sebatas saling membaca.

 

Kudengar sekarang jalan itu sunyi sekali, membayangkan kau, atau aku, berjalan sendiri di sana, rasanya begitu ngungun-nya. Aku, mungkin sekali mencarimu, melongok setiap pagar, meski tahu tidak akan mungkin menemukanmu. Kau, mungkin tidak mencariku, hanya berjalan-jalan saja, seperti biasa, tanpa memikirkan satupun nama. Di setiap persimpangan kecil yang pernah aku lewati ketika menuju tempat tinggalmu, aku akan berhenti sebentar, atau malah berlalu dalam langkah yang buru-buru, takut ngilu oleh rindu. Semua orang sudah pergi, tidak meninggalkan tanda dan tidak kembali. Tinggal halaman-halaman sepi yang kebanyakan terpagar terkunci.

Aku ingin kembali, kadang. Aku takut kembali, kadang.

Apa yang disebut pulang? Sakramen terakhir sebelum pemakaman? Waktu yang ditelikung kehitaman tak berpintu? Kau tau aku masih orang yang sama, hanya lebih tak peduli pada duka.

Masa bodoh dengan keterlanjuran bukan? Kita mungkin akan jumpa, atau tidak selamanya, apa bedanya? Sebab meski saling memunggungi dengan menyimpan batu di hati masing masing, sesunguhnya kita masih sama sama selalu mengirim pesan dan tanda, melalui apa saja yang bisa disampaikan cuaca. Selamanya saling membaca, dan mesti merasa tercukupkan dengan sebatas saling membaca.

Leave a Reply