ceker ayam di kepala eL

Image

Iya, di atas itu tulisan tangan saya. Acak-acakan seperti cakar ayam memang, berbanding lurus sepertinya dengan visual penampakan dan ketidakteraturan pikiran saya. *Uhukk.

Jadi begini, suatu hari saya ngobrol dengan salah seorang teman lama. Sebenarnya sejak dulu saya tahu dia bisa membaca mimpi orang dan hal-hal sejenisnya, cuma belakangan baru tahu kalau dia juga membaca karakter orang dari tulisan tangan. Saya jadi penasaran sendiri pengin menguji apa pembacaan dia atas karakter saya, apakah pas, atau melenceng kesana kemari. Seru saja sepertinya. Demikianlah ikhwal tulisan ceker ayam itu dibikin, yang kemudian sambil cengar-cengir saya kirim kepada “dukun” dimaksud. Tulisan tangan itu berbunyi seperti ini:

Eeeengngng…… Nggak usah dibahas ding ya, kalau ada yang pengin tahu silakan pecahkan sandi rumput di atas aja ya, bisa sambil sekalian menguji tingkat kesabaran itu. ūüôā

Dua hari kemudian saya terima balasan. Kurang lebih begini pembacaan atas tulisan tangan saya:

“Hai eL, runyam bener ya nasibmu, ketika sudah¬†clear¬†¬†dengan perasaanmu, malah makian yang engkau dapatkan. Dan lelaki itu, ahh–, tak perlu lagi dikomentari, kan? ūüėÄ

Saya dapat memahami mengapa engkau mau bertemu. Tulisanmu menunjukkan watakmu yang tak bisa menyimpan masalah, suka menuntaskan masalah. Dan perasaan itu adalah masalahmu, sehingga perlu engkau uji. Pertemuan itu adalah caramu untuk menguji dirimu sendiri. Engkau berhasil, meski dengan¬†ending¬†yang tak diharapkan.Dari tulisanmu yang panjang itu, tampak engkau sosok yang berkarakter baik. Sedikit emosional memang, agak sensitif terhadap kritik langsung, tapi yang utama, kamu sosok yang sangat logis. Kelogisan itulah yang ”menolongmu” dari keterperangkapan masa lalu. Ya, kamu tampak susah lupa dengan masa lalu, terikat. Tapi uniknya, engkau juga punya perencanaan masa depan yang matang. Dua sisi marginmu tertolong dengan aspek logika yang amat bekerja.

Selain rasional, kamu juga teliti, dan taktis. Tidak suka hal yang rumit-rumit. Agak ”aneh” sebenarnya, karena di sisi lain, kamu juga imajinal dan agak emosional. Jadi, ada dua kutub di dalam karaktermu yang saling bertentangan, sehingga terkadang engkau harus berpikir keras sebelum memutuskan sebuah persoalan atau masalah. Untunglah, kamu nyaman dengan keintiman pertemanan, sehingga tak sulit untuk mencari jalan keluar jika menghadapi persoalan.

Dari sini sudah terlihat kan, mengapa engkau sampai bisa ”terperangkap” pada perasaan itu sekian lama. Dan juga, mengapa engkau dapat keluar dengan ”menang”. Karaktermu yang baik rupanya selalu memegang kendali.

Saya tertarik sekali dengan kombinasi huruf ”r” yang tampak sering tersambung dengan huruf yang lain. Posisi huruf itulah yang menjadi¬†keyword ¬†karaktermu di atas. Jika dikombinasikan dengan visual huruf ”K”, watakmu jadi kian menarik untuk ditelaah. Visualisasi ”K” itu menunjukkan tentang dirimu yang bersedia untuk berubah dan atau siap menghadapi situasi apa pun. Dan manisnya, kamu penjaga rahasia yang baik.

Selain itu, posisi¬†loop¬†atau balon dari beberapa huruf menceritakan tentang dirimu yang tak berani melawan arus umum. Engkau mungkin berani berada dalam situasi yang bertentangan dengan pendapat umum, tapi untuk melampauinya, saya ragu. Barangkali, itulah sebabnya, engkau berani bertemu dengan lelaki beristri tadi, dalam konteks ketika sudah merasa ”tidak akan terjadi apa pun”, atau ”semua terkendali”.¬†Cuma, konsistensi balon untuk huruf ”g, j, dan y” dijaga agar tidak terpecah ya? Sehingga semua yang engkau inginkan dan rencanakan, akan dengan cepat juga mewujud jadi kenyataan. Saya ikut bergembira dengan semua kebaikan watakmu. Sukses terus ya. Salam.”

Nah, begitulah watak saya menurut pembacaan dia atas tulisan tangan saya. Sejujurnya saya agak kaget juga dengan hasilnya, terlalu bagus, padahal saya merasa jauh lebih bobrok daripada itu. Hehe

Atau mungkin tanpa saya sadari tulisan saya bersiasat sendiri? Karena menurutnya lagi (dalam pembicaraan lain), saya adalah orang yang punya banyak taktik dan siasat. “Maksudmu aku seperti kancil, gitu Mas?”, protes saya. Dan dia cuma tertawa. Saya tentu saja saya ikut tertawa dong, nggak sopan lah ya ada orang tua dibiarin ketawa sendirian, nanti dikira gila kan kasihan.

Leave a Reply