Layang untuk Anak Lanang (4)

Aku perlu banyak meminta maaf. Aku nyaris mangkir dari menulis surat keempat ini kepadamu. Pada akhirnya aku menulisnya juga, meski tak tepat waktu.

Kau tahu? Keterikatan itu kadang-kadang menakutkan. Aku memahami bahwa aku tidak bisa melakukan apa pun atas keterikatanku padamu. Pada akhirnya aku hanya bisa mengandalkan kesadaranku untuk tak lantas merasa buruk karena pernah, sedang atau akan mengambil berjenis-jenis keputusan yang boleh jadi tak begitu menggembirakanmu. Jarak sungguh jahanam. Semua orang pernah ingin marah pada keadaan. Bagaimanapun, tak ada yang menyenangkan dari hidup sebagai pendendam. Apakah kau membolehkan ibumu untuk berdamai dengan jarak dan terus memelihara rasa eman?

Aku tak ingin melulu membicarakan keinginan-keinginanku atasmu pada hari lahirmu yang kelima beberapa waktu lalu. Kau di nadiku. Aku mencintaimu. Sudah tentu segala doa baik ada di situ. Aku cukup senang mengetahui kau bergembira dengan kawan-kawan di tempat belajarmu. Aku sungguh berharap kau benar-benar bergembira, sebab aku tahu, bagaimanapun kita punya kecenderungan yang sama, terlalu banyak perhatian bisa membikin kita merasa terganggu. Tapi kau, aku percaya, mampu menanganinya dengan lebih baik daripada ibumu.

Belakangan aku kerap gamang apakah aku akan cukup tabah menyaksikanmu tumbuh dan memastikan kau menjadi manusia baik. Orang-orang makin tak berperasaan dan tak pernah berhenti saling menyalahkan. Apa yang akan kau pikirkan dan lakukan saat kau mendengar seseorang diperkosa, bisakah kau tak menyalahkan korban atau membikin lelucon-lelucon buruk atasnya? Saat orang-orang tidak dapat berpikir bebas dan dilarang berpendapat, mungkinkah kau ikut teriak? Jika kawanmu membutuhkan pertolongan, akankah kau memberikan tangan? Kadang-kadang, hidup adalah persoalan hitungan. Bukan perkara pamrih, melainkan memastikan bahwa apa yang kau lakukan tak sia-sia. Kau tak bisa memaksa membela mereka yang tak memiliki kesadaran sebagai korban. Kau tak mungkin meluruskan jalan pikiran mereka yang tidak percaya kalau akau sehatnya sedang dilecehkan. Juga mustahil menolong siapapun yang tak ingin diselamatkan. Setiap orang, pada akhirnya, mesti bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing. Aku berharap aku akan punya cukup kekuatan untuk tak berisik dan mengusik, ketika pada saatnya nanti aku harus melepaskanmu dan merelakanmu membikin keputusan-keputusanmu sendiri. Sampai saat itu tiba, aku sebisa mungkin akan membagi sebanyak-banyaknya cerita. Apakah kau masih suka menanyakan kenapa Kakek Konon Tua suka membuang limbah pabrik lemnya ke kolam sehingga ikan-ikan kesulitan berenang?

Aku tak begitu suka mengucapkan banyak doa bagi orang lain di depan muka mereka. Bukan apa-apa, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang menjadi keinginan orang lain, bisa saja apa yang kita harapkan dan panjatkan keras-keras untuk terjadi padanya adalah hal yang diam-diam ia benci atau tak ingin ia alami sehingga pada akhirnya kita tanpa sadar malah menyakitinya. Barangkali ibumu berlebihan, tapi percayalah, ia tahu apa yang ia katakan.

Kesadaran. Alangkah kita mesti selalu memelihara kesadaran. Akan ada waktunya hidupmu dipenuhi kebingungan. Jalan, pada satu saat bisa jadi terlalu banyak cabang, satu tampak lebih menggiurkan daripada yang lain, atau semua tampak sama tak masuk akal dan menyulitkannya. Mana pun yang kau pilih, pilihlah dengan sadar. Termasuk–pada satu titik– sadar akan ketaksadaranmu dalam bersikap, menerima bahwa ketaksadaranmu bisa membawamu ke titik mana saja dan berusaha bersiap untuk segala hal setelahnya, sebisamu. Jika kau berpikir pada keadaan tertentu kau harus tak melakukan apa pun atas sesuatu hal, tanyakan kembali pada dirimu sendiri. Tak perlu merasa keliru sebab tak melakukan apapun, selama kau menyadarinya sebagai sebuah sikap dan kau yakin sudah memegang sebuah hitungan yang cermat.

Dewasa itu tidak enak tapi kita tak bisa terus menolak tumbuh.

Sementara itu, aku akan terus menemanimu, menemanimu, menemanimu, dalam cara yang aku tahu bisa jadi tak akan selalu mudah kau pahami. Menjadi urusanku untuk sebisa mungkin membantumu mengerti. Aku mengasihimu. Maafkan jika karena aku pernah hidup sulit, aku sempat ingin membikin segalanya mudah bagimu. Pada akhirnya kita tahu, kesukaran-kesukaranlah yang nantinya membentukmu.

Peka dan kuatlah menjadi manusia.

Aku berjanji kita akan terus bersama-sama belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Mencintai udara dan air bersih. Menghormati pohon-pohon dan binatang sebagai kawan. Memilah mana mimpi yang layak dihidupi dan mana yang tidak.

Menyadari diri dan kehidupan.

Selamat berumur lima.

Aku akan pulang untuk memelukmu sore ini. Janji.

One Response to “ Layang untuk Anak Lanang (4) ”

  1. dan gue pun mrebes mili bacanya….inget dadut

Leave a Reply