Page 1

MURAI BATU

Aku banyak tertawa namun lebih banyak merasa gemas.

“Kau tahu ia sudah menyia-nyiakanmu, menemuimu hanya saat bangkrut dan membutuhkan tumpangan atau makan siang, pendeknya ia mengadalimu habis. Kau sadar itu kan?”
“Sangat sadar.”
“Ia bahkan mencuri tulisanmu.”
“Yang lalu ia ikutkan lomba puisi di sebuah tabloid dan mendapat predikat puisi terpuji. Ya.”
“Dan setelahnya kau masih mau ia cium?”
“Betul. Tidak hanya mau dicium, aku juga membalas ciumannya.”
“Aku tidak mengerti perempuan.”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Tidak, aku tahu kau tidak bodoh.”
“Tidak bodoh, hanya tidak masuk akal? Kau pasti merasa sangat pintar sekarang, laki-laki.”

Selengkapnya »

Pepes Kemuliaan yang Dibungkus Daun Pisang. -sebuah bagian dari cerita yang (direncanakan) lebih panjang-

Barangkali inilah satu masa dalam hidup di mana aku paling banyak menghabiskan waktu tanpa kemana-mana, tinggal di rumah seperti beruang pemalas bersama satu manusia lain hasil reinkarnasi hewan laut berangka kalsium karbonat penyusun terumbu karang, Koral. Koral selalu sibuk membaca dan aku sibuk tak melakukan apa-apa. Di sore hari Koral akan menceritakan soal buruknya atau mengejutkannya atau betapa anjing –saking bagusnya– buku yang baru selesai ia baca, sementara aku sibuk memasukkan kue-kue ke dalam mulutku.

Selengkapnya »

Perempuan yang Melahirkan Berhala

Ibuku cantik. Ibuku lembut. Ibuku yang lembut dan cantik itu makin cantik karena ia tampak rapuh. Kau tahu kan, perempuan dengan tulang pipi yang tipis, mata yang redup, rambut yang halus, yang jika berjalan tampak seakan-akan ia sedikit melayang, yang jika kau bikin ia malu sedikit saja maka warna merah jambu akan menjalar cepat ke pipinya dan membuatmu ingin mendaratkan kecup di sana? Ibuku secantik itu. Ia punya sesuatu yang membuatmu akan seketika merasa harus turut menjaganya, ia seperti sesuatu yang mudah pecah, semacam vas bunga kristal yang kau lebih ingin menaruhnya di lemari kaca ketimbang meletakkannya di meja karena takut orang-orang ceroboh atau anak-anak nakal yang selalu berlarian akan menjatuhkannya.

Selengkapnya »

Rayi

Dia barangkali memang tidak tinggal lama denganku ibunya, tapi jelas sifat rapuh dan pelupaku menurun padanya dengan sempurna. Namanya Rayi. Rayi saja tanpa nama belakang. Rayi yang dalam bahasa Jawa krama halus berarti adik. Tentang kenapa anak sulungku kuberi nama itu, mungkin akan aku ceritakan lain kali saja. Rayi anak manis, hanya saja dia sedikit pelupa. Dia selalu lupa di mana menaruh kunci, di mana menaruh ponsel atau payung, dia lupa nama orang sesering dia tiba-tiba lupa apa yang dia akan katakan atau lakukan. Kadang aku curiga jangan-jangan ruang di kepalanya banyak dia habiskan untuk mengingat hal-hal yang beratnya seperti timbal dan tidak menyisakan tempat untuk hal-hal ringan.

Selengkapnya »