelah kau bangun dari mimpi tolol ini.”

“Entahlah.”

“Entahlah bagaimana?”

“Aku tidak yakin aku benar-benar ingin bangun.”

Kau menatapku. Tahu-tahu bibir kita bertemu. Bibirmu memagut bibirku. Aku seketika larut, dan semua pertanyaan ikut terpagut. Ada dengung di kepalaku. Aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu..

“Kau sadar?” Tanyamu di sela-sela ciuman

“Apa?”

“Bus  kita berjalan mundur.”

“Oh ya?” Aku terkejut.

“Sudah biarkan saja.”

Kau meraih wajahku dan ciuman-ciuman kembali menghujan.

Bus kota kita terus berjalan berderit-derit. Jarum jam tanganku masih berputar-putar gila dan sengit.

 

 

Image

(pic fr: http://arctoa.deviantart.com/art/Passenger-109234518)

 

Dimuat di Jakarta Beat, 5 Mei 2013

>> http://jakartabeat.net/prosa/konten/bus-kota-kata-kita/

4 Responses to “ Bus Kota Kata Kita ”

  1. sakit!!! jangan mau bangun!

  2. ini keren. aseli! 🙂

Leave a Reply