Lou dan Anjing Betina

Dimuat di Jakarta Beat

Cemara

Picture taken from here

“SEMALAM, ada babi yang menaiki tubuhku.” Perempuan yang sama, dengan cerita mabuk yang lain. Dengan tenang ia melanjutkan cerita, “Ia mendengus seperti babi, terburu-buru seperti babi, berisik dan memuakkan seperti babi.”

“Kau menikmatinya?”

“Hanya jika aku babi betina.”

“Sedangkan kau adalah?”

“Anjing.”

Seembusan asap rokok melayang menjauhi wajah pucat Cemara, perempuan cantik bermata redup yang baru saja menyebut dirinya anjing.

“Kalau kau anjing, kenapa tak kau gigit saja dia?”

“Apa kau tidak paham? Kubilang ia babi, bodohnya juga seperti babi. Kalau kugigit dia, akan dikiranya aku mengikuti permainannya. Diam membujur seperti mayat lebih baik.”

Aku meringis, tidak tahu harus tertawa atau mengumpat ketika mendengar ceritanya itu.

Bara pada puntung rokok Cemara berdesis saat bertemu genangan air hujan di lubang kecil pada sudut bangku yang kami duduki. Akhir-akhir ini, hujan mulai sering turun lagi, air menggenang di mana-mana, jalanan semakin macet dan aku jarang bisa berlama-lama di taman kota. Hujan akan merusak wig keriting ungu di kepalaku, melunturkan riasan tebal di mukaku dan terutama menghapus lengkung senyum yang luar biasa lebar melewati garis bibirku. Yang paling merepotkan adalah kostumku yang besar dengan berlapis-lapis kain dan buntalan di perut, kalau sampai ia basah karena kena hujan, beratnya akan menjadi tidak keruan dan akan perlu waktu berhari-hari untuk mengeringkannya. Badut sepertiku, sebagaimana juga pengamen dan pengemis atau topeng monyet, tidak pernah menyukai musim hujan.

“Kenapa tak kau tinggalkan saja dia?” Lagi-lagi, pertanyaan bodoh keluar dari mulutku.

Cemara terdiam. Oh ya, tentu saja, diam yang sama seperti kemarin-kemarin, untuk pertanyaan basi yang dengan keras kepala meluncur kembali hari ini. Gerimis tipis turun, Cemara merapatkan jaketnya.

“Kau masih akan lama di sini?”

“Sepertinya tidak, akan repot kalau aku kehujanan.”

“Iya, kau benar. Hei, kenapa kau tak pernah membawa payung besar warna-warni seperti yang banyak dipakai ojek payung? Kalau hujan, kan, aku bisa menumpang.”

Apa aku tak salah dengar? Seorang badut gendut berhujan-hujan membawa payung warna-warni berukuran besar? Lucu benar apa yang dipikirkan Cemara ini, apakah aku masih kurang tampak bodoh baginya?

“Tidak ada payung yang muat melindungi perut gendutku dari hujan, kecuali aku mencabut payung taman yang menancap di bulevar depan situ.”

“Kau tak ingin mencobanya? Cabut saja payung besar yang ada di sana, barangkali polisi di pos depan tertarik untuk mengejarmu. Kita pasti akan tampak lucu, berpayung sangat besar, lari dikejar-kejar polisi di bawah hujan lebat.” Ia tampak bersemangat membayangkan kami repot berlarian di bawah hujan.

Cemara tertawa kecil, sementara aku mengernyit tidak mengerti letak kelucuan dari apa yang baru saja ia katakan.

“Lucu—di mananya? Aku, dengan perut gendutku ini, akan tampak menyedihkan. Kau tidak lihat sepatuku yang besar dan konyol ini tidak bisa dibawa berlari? Dan kalau kita tertangkap, polisi pasti lebih suka menghajar aku daripada perempuan sepertimu.”

Cemara menatapku, sepasang ekor alisnya naik. “Hei! Sebenarnya yang badut itu aku atau kamu? Kenapa harus selalu aku yang berusaha melucu dan kau yang terus-terusan menyangkal dengan pikiran kelewat realistismu itu?”

Aku mengangkat bahu.

“Kau tahu? Kau tidak pantas jadi badut.” Dengan kalimat pendek tajam itu, Cemara meninggalkanku. Dia akan kembali ke rumah mewah berpagar tinggi beberapa blok dari satu-satunya taman kota yang masih teduh ini.

Dua bocah kembar lucu akan menyambutnya dengan teriakan riang dan pelukan saat ia sudah sampai di rumah itu, seperti kali pertama aku datang ke rumah mereka beberapa bulan ke belakang.

Saat itu, aku dengan canggung turun dari becak, membunyikan terompet di depan pagar rumahnya, membawa puluhan balon warna-warni. Segerombolan anak usia taman kanak-kanak bertopi kerucut langsung terpekik senang dan menghambur mengerubungiku. Aku diundang ke pesta ulang tahun Elina dan Alina, bocah kembar terlucu sedunia, kedua anak Cemara.

