Page 1

Pertemuan dengan “R” yang Dilewatkan Pahlawan Anjing Liar.

Kami belum pernah bertemu. Aku pertama kali memimpikannya dua tahun yang lalu. Mimpi yang lumayan menurutku. Kau tahu lah, tidak buruk, tidak melibatkan orang gila yang mengejarku dengan membawa pacul atau orang-orang yang dibungkus seperti kepompong dan digantung terbalik di salah satu balkon rumah mewah menunggu untuk dijadikan kornet. Tidak cabul juga. Mimpiku tahu diri, bebas tapi sopan, seperti tulisan di stiker jadul yang sering dipasang di pintu kamar kos mahasiswi awal tahun ‘90-an. Pendeknya aku bermimpi baik mengenainya. Mimpi itu juga berwarna, bisa dibilang istimewa, tak pasti setahun tujuh kali aku bisa dapatkan mimpi mejikuhibiniu. Maka orang yang kumimpikan mestinya juga istimewa. Sebangunku dari tidur aku segera mencatat mimpiku di fitur catatan dalam ponsel.

Selengkapnya »

Cara Mati Dan Cara Selamat Yang Mengejutkan.

Gorin adalah sesosok raksasa yang hidup di sebuah dataran luas di belahan bumi sebelah utara. Ia tinggal dalam sebuah gua lapang di tengah hutan dan menahan seorang perempuan desa yang ia culik saat tersesat ketika mencari kayu bakar dan buah-buahan. Sebenarnya bukan Gorin yang benar-benar menculiknya seperti yang selalu ia banggakan pada seisi hutan, itu bualannya saja. Gorin terlalu dungu bahkan hanya untuk sekedar menculik manusia. Yang benar adalah, Valerie, si perempuan desa, terlalu dalam masuk hutan, sedang ia kebingungan mencari jalan pulang, tiba-tiba badai turun sangat hebat. Valerie mencari tempat berteduh dan menemukan sebuah gua yang sialnya adalah tempat tinggal Gorin. Gorin yang sedang duduk menahan lapar di kegelapan gua begitu senang melihat seorang manusia putus asa dan kebingungan di pintu guanya. Segera ia menangkap Valerie dengan tangannya seperti bocah menangkap anak ayam. Merasa lapar, ia hampir-hampir langsung memakan Valeria begitu saja. Tapi lalu ia ingat, ia belum pernah makan manusia sebelumnya. Apalagi manusia di tangannya nampak -ia tak yakin bagaimana ia mesti menyebutnya- cantik?

Selengkapnya »

Pemantik Api di Saku Baju Leira

Mataku hanya bisa menangkap dua warna, hitam dan putih. Tentu saja bagiku rumahmu juga berwarna hitam putih, ia luas seperti padepokan. Beberapa anak muda tinggal di sana menjadi muridmu. Rumah kayu dengan langit-langit tinggi itu ada di lereng sebuah bukit, sembunyi, seperti rumah pendekar penyendiri di cerita-cerita silat. Aku tidak yakin sedang musim apa tetapi di sana selalu berkabut dan di halaman ada banyak gelondongan kayu bakar yang menunggu dibelah.

Selengkapnya »

kupu-kupu hitam

Kurasa itu benar tanganku. Pada suatu malam mati lampu yang gerah ia  masuk melalui mulut, menelusuri kerongkonganmu dan sampai ke lambungmu yang asam. Tak kusangka lambungmu demikian luas, aku bisa memutar-mutar pergelangan tanganku di sana, sedikit peregangan tidak akan membuatmu mual bukan, sayang?

Selengkapnya »

Bus Kota Kata Kita

Pengap tentu saja.  Aku berada dalam semacam bus kota rombeng, jalannya lambat dengan mesin menggerung-gerung berat, jok di bangkunya apak, cuma ada dua lampu redup berdengung kasar seperti akan segera putus, dan di luar sepertinya malam.

Selengkapnya »

Bukan di manapun

Ini adalah cerita tentang sebuah beranda rahasia. Di sana sebuah balai-balai bambu menyudut tenang, dengan tikar pandan yang mengkilat karena seringnya diduduki, dan beberapa pot tanaman suplir yang dulu selalu kupandangi dengan takjub di rumah temanku pada masa kecilku. Kita hidup di masa televisi tidak ada, sehingga setiap lepas magrib, kita bisa mendengar sayup-sayup suara anak-anak belajar mengaji di surau dekat kolam Haji Ibrahim, kolam besar di mana setiap pagi dan sore Yu Mari merendam dandang tilasnya menanak nasi, kolam besar yang ketika hari terik anak-anak terpekik-pekik berlompatan menceburkan diri dan belajar nglangi.

Selengkapnya »