Layang untuk Anak Lanang (3)

“Lihat, aku sudah bisa pakai sepatu sendiri!”
“Wah, iya. Berarti besok dibelikan sepatu yang bertali ya.”
“Kok beli sepatu lagi, kan aku sudah punya sepatu.”
“Iya, tapi sepatu yang bertali kan belum punya, biar kamu belajar ngikat tali sepatu sendiri juga.”
“Oke. Tapi aku panggil Kapten Amerika dulu ya!”
“Buat apa panggil Kapten Amerika segala?”
“Buat bantu aku ngikat tali sepatu lah…”

Salah satu kesenangan menjadi kanak-kanak adalah kau selalu bisa dan boleh menyusun skenario paling tidak mungkin, paling ngawur atau paling wagu sekali pun, dan orang-orang tetap akan mendengarkan tanpa mencibirmu. Aku akan terus menemanimu mengajak bicara Kakek Konon Tua untuk tidak membuang limbah pabrik lemnya yang lengket ke kolam ikan dekat tempat tinggal Lorax, atau membujuk Kakek Santiago supaya tidak bersedih karena berpuluh-puluh hari melaut dan tidak berhasil menangkap satu pun ikan.

Tugasmu selalu hanya satu: tumbuh.

Barang kali (bahkan bisa kubilang, pasti), aku tidak akan selalu di sisimu setiap waktu. Kau tentu tidak harus menjalani segala hal sendirian, tetapi akan ada beberapa situasi ketika kau memang harus dilepaskan, atau aku tidak dapat sepenuhnya turun tangan. Sesering mungkin aku yang akan datang kepadamu, bertanya macam hal sambil menawarimu pelukan. Di saat yang lain, kau lah yang akan menemukanku. Kau akan selalu tahu aku ada di mana, jika kau merasa perlu bertanya, atau jika aku ada alpa.

Akan selalu ada mereka yang ingin membuat segalanya jadi mudah bagimu. Saat kau menangis, mereka akan tergopoh mencarikan ini itu untuk segera membuatmu senang dan tangismu berhenti. Kau tahu aku hanya akan mendekatimu dan bicara padamu seperlunya. Aku tidak keberatan membiarkanmu menangis sampai berhenti dengan sendirinya sebab kau sadar, menangis membikinmu kehabisan tenaga. Menangis kadang bisa jadi sedikit melegakan, tetapi ia bukanlah senjata yang akan membawamu mendapatkan apa yang kau mau.

Tidak masalah orang lain akan menyebutku keras hati ketika aku mendiamkanmu saat kau berteriak-teriak marah. Kau tahu aku akan selalu menunggumu tenang. Meski satu atau dua kali mungkin akulah yang lebih butuh menyingkir dan memastikan diriku tak sampai meledak di depanmu. Tidak apa kalau aku harus jadi Si Orang Sulit yang tidak mengijinkanmu memukul anjing yang mengagetkanmu, memarahi pintu yang membentur kepalamu, atau menyalahkan batu yang membikinmu jatuh.

Aku akan selalu jadi yang pertama mengingatkanmu, bahwa semua kawanmu setara denganmu. Tidak ada yang lebih rendah dari dirimu sehingga memungkinkanmu melabeli dirimu sebagai “payah seperti si Pat atau si Pam” saat kau tidak berhasil melakukan sesuatu. Lagi pula, percayalah: satu, dua, tiga, bahkan berpuluh kegagalan tidak akan membikinmu jadi lebih rendah dari dirimu sebelumnya.

Kau berhak jadi pemalu. Kau boleh tidak suka naik ke panggung, sampai kau menemukan dirimu sendiri nyaman dan merasa bahwa tampil itu perlu. Tidak selalu segala sesuatu adalah tentang menang dan kalah, kewajiban dan hukuman, atau benar dan salah. Terkadang kau melakukan sesuatu karena kau merasa harus melakukannya, bukan demi nilai-nilai atau apa pun.

Aku mencintaimu dengan cara yang mudah dan yang tidak mudah. Aku melindungimu dengan cara yang paling nampak, juga dengan cara paling terselubung. Akan ada saat di mana kau tidak bisa melihat bagaimana sesuatu dariku terhubung dengan kebaikan atasmu, atau saat kau melihat aku hanya mengacau belaka. Barangkali aku semata-mata tengah berpikir sedemikian jauh (sesuatu yang pada akhirnya –aku yakin—kau dapat pahami), atau bisa jadi aku memang terang-terangan ingin merusuh saja, kau tahu, sebuah tatanan kadang mesti terus dipertanyakan, sebab ia belum tentu cukup layak untuk selalu kita percayai dan perjuangkan.

Aku bukan perempuan paling baik apalagi mulia. Tetapi aku akan berusaha keras agar kau sebisa mungkin dapat memerdekakan dan merayakan pikiranmu. Meski aku tetap tidak bisa bilang bahwa keseluruhan cintaku selalu semata untuk kebaikanmu, karena sesungguhnya, dengan sadar, seringkali kulakukan hal-hal tertentu demi ide dan pikiranku sendiri. Pada saatnya nanti, kau akan melakukan hal yang kurang lebih sama, dan dariku tidak akan ada tuntutan untuk selalu menjadikanku sebagai variabel tetap atas segala keputusanmu. Tentu saja, bahkan sampai setelah saat itu tiba, kau bisa tetap menyampaikan padaku hal-hal yang orang lain benar-benar tak ingin dengar atau bicarakan. Aku berjanji, seajaib-ajaibnya dunia, kita akan tetap memakai logika.

Peka dan kuatlah menjadi manusia.

Aku mencintaimu dan kita.

Jakarta, Mei 2015.

the symbol of hopes

Leave a Reply