Layang untuk Anak Lanang

                

Aku mencium bau purnama di rambutmu.

Harum yang tipis seperti rindu.

Hangat yang samar seperti sebuah senyum malu-malu.

Selamatlah tidurmu.

Taruh kepalamu dekat jantung ibu.

Setiap detaknya adalah pesan cinta buatmu.

 

Kepadamu anak laki-laki yang lahir pada bulan ini dua tahun yang lalu. Kau yang sempat hampir kehilangan detak jantung dan tetap bertahan. Terimakasih untuk mata berbinar-binar yang selalu menenteramkan hati kami para manusia dewasa penggelisah.

Keriaan hidup ialah bisa melihatmu tertawa. Kau, manusia pertama paling suka tertawa yang pernah dilihat ibumu sepanjang hidupnya. Alangkah dengan ajaibnya kau bisa melihat hal-hal kecil menjadi nampak begitu menakjubkan: noda bekas nyamuk di tembok, titik kecil air di kaca jendela, berkas sinar matahari sore yang masuk melalui celah pintu, semuanya bisa menjadi sumber tawa dan kegembiraan bagimu. Merugilah kami, orang dewasa, karena selalu melalai-abaikan segala hal yang dengan pongahnya kami sebut sebagai remeh-temeh belaka.

Bermainmu seperti tidak kenal capai, ibumu jadi tahu dari mana kekuatan yang dia dapat saat mengandungmu sampai membikin orang-orang terheran-heran karena dia bisa tetap bergerak dengan begitu ringan. Terimakasih untuk membagi pengalaman tidur dengan pergelangan tangan yang selalu dilipat ke dalam, karena begitulah yang setiap malam ibumu lakukan saat mengandungmu dan berhenti dengan sendirinya saat kau sudah dilahirkan. Kemudian sekarang setiap malam ibumu akan dengan hati-hati meluruskan pergelangan tanganmu yang kau lipat saat tidur itu. Ia tahu bagaimana posisi itu bisa menyamankanmu dengan cara yang aneh, sekaligus tahu bahwa pemandangan pergelangan tangan yang terlipat seperti itu membikin orang yang melihatnya merasa ngilu dan kuatir kau akan merasa kesemutan saat bangun. Jadi maafkan ya, kalau ibumu sering mengubah letak tidurmu.

Kau tidak suka suara berisik, mudah kaget dan terbangun saat tidur, persis seperti ibumu. Tapi kau begitu menyukai musik. Musik apapun. Tanpa kecuali. Kau menyukai semua lagu anak-anak: Bintang Kecil, Pelangi-pelangi, Burung Kakatua, Cuppycake Song, dan lain-lain, dan lain-lainnya lagi, bahkan lagu Kumbaya yang selalu membikinmu sedih (dengan alasan yang cuma kamu saja yang tahu). Lalu kau suka Muse, Puddle of Mud, terakhir malah Iwan Fals. Tahukah kau, ibumu sampai bingung dia musti bilang “Aduh!” atau bagaimana.

Kau tumbuh menjadi anak yang tidak takut pada orang-orang. Setiap melihat ada anak-anak lain kau pasti tersenyum dan menyapa lebih dulu, tak sekalipun tidak. Kau sungguh telak mengalahkan orang tuamu dalam hal ini, Nak. Tahukah kau, ibumu selalu terharu setiap kali dia menyadari perasaanmu yang begitu halus? Saat kepalamu terbentur, kau justru yang meminta maaf sambil mengelus tembok, “Maaf tembok, maaf..”.  Saat sekali waktu ibumu kelepasan meneteskan air mata di depanmu, sambil mengusap pipi Ibumu kau dengan tenangnya bilang, “Cup cup, jangan nangis Bunda..” Duh, hati ibu mana yang tidak leleh Nak..

