Cara Mati Dan Cara Selamat Yang Mengejutkan.

Gorin adalah sesosok raksasa yang hidup di sebuah dataran luas di belahan bumi sebelah utara. Ia tinggal dalam sebuah gua lapang di tengah hutan dan menahan seorang perempuan desa yang ia culik saat tersesat ketika mencari kayu bakar dan buah-buahan. Sebenarnya bukan Gorin yang benar-benar menculiknya seperti yang selalu ia banggakan pada seisi hutan, itu bualannya saja. Gorin terlalu dungu bahkan hanya untuk sekedar menculik manusia. Yang benar adalah, Valerie, si perempuan desa, terlalu dalam masuk hutan, sedang ia kebingungan mencari jalan pulang, tiba-tiba badai turun sangat hebat. Valerie mencari tempat berteduh dan menemukan sebuah gua yang sialnya adalah tempat tinggal Gorin. Gorin yang sedang duduk menahan lapar di kegelapan gua begitu senang melihat seorang manusia putus asa dan kebingungan di pintu guanya. Segera ia menangkap Valerie dengan tangannya seperti bocah menangkap anak ayam. Merasa lapar, ia hampir-hampir langsung memakan Valeria begitu saja. Tapi lalu ia ingat, ia belum pernah makan manusia sebelumnya. Apalagi manusia di tangannya nampak -ia tak yakin bagaimana ia mesti menyebutnya- cantik?

Gorin begitu gembira seperti baru saja menemukan mainan baru. Ia kemudian memang memperlakukan Valerie sebagai mainan, tepatnya, mainan yang bisa bekerja. Ia memaksa Valerie tinggal di gua, mengolahkan makanannya –semenjak menahan Valerie, Gorin tak pernah mau lagi memakan binatang buruannya mentah-mentah begitu saja-, membersihkan gua, sesekali dipaksanya Valerie menari mengelilingi gua. Malam hari, Valerie dikurung di sebuah petak dalam gua yang dipagari jeruji kayu, Gorin punya beberapa petak semacam ini untuk mengurung binatang hasil buruannya. Si manusia perempuan tidak bisa melarikan diri, ia sama sekali tak tahu arah. Sementara di luar sana ia percaya ada raksasa lain yang -tak seperti Gorin- akan tanpa ragu langsung menelannya bulat-bulat seperti mereka memakan babi atau rusa. Menurut Valerie, melarikan diri tanpa bekal dan persiapan apapun adalah upaya mencelakakan diri yang tidak bisa diampuni. Ia memang bisa dibilang sedang celaka, tapi tidak lantas berarti ia boleh tak peduli jika dirinya ditimpa hal yang lebih celaka lagi bukan?

Gorin senang karena Valerie menurut dan terhitung tidak suka melawan. Dari hari ke hari ia semakin jarang dikurung di petak berjeruji kayu saat malam. Pada siang hari  Valerie bisa keluar semakin jauh untuk mencari buah-buahan atau daun obat. Selama itu tak satu kali pun Valerie berupaya melarikan diri, ia hanya sedikit demi sedikit mempelajari hutan dan mencoba mengira-ira arah kembali ke desa. Valerie terus mengingatkan dirinya agar lebih bersabar.

Valerie tidak pernah mengira ia akan melihat manusia lain, sampai suatu siang ia bertemu dengan seorang pemburu yang juga tersesat seperti dirinya dulu. Oleg, nama pemburu itu, sudah dua malam tidur di atas sebuah pohon dekat sungai sejak terpisah dari rombongan berburunya saat membuntuti seekor rusa bertanduk paling besar yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Ia berencana akan mencoba keluar dari hutan dengan berjalan menyusuri sungai ke arah hilir (atau dengan menaiki rakit, itu belum ia putuskan). Valerie –sehabis mereka saling mengenalkan diri dan sempat meragukan niat Oleg padanya- menjelaskan situasinya. Mereka berdua sepakat untuk berupaya keluar dari hutan, melarikan diri dari Gorin, bersama-sama. Bagaimanapun, mereka tidak bisa asal pergi begitu saja. Perjalanan mereka memerlukan bekal, Valerie perlu mencari tahu saat terlengah Gorin, dan Oleg perlu waktu untuk mempelajari jalur yang akan mereka pilih.

