Page 1

Speak Up on Religious Discrimination at School

Published in Jakarta Post

Sati (not her real name) is a Hindu living in Jakarta. In 1991, she had to pose as a Muslim when she enrolled in a public elementary school for safety reasons. Consequently, she should attend every hour of the Islamic class and participated in the various activities of Islamic worship such as prayers and reading the Quran. This went on for ten years until she enrolled in senior high school.

Selengkapnya »

Pelesir, Dosa Besar Pelajar dengan Beasiswa

“Jalan-jalan terus, sekolah atau piknik, sih?”

Diucapkan kepada pelajar-pelajar dengan beasiswa, pertanyaan pendek yang cukup kiyut ini bisa dibawa ke dua jurusan: rajukan atau ungkapan kesebalan. Keduanya sama mengharukan. Sebagai pelajar kapiran, saya juga pernah dapat pertanyaan macam ini sekali-dua, meski saya terhitung fakir kalau soal jalan-jalan. Paling banter saya cuma cengar-cengir. Sederhana saja, saya memang nggak ngerti kenapa saya mesti menjawabnya.

Selengkapnya »

Bulan Gembira. Gembira namun Tenang.

‘Ramadhan mubarak. We wish all Muslims and their families all the blessings of the holy month.’

Demikian bunyi surel yang kami terima di hari pertama puasa dari liason officer AAS di Melbourne University. Generik dan pendek saja. Namun di waktu-waktu sedih seperti sekarang (beberapa hari setelah serangan bom di Manchester, pendudukan Marawi, bom bunuh diri di Kampung Melayu, juga penyerangan rombongan Kristen Kooptik di Mesir, semua diklaim atas nama organisasi ekstrim yang mendaku pejuang Islam), ucapan selamat Ramadhan dari mereka yang di luar Islam terasa berkali lipat lebih berarti. Sedikit menenangkan mengetahui masih ada orang-orang yang mempercayai bahwa tidak semua yang berlabel Islam adalah berbahaya atau tidak layak dihormati.

Selengkapnya »

Kursus Apa yang Akan Kau Ambil Saat Usia 69?

Masih pukul setengah sepuluh pagi saat itu. Tanda ‘tutup’ masih menggantung di pintu.

“Good morning, lah. Saya masuk ya! Boleh?”
“Sure!” Aku mempersilakannya masuk. Ia—seperti yang selalu ia lakukan—menaruh tasnya di tempat duduk di sudut kanan dalam restoran. Aku melanjutkan membersihkan meja kasir.
“Ini hari terakhir awak kemari, ya.” Ia bicara dalam campuran bahasa Inggris dan Malaysia.
“O, really? What happened?”
“Nothing, just because this is the last day of my course.”
“Oh, you are in a course, we never know. What course?”
“It’s a half year philosophy course.”
“How awesome is that!”
“Yea, I come from Geelong for my course every Thursday.”
“That is far.”
“Not really, all I do is just sitting on the train, it gives me time to think and meet new people.”
“Nice.”
“You dari Indonesia, ya? Is Jokowi good? At the beginning he was quite something.”
“Well, don’t you worry about us, we’re good at dealing with disappointment.”
“Ya.. Aren’t we all? Anyway, I’ll miss having breakfast here, though.”
“We welcome you anytime.”
“But I am not sure I can, at least for two or three months ahead. I am going to Shanghai.”
“O, really? For family visit?”
“No, I will have another course. A music course.”
“Cool. What instrument do you play?”
“It’s violin.”
“Wow. Such an enthusiasm I see there.”
“Just try to keep me busy. I learn a lot lately. I play music again. I am old, but I don’t want to be rusty like very soon.”
“Sir, you have more courage and energy than us, the young lazy ass.”
“Haha.. You will not be here, talking to me while working if you’re lazy.” Aku nyengir kuda.
“Are you a vegetarian?” Tanyaku saat melihat ia memilih menu sarapannya.
“Well, I am old. When you’re old, you put some more of concern on what you eat. Yes, I am vegetarian. A 69 years old vegetarian. How that sounds?”
“Wise.”
Ia ketawa. Aku balik bekerja sambil berpikir kelas apa yang akan aku ambil nanti saat usia 69.

Selengkapnya »

Pertanyaan Pemuda Afghanistan tentang Susu dan Kolom Rombeng di KTP

“Susu. Susu. Indonesian for milk is susu, right?”

Pemuda Afghanistan yang duduk persis di samping T, kawanku, kembali memotong pembicaraanku dan T, untuk ke-seratus tujuh puluh tiga kalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya maha penting sehingga mesti ditanyakan saat itu juga. Aku yakin pemuda ini tidak akan ragu menyogok lubang hidung T-Rex yang sedang berburu menggunakan batang bambu untuk sekedar memberitahu ndoro karnivora sebuah berita sensasional, “You know Kampung Arab? I’ve been there, It’s in Bo-ghor.”

Selengkapnya »