Setiap hari ada saja kalimat-kalimat baru yang mengejutkan ibumu. Suatu pagi kau melihat gambar awan di ponsel dan tiba-tiba bilang, “Mau main ke awan.. Ke atas naik balon..” Kali lain kau melihat langit sore hari, menarik-narik tangan ibumu dan berkata, “Ambilin awan sore-sore-nya dikiiitt aja..” Haha.. Iya Nak, awan itu memang kelihatan menyenangkan dan manis seperti gula-gula kapas ya? Lalu setiap pagi setelah meminta jendela dibuka kau akan dengan serius menanyakan kabar bulan, “Mana bulannya? Bulannya capek ya? Bobok bulannya. Bobok bulan.. Udah pagi bulan.. Gantian sama matahari, nanti capek. Dadah bulan..” Dan setelah terlongong-longong melihatmu mengobrol dengan bulan, ibumu akan memelukmu dan menghujanimu dengan ciuman-ciuman yang nanti, bisa jadi setelah kau besar, akan terasa menyebalkan.

Tahukah kau gelisahnya ibumu saat kau demam atau batuk? Dalam hatinya dia terus merapal mantra, semoga demam pada semua anak-anak di dunia diangkat dan diubah menjadi arus hangat yang menghibur ikan-ikan, semoga batuk pada semua anak-anak di dunia diangkat dan diubah menjadi petir buat menegaskan musim hujan yang menyuburkan. Kau mau kan Nak, membantu mengaminkan?

Bisa bermain-main dulu denganmu setiap pagi sebelum berangkat kemana-mana lalu pulang dan masih sempat mendongengimu sampai tertidur itu sebenar-benar kemewahan buat ibumu. Kemudian akhir pekan adalah waktu membayar hutang pelukan. Ibumu berhutang banyak sekali pelukan padamu Nak, banyak sekali. Tidak akan pernah terlunaskan walaupun seluruh hari Sabtu dan Minggu sepanjang hidup ibumu digabungkan lalu dipangkatkan sekian-sekian. Maafkan ibumu untuk itu ya, tolong maafkan.

Tumbuhlah Nak, kau tumbuhlah terus walaupun itu berarti akan makin banyak kepahitan yang kau temui. Tidak perlu jadi kerdil hanya untuk menemukan bahwa selalu ada sebagian dari kita yang tetap kanak-kanak dan terus ingin bermain-main. Peka dan kuatlah menjadi manusia. Sebab hidup ini bukan agar-agar yang empuk dan mudah dilumat, sebab  hidup seringkali terbikin dari kehilangan demi kehilangan. Tentu saja ibumu tidak mengharapkan hal-hal buruk terjadi padamu. Tetapi Nak, bahkan semudah-mudahnya kehidupan, tidak ada yang sama sekali tanpa kesulitan. Maka sadarilah diri dan pikiranmu. Banyak hal yang akan hilang, namun semoga kau selalu dilingkupi perasaan menemukan.

Ah, ibumu ini cerewet sekali ya? Sudah, kau bermainlah sana. Bermain sepuasmu. Kenali hujan, kenali sinar matahari. Kenali malam, kenali pagi. Tenanglah setiap sandikala. Manusia kecil yang suka tertawa dan senang berbagi pelukan, tetaplah hangat sampai kau dewasa dan tua. Kapan-kapan ibumu akan menulis surat buatmu lagi, dan barangkali nanti, saat kau sudah pintar membaca, kau akan menemukan tulisan ini dan bisa membantumu memahami ikhwal macam apa yang ada di kepala dan hati ibumu mengenaimu.

Terimakasih untuk dua tahun yang sangat meriah. Suatu saat kau akan paham, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada merentangkan tangan untuk seorang anak kecil yang bolak-balik tiba-tiba menghambur kepadamu sambil berseru, “Pelukaaannnn…!”. Atau yang setiap kau bilang “Sayang dong.”, dia langsung memanyun-manyunkan bibir minta dicium, dan dia mengijinkanmu mengecupnya di bibir. Istimewa bukan? Iya. Dan si istimewa itu, kau. Selalu kau.

 

Peluk cium.

 

Ibumu.

 

 

Image

 

 

~ Jakarta, Mei 2013.

Leave a Reply