Valerie kembali ke gua Gorin dengan perasaan (akan) terselamatkan. Sikapnya yang biasanya ketus kepada Gorin melunak, Valerie berusaha membuat Gorin lengah. Sementara itu ia juga semakin sering bertemu Oleg. Di tepi sungai, di bawah pohon apel, di sekitar gerumbul tanaman obat yang bisa menurunkan demam dan menutup luka luar. Perasaan menemukan kawan dengan cepat menerbitkan rasa sayang yang segera merupa genggaman tangan dan kadang-kadang –tapi ini cukup jarang-, rangkulan. Saat-saat demikian, di mata Valerie hutan jadi tak terlalu mengerikan.

Pada pertemuan mereka kesekian puluh, Oleg memutuskan bahwa mereka harus segera pergi karena angin sudah terasa basah dan ia khawatir perjalanan mereka akan lebih sulit jika hujan mulai turun. Valerie setuju. Karena Valerie tidak bisa berenang, mereka memutuskan untuk tidak menggunakan rakit dan akan menyusuri tepi sungai ke arah hilir melalui darat. Sekembalinya ke gua Gorin sore itu, Valerie mengumpulkan kulit binatang sisa hasil buruan Gorin yang sudah ia keringkan dan membikinnya sebagai kantong bertali untuk tempat bekal.

Siang hari berikutnya, Valerie duduk di pintu gua, di depannya puluhan apel bertumpuk di atas sebuah batu lebar, bersisian dengan sebuah batu lebar lain yang di atasnya diletakkan seekor babi guling besar. Ini adalah waktu-waktu Gorin akan makan setelah setengah hari berburu di hutan, sesudahnya ia akan tidur sampai matahari tergelincir di sepertiga jalan menuju terbenam. Saat Gorin tidur itulah Valerie berencana akan melarikan diri bersama Oleg.

Gorin makan dengan cepat dan tak lama kemudian ia sudah sesenggoran mengeluarkan suara dengkuran yang memekakkan. Valerie secepatnya mengendap dan berlari ke arah sungai di mana Oleg menunggunya. Mereka segera berjalan cepat –tepatnya berlari- ke arah hilir sungai tanpa berhenti. Hari terasa berjalan berkali lipat lebih cepat, tahu-tahu matahari sudah di sepertiga jalan menuju tenggelam, memasuki waktu di mana Gorin akan bangun dari tidur siangnya. Oleg dan Valerie, di antara langkah lari mereka, sesekali saling melempar pandangan tegang.

Suara raungan.

Oleg memaki. Ia lupa meminta Valerie membalurkan minyak ikan ke tubuhnya untuk menyamarkan bau tubuh Valerie dan menghalangi Gorin membaui arah mereka pergi. Suara raungan semakin dekat. Mereka merasa sudah berlari sangat jauh namun tahu-tahu raungan itu terasa sudah sampai di belakang tengkuk mereka diikuti debam kaki raksasa yang mengentak tanah. Oleg menarik tangan Valerie kuat-kuat untuk membawanya berlari lebih cepat, namun percuma. Pegangan Oleg segera terlepas karena tubuh Valerie terangkat ke udara ditangkap oleh sebuah telapak tangan sebesar pintu rumah. Valerie menjerit. Gorin mengangkat Valerie ke depan mukanya lalu meraung marah ke arah wajah Valerie. Valerie membalas dengan meludahi muka Gorin. Gorin semakin marah. Diguncang-guncangnya tubuh manusia yang ada di genggamannya. Tangan kanan Valerie yang bebas berusaha mengorek kantong bekal yang ikut terayun kesana-kemari, mencari pisau dari batu yang biasa ia pakai untuk menguliti hasil buruan Gorin. Ketemu. Sekuat tenaga ditusukkannya pisaunya ke kulit liat dan tebal yang terletak antara telunjuk dan ibu jari Gorin.

