Layang untuk Anak Lanang (2)

 

Alismu sabit.

Pada redup tatap di bawahnya, bulan terbit.

 

Kau sisi dingin bantal kapuk.

Rinduku selalu keras kepala seperti kantuk.

 

Kalau tidak karena kau, barangkali aku tak akan pernah tahu bahwa bocah kecil pun mengerti apa itu kesadaran. Pada suatu malam kau demam begitu tingginya, empat puluh satu derajat celcius. Anak-anak lain barangkali sudah kejang, tapi kau masih mau berdiri meski goyah, tidak menangis, tak merengek. Kau terus bicara. Cerita apa saja. Lama kelamaan aku paham, kau sedang berusaha mempertahankan kesadaran.

“Truknya ada di garasi. Lagi bobo. Capek. Eh truknya belum mamam. Mamamnya telor. Telor ayam kampung. Athan mau telor. Tangkinya bobo juga. Warnanya cokelat. Athan mau cokelat. Yah tumpah cokelatnya. Tangkinya miring-miring sih. Jangan miring-miring tangki, tuh kan jadi tumpah susunya. Athan mau susu. Kemarin Om Arman naik genteng dadah sama Athan. Gentengnya bocor kayak ban. Kok nggak dipompa? Athan mau mie. Besok ya, mie-nya basi. Athan mau meises. Besok beli ya? Bunda kok udah pulang? Naik bis? Kok nggak pakai baju kerja? Bajunya bau angkot tuh.”

“Athan mau naik lift. Athan siram bunga. Bunga suplir. Disiramnya airnya banyak. Pakai selang. Kelapanya udah busuk kelapanya. Yah kok mati lampu? AC-nya jangan dimatiin. Ada kompresornya di dalem, nggak bisa dibuka tuh. Mau susu. Mau telor. Mau liat robot yang di bawah. Robot cuma satu baterainya. Pasang dulu baterainya. Lampu yang rumah depan udah mau jatuh. Eh robotnya sakit. Athan panas. Mau ke bawah. Rebus telor? Mau ke bawah. Entar dikagetin sama Om Arman. Bocor ya rumahnya. Sip! Bukan begitu. Sip! Cincinnya mana? Eh tadi ada AC yang gede-gede ya, di kantor. Nggak nyala, nggak dibunyiin. Itu ada ikan kaya di rumah kakak Dinda. Yah air mancurnya nggak keluar.”

“Di jalan tol nggak ada air mancur. Di rumah kakak Dinda pancurannya banyak, nggak keluar airnya, Dek. Airnya ikan nggak ada. Nggak keluar. Rusak. Belum dibetulin. Entar dibetulin sama pak satpam. Kalau pak tukang betulin bel. Ting! Oh mati lagi. Mati belnya. Belnya capek. Itu di dalem bel ada kipasnya. Kipasnya nggak nyala. Ting tong! Yah mati deh. Ada lampunya. Nggak ada lampunya. Kipasnya nggak muter. Yah. Kaya di cuci mobil itu, kaya mesin. Goyang-goyang. Kompressor gede. Di dalem ada kompressor kecil. Ada pompa air. Dua ya. Warnanya cokelat. Yah kempes mesinnya. Tuh mesinnya banyak. Punya Athan mau dinyalain. Gulung-gulung dulu trus dinyalain. Grung grung grung! Nah kipasnya muter deh.”

“Main ke rumah Fadlan. Siram rumput. Iya burung dikasih vitamin biar nggak batuk. Athar lupa minum madu. Madunya habis. Nggak ada madunya. Akuariumnya Teh Kiki dibuka itu ikannya. Entar gigit. Ikan nggak gigit ya, ga punya gigi. Yang punya gigi ikan hiu! Kaya buaya. Mesin kompressor. Tadi ada mobil yang gede di cuci mobil. Entar siang ya lihat kompressor yang kecil. Yang di cuci mobil kompressor yang gede. Athan nggak mau minum. Mau keluar. Satu menit. Athan mau ikut ke pintu. Tuh Athan panas. Dikompres. Trus pakai termometer. Pakai baju. Tos! Ya. Botolnya melepuh. Sakit botolnya. Botolnya melepuh. Kena panci.”

