Page 1

MURAI BATU

Aku banyak tertawa namun lebih banyak merasa gemas.

“Kau tahu ia sudah menyia-nyiakanmu, menemuimu hanya saat bangkrut dan membutuhkan tumpangan atau makan siang, pendeknya ia mengadalimu habis. Kau sadar itu kan?”
“Sangat sadar.”
“Ia bahkan mencuri tulisanmu.”
“Yang lalu ia ikutkan lomba puisi di sebuah tabloid dan mendapat predikat puisi terpuji. Ya.”
“Dan setelahnya kau masih mau ia cium?”
“Betul. Tidak hanya mau dicium, aku juga membalas ciumannya.”
“Aku tidak mengerti perempuan.”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Tidak, aku tahu kau tidak bodoh.”
“Tidak bodoh, hanya tidak masuk akal? Kau pasti merasa sangat pintar sekarang, laki-laki.”

Selengkapnya »

Bar Bisu -sebuah bagian dari cerita yang (direncanakan) lebih panjang-

Kami tertarik untuk mendatangi sebuah bar di tepi laut, nama barnya: Bisu. Sesuai namanya, di bar itu kau tidak akan bisa mendengar suara orang bicara. Bukan berarti mereka benar-benar bisu, tetapi memang yang datang kesana adalah mereka yang lelah mendengar manusia bicara. Mereka ingin mengistirahatkan telinga dari omong kosong dan suara-suara yang kebanyakan tidak berguna. Kau tak harus menguasai bahasa isyarat untuk bisa masuk Bar Bisu, –tentu saja menguasai bahasa isyarat akan sangat membantu–, namun kau bisa menggunakan bahasa tubuh paling sederhana yang pernah dikenal manusia. Membentuk gelas dengan menggulung telapak tanganmu ke dalam menyerupai kepalan yang tak penuh lalu mendekatkannya ke mulut untuk memesan minum, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan untuk memesan dua gelas minum atau dua porsi makanan yang sama, atau menangkupkan kedua telapak tangan, menaruhnya di depan dada lalu menundukkan kepala dengan sedikit membungkukkan badan sambil tersenyum untuk menyampaikan terima kasih. Kau juga bisa membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan telunjukmu sebagai ganti kata “ok”. Hal-hal seperti itu.

Selengkapnya »