Di Jembatan Penyeberangan

 

kembali,
aku melihatnya di jembatan penyeberangan
rupa-rupa pertanda dan pertanyaan
pertanda yang membawamu menjauh
pertanyaan yang memaksamu mengaduh

tidakkah
kau merasa sesak seperti bis kota
sekaligus tua dan cemong persis kereta mati langkah
yang disemaki belukar di jatinegara ?

sore tidak pernah berubah
orang-orang
pulang
dan sebuah badai dimulailah

kita berebut jalan sembari menyampirkan kegelisahan
di pohon-pohon ranggas yang menunggu ditebang

kau kadang, nyaris selalu, kutahu
lebih ingin matihilang
dan menyaksikan kuku-kukumu menjelma kunang-kunang
menyenangkan hati bocah-bocah lugu
memilih dijebak di kelambu
ketika malam masih belum berlampu

 

(Jakarta, Januari 2009)

 

 

 

Leave a Reply