“Mana lego yang baru? Legonya yang baru sama tikus. Mau dimakan sama tikus legonya. Tikus jangan mamam lego Athan, mamam kardus aja. Rumah Athan ada tikusnya sedikit. Suka lewat kabel. Cit cit cit. Ada kakek di bulan lagi pakai teleskop. Teleskopnya udah jelek. Kakek lihat anak-anak pada terbang. Teleskopnya jelek banget sih! Kakeknya kok berdiri? Iya berdiri, kalau duduk terus pegel kakinya. Bila kuingat lelah ayah bunda bunda piara piara akan daku sehingga aku bersalah (nyanyi) Kok bersalah? Mana stetoskop? Serta dicium-dicium dimanjakan namanya kesayangan (nyanyi lagi). Athan kesayangan tembok.”

Nah, kalau nanti saat kau sudah cukup besar, membaca tulisan ini dan bertanya, betulkah kau mengatakan semua yang kusalin itu? Iya, betul. Kuberitahu, kau begitu cerewet seperti mesin penggilingan kata.

Kau tahu? Nenekmu, ibu dari ibumu sering bercerita satu hal tentang  ibumu saat ia masih bocah tiga tahun. Suatu pagi nenekmu menemukan bekas muntahan di dekat pintu, dia bertanya-tanya siapa yang muntah di situ, tak mungkin kucing, nenekmu tidak pernah memelihara kucing. Nenekmu lalu bertanya pada ibumu yang masih bocah tiga tahun itu, apakah dia yang muntah dekat pintu. Menurut cerita nenekmu, anaknya yang masih tiga tahun itulah yang pada malam hari merasa sakit, bangun sendiri dan keluar dari kamar lalu muntah di dekat pintu dan kembali tidur setelahnya, tanpa membangunkan siapapun. Ibumu selalu tertawa setiap nenekmu mengulang cerita itu, antara percaya dan tak percaya, mana ada anak tiga tahun mau repot begitu. Tapi kemudian, melihatmu terus berusaha nampak tidak sakit saat demam sedang tinggi-tingginya, mendengarkanmu terus bicara supaya tetap sadar, ibumu pada akhirnya percaya pada cerita nenekmu. Barangkali di rentang usia yang sama kita memang punya bakat yang sama: berusaha mengakali sakit.

Kelak, mudah-mudahan kau paham, bahwa dirimu adalah kesadaranmu. Ibumu kadang memang muluk-muluk. Untunglah (atau celakanya?) ia muluk dengan sadar. Ia sesungguhnya hanya ingin kau hati-hati dan selamat. Ia kadang merasa perlu meminta maaf untuk seringkali gagal melindungi dirinya sendiri dari pikiran atau situasi buruk. Ia sempat begitu ingin mengembalikanmu ke dalam kandungannya sebab takut tak akan mampu melindungimu dari dunia yang makin hari makin suntuk. Maafkan ia untuk sudah melahirkanmu kemudian mengajarkanmu nilai-nilai dan ini dan itu.

Semakin kesini kau akan makin banyak bertemu orang-orang, beberapa dari mereka akan membikinmu merasa tidak aman, ambillah jarak seperlumu dan bikin dirimu sendiri nyaman. Jika ada yang menegurmu saat malas mandi dengan. “Nanti Tuhan marah.”, ketahuilah Tuhan tidak seremeh bau keringat dan kuman.

Ah dasar ibumu memang selalu mbulet. Suatu ketika kau akan merasa bicaranya terlalu mengada-ada. Saat waktu itu tiba, kau sabarlah. Ingatkan ibumu masih punya hutang jawaban untuk soal yang kau lempar, menanyakan kenapa ibumu perempuan. Kau ini masih kecil sudah suka bikin ibumu gelagapan.

Selamat tiga tahun. Setahun kedepan ibumu akan menyuratimu lagi. Barangkali akan memalukan, tapi semoga kau tak bosan. Ibumu adalah pelupa yang perlu membantu dirinya sendiri dengan  menuliskan banyak pesan. Kau peka dan kuatlah menjadi manusia. Orang baik masih ada. Saat bertemu mereka, eman dan jagalah. Tentu saja kau boleh tetap ngeyel bahwa bulan sabit itu punya induk, kau boleh tetap menyembunyikan angin di kolong rahasiamu buat ditiupkan ke arah awan yang diam dan nampak bosan di hari siang supaya mereka bisa jalan-jalan, atau menasehati Fidel yang tidak mau membagi ikannya dengan kucing tetangga. Tapi terutama, sehat dan sukacitalah.

Peluk cium

Ibumu.

Image

~ Jakarta, Mei 2014.

Leave a Reply