Kaki Goni

Aku asap yang melayang-layang. Di bawahku ada mumi. Mumi yang jelek. Perbannya kuning kusam. Tidak, tentu saja bentuknya tidak seperti aku. Tapi aku, si asap, merasa mumi itu aku.

Ada yang meniupkan sesuatu ke mumi jelek yang menurutku adalah aku. Semacam roh. Aku merasakan mumi itu hidup lagi. Tentu saja aku ikut merasakan, mumi itu kan aku.

Kehidupan menjalar mulai dari kepala, leher ke bawah perlahan-lahan bisa bergerak. Mumi jelek yang kuyakini adalah aku itu bangun dan duduk. Aku merasakan keinginannya untuk berdiri.

Tapi dia tidak bisa. Maksudku aku tidak bisa. Aku si asap, meneriaki aku si mumi, “Hei, kau tidak bisa berdiri, kau tidak punya kaki!”

Mumi menengok ke kanan dan ke kiri. Dia menemukan benang dan jarum. Segulung besar benang yang tebal, semacam benang untuk karung goni. Sebatang jarum jahit besar, jauh lebih besar dari jarum transfusi.

Mumi buruk rupa yang baru saja hidup lagi itu mulai memintal. Si mumi terus memintal dengan tenang. Si asap melihat dengan cemas.

Aku menyaksikan diriku yang lain menyulam kakiku sendiri.

Begitu jelek.

Begitu tabah.

 

 

Image

(pic fr: http://nuclearoctober.deviantart.com)

Leave a Reply