Dibuang Sayang.

Berikut ini beberapa tulisan (sangat) lama yang sudah kadaluwarsa, tapi sebagaimana takdir seorang penimbun barang bekas yang keras kepala, saya tak pernah tega membuangnya. Semoga tak terlalu makan tempat dan pikiran.

 

UNTUK DEBU

bulan tak pernah selamat sampai subuh.
cuaca sedang sulit, katanya.

gambargambar jatuh.
angin berkesiur tajam tibatiba.

sampai di lantai keduanya mati bersama.
siapa itu, mengunci mereka di laci kedap udara.

aku memecah diri lebih renik dari debu

: menjadi hantu.

 

TWO CIGARETS IN THE DARK

kau lukis dua batang rokok di kegelapan

pada kanvas yang tidak rata
kau saput garis tipis dan warna pucat

: sebab ini benar cinta
meski bagi mereka nampak sekelabu muslihat

ucapmu di salah satu percakapan kita
pada sebuah hari yang nyaris tak bersemburat

benarkah itu kita yang kulihat di sana ?
selalu terbakar namun namun tak pernah berkurang habis meski barang segaris-dua saja ?

kenapa masih bertanya ?
tukasmu sederhana

aku diam -tanpa pernah sempat paham-
: entah kita dikutuk atau apa,
tapi mengapa bahagia ?

 

PANTRY 502

kotak gula pasir di samping wajahku.

jauh di bawah jendela kaca
kota kita mulai kembali menjadi nota
mobil dan orang memutari jalan
enggan dan lamban

masih,
kucetak wajahmu di muka stempel setiap pagi
kubawa menandai satupersatu
mimpi yang kutunailunaskan lalu kumasukkan ke saku baju

kotak gula pasir di samping wajahku
kusimpan,
untuk mungkin -kelak entah kapan-
kau minta menemani kopi pahitmu

 

PASANG LAUT KETIGAPULUHTUJUH

ombak sedang tinggi
betapa kau pilih musim yang tepat untuk pergi
meninggalkanku dalam lapak
sempit dan apak

badanku dibujukbujuk maut
tepat benar kau pilih waktu untuk bersikeras melaut

mungkin butirbutir pasir yang menelusup dari tingkap angin
terhirup dan tinggal di paruparuku
darinya kudengar kau takkan kembali
kabar yang didesaukannya berulang di tiap sepenarikan nafasku

laut pasang penuh
tapi besok takkan kukumpulkan lokanlokan yang tertinggal di pantai
sebab kau takkan pulang bukan?
dan aku pun tak akan tinggal
sudah kubiarkan hatiku habis
dihisap balingbaling perahumu

 

KAU DAN LAMPU MERAH

aku mencintamu seperti mencinta

lampu
merah

mata sewarna luka yang paling setia
memintaku
istirah

 

ODE UNTUK ANAK IBU

sengaja kau jatuhkan lagi kunci di jalan, bukan ?
biar bisa tak pulang
biar bisa bermain-main di serba lima ribu
sembunyi di sisi rak tempat boneka hiu yang matanya hilang satu

kau masih jadi pembeli yang memburu bau ibumu
dan aku pramuniaga yang membantumu
menemukannya di tumpukan kapur barus stok tahun lalu

sendu

 

PEREMPUAN KAKI LANGIT

ia bisu,
seperti waktu

diberati belenggu di kaki,
memaksa melihat kepada langit
menahan payung dari amuk angin barat
demi nyala bulan kembar tiga di tangan kanannya

perempuan pasi dengan senyum sempurna
perempuan masai dengan duka tanpa purna

ia luka,
seperti waktu

: mencintai batu

 

SAMPAN

mengapa
kau
buang
kayuh
kita
ke
laut ?

 

PADAMU

angin minggu pagi ini
menggambar rindu
sewarna kelopak tapak dara
di sepanjang jalan sampai beranda baca-mu

-peta buta yang sulit kupercaya-

310808

 

BUNYI

kata katamu tak terlawan

“aku benar menjaga mu bukan?”

aku mengangguk rawan
memainkan segemerincing anak kunci di tangan kanan

: m e m p e l a j a r i b u n y i k e b o h o n g a n

 

SUNGAI YANG BERHULU DI BULAN

aku menemukan sungai yang berhulu di bulan

biar jadi arus untukku melarungkan rindu
karena bayanganmu sudah pecah jadi garis garis biru.

seumpama hari sudah jadi lebih teduh nanti,
aku tahu kau akan pulang lagi
dengan senyum kikuk itu
dan tipis kaca kaca di matamu
meski mungkin kau tak akan menatap lebih lama,
karena ikan ikan berlari
dan anak angsa berenang cepat sekali.