Gorin meraung keras. Terkejut dan kesakitan, genggaman tangan Gorin terlepas, Valerie jatuh di atas semak tebal. Oleg memburu ke arahnya dan berusaha menariknya bangun. Raksasa Gorin belum pernah begini marah. Tahanannya kabur, mukanya diludahi, tangannya sakit ditusuk pisau batu dan seorang manusia (laki-laki!) sedang mencoba mencuri tahanannya yang sudah nyaris berhasil ia tangkap lagi. Gorin dan Valerie berhasil berdiri. Mereka segera berusaha berlari kembali. Gorin, kali ini dengan lebih marah, meraung hebat, tangannya menyambar sebatang pohon cukup besar yang langsung tercerabut dan terlempar ke arah Oleg dan Valerie. Keduanya seketika jatuh pingsan.

Gorin menggeram-geram di guanya. Dia duduk di lantai gua di antara dua kurungan binatang buruannya. Valerie di dalam kurungan sebelah kanan Gorin, sementara Oleg di sebelah kirinya. Gorin begitu marah, ia tak mau menempatkan mereka dalam satu kurungan, melihat dua manusia itu berdekatan membikinnya muak.

Valerie dan Oleg mulai sadar. Masing-masing dari mereka berusaha berdiri mendekati jeruji kayu. Gorin menyuruh keduanya mundur dengan sebuah geraman marah. Gorin sedang berpikir akan ia apakan kedua tahanannya ini. Memakan si manusia laki-laki sebenarnya lumayan. Kalau Valerie, ia harus mengurungnya kembali dan kalau perlu memasanginya tali panjang yang disambungkan dengan kaki Gorin sendiri supaya tidak bisa kabur lagi. Eerrrgghh!! Berpikir selalu membikinnya lapar. Gorin menghampiri setengah ekor babi guling di dekat pintu gua sisa makannya siang tadi. Ia bermaksud makan di sekitar pintu gua namun ia berubah pikiran dan memilih membawa makanannya ke dalam, kembali duduk di lantai antara dua kurungan di mana Oleg dan Valerie ditahan.

Gorin mulai makan. Makanan selalu membikin perasaannya membaik. Rasa marahnya mulai reda dan ia tak lagi menggeram-geram ketika Oleg dan Valerie berdiri mendekati jeruji kurungannya masing-masing dan saling melihat keadaan satu sama lain. Oleg berantakan, luka gores dan lebam di beberapa tempat. Keadaan Valerie tak lebih baik. Pakaiannya koyak, luka di keningnya masih meneteskan darah, bibirnya pecah dan tangan kirinya tertekuk aneh, sepertinya patah. Melihat keadaan Valerie, Oleg diserang perasaan bersalah. Ia merasa idenya lah yang sudah membuat Valeria luka-luka seperti sekarang.

“Maafkan aku.”  Gorin menggeram pelan mendengar Oleg bicara pada Valerie.

“Bukan salahmu.” Gorin bermaksud menggeram lagi namun urung sebab mengunyah babi guling ternyata lebih menyenangkan daripada terus menggeram-geram.

“Mestinya aku tidak mengajakmu.”

“Aku yang meminta ikut.”

“Tapi aku membahayakanmu.”

“Hidupku sebelumnya sudah dalam bahaya.”

“Tak seberbahaya sekarang ini.”

“Aku tak keberatan.”

“Maafkan aku.”

“Berhentilah berkata maaf, Oleg! Aku tak pernah menyalahkanmu.”

Selama Oleg dan Valerie saling sahut dari dalam kurungan mereka masing-masing, Gorin masih duduk di antara mereka. Tetap sibuk mengunyah tentu saja. Setelah Oleg bicara, ia akan menengok ke kanan menunggu jawaban Valerie. Setelah Valerie bicara, ia pun menengok ke kiri menunggu jawaban Oleg. Diam-diam ia mulai merasa terhibur dengan percakapan dua manusia ini. Gorin telah benar-benar berhenti menggeram-geram, ia kini menjadi penyimak. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa sangat bijaksana. Ia bahkan mulai berpikir (raksasa Gorin, berpikir!) barangkali ia tidak perlu memakan si manusia lelaki. Hm..

“Kau luka-luka.”

“Kau juga.”

“Tak separah kau.”

“Sama saja.”

“Aku menyesal mengajakmu melarikan diri.”