SAAT ITU, aku datang ke rumah Cemara sebagai badut ulang tahun. Aku datang saat kawan satu kontrakanku, Hans, demam tinggi.

Hidup kami, aku dan Hans, sama-sama tidak mudah. Aku menjadi guru privat dengan sedikit murid, Hans jadi kutu loncat, ia bisa berganti pekerjaan hampir sebulan sekali. Terakhir kali, dia mencoba menjadi badut ulang tahun, dan tidak seperti biasa, kali ini ia bisa bertahan dengan satu pekerjaan lebih dari enam bulan lamanya. Hans adalah orang yang jenaka dan sering tertawa, dia suka pada anak-anak dan jelas menikmati pekerjaan barunya. Dekat hari di mana seharusnya ia datang menghibur di salah satu acara ulang tahun, Hans terkena tifus. Setiap pagi, demamnya mereda lalu menjadi-jadi lagi pada malam harinya. Saat sedang cukup sadar, ia memanggilku, menyuruhku duduk, memegang pergelangan tanganku dengan telapak tangannya yang berkeringat dingin.

“Tolong, bantu aku Lou. Sekali ini saja.” Suaranya mendesak, terdengar putus asa. Kau tahulah, dia memintaku menggantikannya menjadi badut di acara ulang tahun yang mestinya ia datangi. Tentu saja aku menolak, dan semakin aku menolak, semakin keras Hans mendesak.

“Aku sudah dibayar di muka. Tidak mungkin membatalkannya. Tolong. Kau tinggal pakai kostum, antarkan balon, melucu sedikit. Aku tahu kau pintar dengan harmonika dan tipuan kartumu. Ayolah. Jangan kecewakan anak-anak itu. Tolong.”

Aku tak pernah tahan mendengar kata tolong, apalagi jika ia diucapkan berkali-kali dari mulut kawan yang sakit. Jadilah aku berkostum badut, duduk dengan gelisah di atas becak Pak Umang langganan Hans lalu berakhir di pesta ulang tahun Elina dan Alina, putri kembar Cemara, perempuan yang percaya dirinya adalah anjing dan baru saja meninggalkanku di bangku taman kota.

Langit semakin gelap, aku berkemas, berjalan kaki ke arah gang kumuh dua kilometer dari tempatku bertemu Cemara. Sebuah becak mengangkut berbal-bal kain melintas pelan di sebelah kananku, seorang laki-laki paruh baya berkulit legam mengayuhnya dengan lesu. Aku bersyukur masih ada becak di kota ini. Aku pernah mendengar Hans bercerita tentang sebuah kota yang dengan begitu jahatnya membuang ribuan becak ke laut. Alangkah celaka jika becak hilang dari kota ini, salah satu mimpiku di suatu malam yang aku ingat begitu jelas, tidak akan pernah bisa terjadi: Seorang badut menarik becak, Cemara duduk memangku Alina sementara aku duduk di sebelah kirinya, memangku Elina. Aku bertanya-tanya apakah itu Hans yang menjadi tukang becak berkostum badut di belakang kami.

Hans adalah orang yang tidak tertebak. Kami saling kenal begitu lama tetapi tetap saja aku tidak pernah tahu esok hari dia akan pergi ke arah mana. Bersulap di taman kota beberapa hari sebelum aku menggantikannya membadut pada pesta ulang tahun di rumah Cemara adalah kali terakhir ia memakai kostum badutnya. Begitu demamnya reda, Hans mengatakan dia ingin menengok ibunya di kota asalnya. Membawa sebuah ransel yang tak penuh, Hans pulang, seminggu setelah itu pesan pendeknya datang, “Aku akan menikah dengan Fatima dan akan tinggal di sini. Perlengkapan badutku untukmu. Kau kawanku paling baik.”

Fatima, siapa Fatima? Kusangka Hans sudah menemukan jodohnya, kukira ia akan menikahi kostum badut, kenapa tiba-tiba dia menikah dengan seorang perempuan yang namanya belum pernah kudengar? Entahlah, pesan pendekku untuknya tidak pernah berbalas. Mudah-mudahan dia tidak akan berkirim pesan pendek mengejutkan yang lain padaku, “Aku akan kembali menjadi badut. Istriku Fatima, untukmu. Kau kawan paling baik.”

