Kabut Kesadaran, Leher Batang Daun Pepaya dan Anjing yang Bersiaga.

Berada di tepi sebuah ruangan, aku merasa goyah. Agak jauh, empat atau lima meter di depanku, seorang perempuan berambut ikal warna putih sangat panjang sedang terbaring dengan kesadaran yang melayang-layang beberapa inchi dari tubuhnya, tepatnya di atas kepalanya. Jika kau ingin tahu, ya, aku bisa melihat kesadaran yang melayang-layang tadi, ia berbentuk kabut asap tipis yang bergeliat-geliut dan kadang berpusar, setiap gerakan bola mata yang sedang membeliak milik perempuan itu selalu mengikuti gerakan kabut asap tipis di atas matanya. Mereka, sepasang mata membeliak dan kabut kesadaran yang melayang di atasnya, terkadang gemetar bersamaan.

Aku tidak tahu apakah yang ada di ruangan ini selainku juga bisa melihat kabut yang kuyakini adalah kesadaran si perempuan berwajah pualam yang aku tidak kuketahui ia siapa. Jika peri benar ada, aku yakin ia akan nampak seperti perempuan trance ini. Sementara bibirnya menggumamkan kata-kata yang tak jelas dan seringkali kedengaran seperti mantra, matanya yang terus membeliak menegaskan kelentikan bulu matanya yang hitam panjang. Aneh bukan, seluruh rambut di kepalanya putih belaka tetapi tidak bulu matanya, hitam tanpa cela.

Si perempuan peri dikelilingi beberapa orang, seorang laki-laki usia empat puluhan, wajah tampannya pasi dikuasai kekhawatiran. Di sekitarnya bersimpuh enam anak laki-laki usia belasan yang dari tempatku berdiri hanya nampak punggung. Bahu mereka terkadang naik turun, barangkali karena isakan. Aku -entah bagaimana- tahu si laki-laki dewasa adalah suaminya, dan bocah-bocah laki-laki adalah anak-anaknya. Yang aku tidak tahu adalah mengapa keenam anak laki-laki itu terlihat seusia.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi atau apa yang harus aku lakukan. Bola mata si perempuan masih membeliak-beliak, sentakan tubuhnya makin kuat, ia seperti melihat hal-hal yang jiwa dan tubuhnya tak sanggup tanggungkan. Aku melihat kabut kesadaran di atas kepalanya semakin lama semakin pekat. Dalam satu gelombang sentakan tubuh yang lebih kuat daripada sebelumnya, ia menjerit entah kepada siapa,

“Pengkhianat!!”

Tubuh si perempuan mengejang, kabut kelabu di atas kepalanya melesat menembus langit-langit ruangan.

Kemudian segalanya berhenti. Si perempuan peri mati.

Sementara itu, aku masih tidak paham apakah aku ini seorang manusia ataukah sebuah pintu ataukah hiasan dinding ataukah tirai jendela ataukah pelita ataukah kaki meja ataukah jambangan bunga.

——————–ooo——————–

Aku merasa hangat dan senang. Seorang perempuan muda berjalan di sampingku. Alyssa Soebandono. Sebenarnya aku merutuk juga dalam hati mengapa harus dia yang membikin perasaanku hangat dan senang sembari kami berjalan-jalan di tempat yang tidak kukenal ini. Dalam kehidupan nyata aku tidak pernah menyukainya. Iya, entah bagaimana aku sadar aku tidak sedang berada di dunia nyata. Jalan yang kami lewati ini tidak nyata, rambut hitam Alyssa yang tertiup angin dan kadang menyambar halus mukaku lalu meninggalkan bau harum buah-buahan tropis ini tidak nyata, tawa riang dan terkadang pukulan kecil di lenganku juga tidak nyata, lalu laki-laki itu, yang sedang berjalan dengan lagak sok alim menyebalkan ke arah kami itu juga tidak nyata.

Dude Harlino. Haram jadah itu kenapa pula bisa tiba-tiba muncul di antara aku dan Alyssa? Tanpa menyapaku atau apa dia mengajak perempuan yang sedang bersamaku pergi. Si perempuan menolak, si laki-laki -seperti biasa- memaksa. Semakin Alyssa menolak, semakin Dude menarik tangannya. Surat Yasin yang kuingat dibaca orang-orang saat peringatan kematian salah satu saudara ia rapalkan keras-keras. Ini seperti upaya pengusiran setan. Hei haram jadah, aku atau perempuan yang bersamaku dan sedang kau tarik-tarik tangannya itu bukan setan! Aku tahu ini tidak nyata, Alyssa tidak nyata, Dude tidak nyata, kegilaan ala pengusiran setan yang kusaksikan tidak nyata, kemarahan yang kurasakan tidak nyata. Toh tetap saja aku kemudian menyerang Dude Harlino, naik dengan liar ke punggungnya, lalu dengan satu sentakan tanganku memuntir lehernya.

HA! Mematahkan leher Dude Harlino ternyata ringan saja, seperti memotek batang daun pepaya. Dan percayalah, bagian memuntir leher itu terasa nyata.

Alyssa Soebandono bertepuk tangan gembira.

——————–ooo——————–

Sejak sangat kecil aku selalu suka sembunyi di semak-semak. Kadang-kadang ada semak yang harum segar, ada yang tajam gatal, ada yang berduri, pintar-pintar kita saja. Tidak pernah perlu alasan untuk melesakkan diri ke gerumbul semak. Sedang kesal, sedang lapar dan tak ada makanan, sedang malas, sedang gerah atau sedang curiga dan merencanakan sesuatu, semak selalu membikinmu merasa lebih nyaman dan aman.

Sudah lebih dari setengah jam aku sembunyi di balik semak agak tinggi di sisi luar pagar sebuah kebun. Aku sedang memata-matai sesuatu yang sampai saat ini belum menampakkan diri. Aku sebetulnya tidak terlalu yakin sedang mengawasi apa atau siapa, yang jelas ini sesuatu yang penting. Aku tidak boleh kemana-mana, aku mesti jaga dan tidak boleh lengah. Bagaimanapun, saat menunggu sesuatu yang tidak jelas, biasanya kita lama-kelamaan menjadi gelisah. Aku mulai gelisah. Aku merasakan dorongan untuk menggaruk badan. Perasaan ingin menggaruk yang tidak kupahami ini semakin kuat. Aku semakin gelisah. Saat sedang gelisah aku suka menghentak-hentakkan kakiku dengan cepat. Ini kali aku merasa kesulitan menghentak-cepatkan telapak kaki kananku. Terasa ada yang salah.

Aku menengok ke bawah untuk memeriksa keadaan kakiku. Aku terkejut melihat dua kaki depan yang berbulu coklat lebat panjang dan empat buah jari kecil yang menekuk ke dalam. Dengan gusar aku berusaha merentangkan jari-jari pendek itu dan empat buah kuku lancip tajam seketika mencuat keluar.

Oh, aku seekor anjing rupanya. Apakah aku sembunyi di gerumbul semak balik pagar sini sedang memata-matai kelinci tetangga?

Aduh! Aku ingin sekali berlari mengejar ekorku sendiri!

——————–ooo——————–

http://musukotyan.deviantart.com/art/dream-356370770

Leave a Reply