Gorin menengok ke arah kanan, menunggu apa yang akan dikatakan Valerie. Kali ini tidak ada jawaban. Gorin menelengkan kepalanya, berusaha melihat Valerie lebih dekat dan ia terkejut. Manusia perempuan dalam kurungan di guanya ini menangis. Tidak, tidak. Ini tidak benar, pikir Gorin. Valerie tak pernah menangis. Sejak kali pertama Gorin menangkapnya di pintu gua, ia tak pernah melihat air mata Valerie. Valerie marah, memaki, berteriak, menjerit, melawan, tapi tidak menangis.

Oleg tak melihat itu. Ia sudah mundur dari jeruji kurungannya dan duduk di kegelapan dalam kurungan. Tak ada suara isakan sebab Valerie menangis tanpa suara. Ia tak suka menangis. Ia nyaris tak pernah menangis, tetapi air matanya terus mengalir begitu saja. Ia merasa kecewa lebih dari yang ia inginkan. Bahwa rencana melarikan diri mereka gagal, ia bisa menerima. Tetapi bahwa Oleg menyesal membawanya serta, itu membikinnya merasa begitu tak diinginkan. Bahkan kutu saja bisa membikin inangnya tak merasa terganggu, dan kini Valerie merasa dirinya lebih sia-sia daripada seekor kutu.

Gorin menggeram sedikit lalu mulai mengunyah lagi. Rasa laparnya tentu saja lebih keras kepala daripada rasa herannya. Valerie kembali bersuara,

“Di kehidupan sebelumnya, kau pasti umbi bawang tua.”

“Kau bicara apa?” Oleg kembali berdiri dan mendekati jeruji kayu.

“Di kehidupan sebelumnya, kau pasti umbi bawang tua.”

“Apa maksudmu?”

“Hanya bawang tua yang bisa membuatku mengeluarkan air mata.”

Oleg terdiam. Gorin berhenti mengunyah. Mulutnya masih penuh oleh daging dan beberapa potongan besar tulang. Tiba-tiba Gorin tertawa demikian kerasnya. Oleg dan Valerie terkejut.

“BAWANG TUA..!!! HAHAHAHAHAHA… BAWANG TUAAAA..!! HAHAHAHA..HAHA..”

Gorin tertawa makin gila. Badannya berguncang-guncang hebat. Cara Valerie mengatai Oleg sebagai bawang tua itu menurutnya adalah hal paling lucu yang pernah ia dengar di dunia. Bayangkan, bawang tua, umbi bawang tua! Valerie terkejut Gorin tiba-tiba tertawa, tetapi ia lebih terkejut mengetahui si tukang menggeram itu ternyata bisa bicara.

“Apa yang kau tertawakan?” Valerie harus berteriak untuk bertanya karena suara tawa Gorin begitu kerasnya.

“BAWANG.. HAHAHAHA..HAHA.. BAWANG TUA HAHAHAHA..HAA…” Gorin bangun dari duduknya dan makin terbahak-bahak. Ia berdiri sempoyongan.

Semendadak datangnya, tawa keras Gorin juga berhenti begitu tiba-tiba. Tubuh raksasanya mendadak berdiri tegang. Gorin mengejang, matanya membeliak, kedua tangannya mencengkeram leher. Mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara tercekik, Gorin gelagapan mencari udara. Setelah berdiri kejang menyedihkan tak lebih lama dari sepuluh kedipan mata manusia biasa, Gorin tumbang. Badannya berdebam di lantai gua. Kedua tangannya menimpa kurungan di kanan-kirinya. Valerie menjerit-jerit sementara Oleg berteriak menyuruhnya mundur sejauhnya ke arah dinding gua.

Kejadiannya begitu tiba-tiba. Gorin si raksasa malang mati tersedak tulang saat pertama kali dalam hidupnya dia merasa begitu bijaksana dan terhibur sedemikian rupa.

Kurungan Oleg dan Valerie berantakan tertimpa kedua tangan Gorin. Mereka mendekati Gorin yang tergeletak tanpa nyawa.

“Mati?”, bisik Valerie pada Oleg.

“Mati.”

“Kasihan. Padahal ternyata sepertinya dia bisa diajak bicara baik-baik.”

“Setidaknya dia sudah pernah merasakan tertawa begitu bahagia dalam hidupnya.”

“Umbi bawang tua.”

“Iya, umbi bawang tua.”

“Apakah itu lucu?”

“Mematikan lebih tepat sebenarnya.”

Leave a Reply