kupu-kupu hitam

Kurasa itu benar tanganku. Pada suatu malam mati lampu yang gerah ia  masuk melalui mulut, menelusuri kerongkonganmu dan sampai ke lambungmu yang asam. Tak kusangka lambungmu demikian luas, aku bisa memutar-mutar pergelangan tanganku di sana, sedikit peregangan tidak akan membuatmu mual bukan, sayang?

Benarlah seperti kau bilang, ada beberapa ngengat yang beterbangan di lambungmu, pantas saja kau selalu mengeluh kegelian di perutmu setiap bertemu perempuan gula-gula kapas yang baru saja kau kenal di pemberhentian bus di tepi kota. Kau sungguh terlalu, coba-coba memelihara lima ekor kupu-kupu di perutmu.  Kau tahu tenung? Kau tahu gendam? Kau tahu ilmu hitam? Sudah berapa kali kubilang pasti ada seseorang yang sedang berusaha membunuhmu pelan-pelan dengan mengirimkan benda-benda jahat ke dalam tubuhmu. Dan bisa-bisanya kau malah menganggap sihir itu membantumu melangkah lebih ringan. Tentu saja langkahmu terasa ringan, kau ini sedang setengah melayang! Makin hari makin tinggi sampai pada titik di mana kau tidak menemukan pegangan apa-apa dan gravitasi menarikmu habis ke bumi.

Apa yang kau pikirkan di kepalamu? Mestinya kau tahu kupu-kupu di lambungmu ini akan berusaha membunuhmu seperti yang lalu-lalu.

Kau akan sulit tidur, sulit makan, ringkih, sakit-sakitan, kau akan mulai menulis malam-malam, melamun siang-siang. Lalu tahu-tahu kau akan putus asa, datang padaku sambil meracau,

“Anjing memang. Semua perempuan yang baik selalu sudah dimiliki laki-laki lemah pikiran!”

Kau akan mulai berpikir tentang kematian, tentang nistanya keinginan-keinginan. Tentang manusia yang sebaiknya secepat mungkin dibinasakan. Tentang kanak-kanak yang disia-siakan. Aku akan amin amin di sudut ruangan, menawarimu minum, menawarimu makan, menawarimu selimut, menawarimu obat, menawarimu kertas, menawarimu pensil, menawarimu buku, menawarimu teka-teki silang, menawarimu tissue, menawarimu koran minggu, menawarimu lelucon seronok, menawarimu cerpen-cerpen yang buruk dan puisi-puisi buluk, lalu menari seperti badut. Kau tahu aku akan berakrobat seperti orang mabuk demi menjagamu tidak sampai mengucapkan satu kalimat paling kubenci,

“Aku lelah. Aku ingin berhenti.”

Tidak. Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu habis seperti itu lagi. Sehabis-habismu, aku akan lebih habis. Kau tidak berhak mati lalu membiarkanku sekarat selamanya. Jadi ini aku di sini sayang, dengan tangan kanan merogoh lambungmu, meraup kupu-kupu jahat yang selalu membikinmu kegelian dan kehilangan pikiran. Aku tidak akan membiarkanmu lebih kesakitan. Tidak akan. Bertahanlah sebentar, sejurus lagi aku selesai dan kau akan selamat. Kita akan selamat.

Leave a Reply