aku menemukan sungai yang berhulu di bulan

dengan sebuah perahu kertas hanyut tenang
menghitung mundur menuju tenggelam

: hatiku

 

SAJAK MEMOTONG JALAN

mungkin ku halau saja angin
matahariku sudah dingin
takkan sampai padaku bayanganmu sekalipun
setelah kau pecahkan cermin terakhir kemarin

mungkin kucegah saja mimpi mimpi
biar pagi tak menampariku lagi
dan aku bisa tetap jaga meski tanpa bunyibunyi

baik,
mungkin kupotong saja jalan ini
belok ke kiri sambil bernyanyinyanyi
kemudian barangkali

aku akan bisa sedikit berjarak dengan sunyi

 

KAU TAK PUNYA, BUKAN ?

kau tak punya bukan?
seorang pencerita yang bisa kau curi baca buku catatan rahasianya?
aku punya.
dia yang tak cuma mengisahkan mula asal kunangkunang
tapi juga memelukku ketika demam

kau tak punya bukan?
seorang pencerita yang sedia mengangsurkan teh hangat
setiap sebelum mengajakmu ke dunia di balik cermin?
aku punya.
dia yang paling setia mengirimiku angin beraroma seperti bunga padi
dari kipas bambu bundar yang kami beli di kereta api

sampai suatu musim yang bau dan warnanya aku lupa
kudapati tanganku tertahan di ujung lengan kemejanya,
mau kemana?

pergi ke luar angkasa sebentar, anak manis……

nah,
kau tidak punya bukan?
seorang pencerita yang menjanjikanmu partikel bintang?
aku punya,
sungguh!
ada di sana,

di ratusan tahun cahaya jauhnya.

 

SEPERTI AKU MENCINTAIMU

seperti aku mencintaimu

purnama merahasiakan bintang
noktah kecil yang setia menunjukkan arah utara

 

PEREMPUAN KENA HUJAN

musim pacet kesepuluh

kau masih berdiri berpayung dengan almanak cacat di tangan
menunggu perempuan kena hujan membawakan rumput teki
dan guguran bunga akasia yang menguningkan jalan jalan

ada yang menumpahkan jejak hujan dari pepohonan di atasmu

: itukah kau,
menyamar sebagai angin lagi, sayang?

 

LAKON LUKA

sudah terlampau paregreg

ketika kau mungkur dengan parang bermata bisu tersengkelit di pinggang

sepanjang kurusetra adalah sunyi yang memekik-mekik

seketika ombak mati

angin laut memilih pergi menyurung punggungmu yang sepi

kami cuma mengenalimu sebagai lindu tanpa titi mangsa

mangkat dengan warna merah pada sebuah sandikala yang lamur oleh halimun

pulanglah hanya jika mata kami telah benar-benar rabun

sebab cuma dalam keremangan kami mampu

menarikan lakon kalabendhu.

 

SETAPAK YANG HILANG

aku menemukan setapak yang hilang pada angin ribut di matamu
belokan dan persimpangannya sengkarut benar!
habisi saja aku lewat televisi yang kau pukuli setiap hari
serapah yang memekakkan semua lubang

-kebencian yang kau unduh dari kolong tanpa bayangbayang-

lalu aku akan kembali pada gambargambar hitam putih dan pensil tumpul
bersimpul mati dengan tungku dan timba
bersama batubatu di belakang rumah menyambit awan awan rendah

biar!

 

SURAT UNTUK NIN

aku tahu kau masih menungguku di balik pintu, Nin
setelah anak anak pergi tidur
dengan kelelahan yang kau pilin pilin menjadi simpul

tapi kau tahu malam ini pun aku tak bisa pulang, Nin
terlalu terlambat untuk mengenali senja senja yang pernah kujanjikan
ketika hari masih sangat siang dulu
atau tentang bibit bibit ikan hias
dan tunas pisang yang kubawa dari gunung lemah kepadamu

ah, rumput macam apa yang sudah menumbuhi pelataran, Nin?

masihkah kau kesulitan menutup jendela di waktu malam seperti waktu kutinggalkan berpuluh purnama yang lalu?
sedangkan aku sudah lupa hari
dan menyerah untuk mengeja kata
rumah

maka biar kulipati nama anak-anak kita
-yang kian terasa payau di ujung lidah-
lalu kuselipkan di antara bilik bilik bedeng
dan kutabung bersama kesunyian.

 

 

Image

 

(pic fr: http://rona-keller.deviantart.com/)

Leave a Reply