Selama bertahun-tahun tinggal di kota ini, Hans menjadi satu-satunya kawan yang kumiliki. Bukan berarti aku tidak kenal siapa pun lagi, tetapi kau tahu kan, kawan berbeda dengan kenalan, ia bahkan berbeda dengan teman. Kawan selalu membantumu merasa aman. Aku tidak suka bicara, dengan Hans pun demikian, tetapi setidaknya aku tidak sibuk menyembunyikan diri atau berusaha tidak terlihat saat bersamanya. Hans seperti perempuan, dia bisa mengomentari apa saja dan mengeluhkan segala hal, sekaligus menjadi yang paling rajin menertawai dirinya sendiri dengan lantang. Baginya, dunia ini sepi, karena itu ia perlu membikin panggung dan menciptakan ingar-bingar untuknya sendiri. Aku tidak pernah keberatan menjadi peran pembantu di belakang punggungnya, membantuku merasa terlibat sesuatu.

Hingga kemudian, tiba-tiba Hans mengemasi panggung dan meninggalkanku sebagai pemain figuran yang kebingungan. Aku harus mencari pemeran utama kembali, sesuatu yang padanya aku bisa melibatkan diri dengan cara paling sunyi.

KUAKUI aku adalah jenis manusia yang jarang bersyukur, tapi saat itu, saat Hans menyerahkan tugasnya membadut kepadaku, aku merasa sedikit beruntung.

Hans meninggalkan kostum badutnya untukku. Aku bisa melompat ke sana-kemari tanpa benar-benar dikenali, dikelilingi orang-orang asing yang merasa menjadi penonton tanpa menyadari bahwa merekalah yang sedang kuamati. Aku merasa memegang kendali. Kendali yang kulepaskan dengan senang hati dan kuletakkan di tangan Cemara setiap kami jumpa pada hari-hari yang tak pasti.

Aku seperti planet yang menemukan garis edarnya kembali, dengan Cemara sebagai matahari. Adakah yang lebih tenang dari benda langit tersesat yang menemukan orbit dan bisa merasakan gravitasi? Kalau kau paham maksudku, kau pasti mengerti saat sesekali kau melihatku tersenyum sendiri.

Kuberitahu, menjadi badut ulang tahun tidaklah terlalu buruk.

Awalnya memang aku merasa canggung dan sedikit panik, tetapi itu sepadan dengan yang kutemukan, Cemara.

Perempuan itu bertepuk tangan sambil melompat-lompat kecil saat melihatku datang membawakan balon dan membunyikan terompet di depan rumahnya. Ia ikut menghambur bersama Alina dan Elina ke arahku. Sementara anak-anak mengerubungiku, ia mendekat ke telingaku dan berbisik, “Terima kasih sudah datang.” Lalu, tanpa ragu mendaratkan ciuman ke pipi kiriku.

Oh, sungguh tidak ada yang lebih sempurna untuk menyembunyikan raut mukaku yang merah padam, bibirku yang tidak bisa berhenti tertarik ke atas dan hidungku yang mengembang memalukan selain bedak setebal cat dan lengkung senyum buatan berwarna merah cerah yang kelewat lebar sampai ke sisi kedua telinga. Seusai acara ulang tahun itu, Cemara menanyakan namaku, bagaimana dan di mana dia bisa menemuiku. Untuk berjaga-jaga saja, katanya.

Tanpa ragu kujawab, “Aku Lou, aku ada di taman kota setiap sore di hari Minggu.”

Kau boleh menyebutku berlebihan. Sepanjang hidupku, tidak pernah ada yang bisa membikin mukaku dijalari rasa panas yang menyenangkan seperti saat Cemara tanpa sungkan memberi kecupan kecil padaku. Rasanya seperti naik ayunan yang tinggi dengan pemandangan bagus di bawah sana. Kau terempas ke depan dan ke belakang, otot perutmu tegang oleh rasa senang yang sedikit mencurigakan. Saat itu terjadi, kau tidak takut jatuh, kau hanya ingin terus melayang dan merasakan angin yang melenakan. Ibu kandungku yang tak pernah kutahu seperti apa rupanya, tak pernah menciumku. Sebagaimana aku tak pernah dicium oleh ibu pemilik panti asuhan tua di tepi kota yang pernah aku tinggali saat kanak-kanak. Panti asuhan reyot itu ditutup empat tahun lalu karena tidak ada penyandang dana. Siapa sangka hanya dengan memakai kostum badut aku bisa merasakan sesuatu yang selama puluhan tahun tidak pernah kurasakan? Sesuatu yang bahkan sekadar membayangkannya pun bagiku selalu terasa terlalu berlebihan.

Aku pikir aku agak mabuk kepayang. Segera kuputuskan bahwa aku akan terus membadut setiap sempat, saat aku tidak sibuk menjadi guru privat. Aku mulai mencetak selebaran seperti yang Hans dulu buat, menempelkannya di tiang-tiang listrik dan telepon, tembok warung, sisi jembatan, pagar bangunan, papan-papan pengumuman di dekat sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Tidak banyak telepon yang masuk memanggilku membadut, aku tidak memusingkannya. Aku lebih suka berada di taman kota pada akhir pekan, bersulap, berpantomim, bermain harmonika, menerima uang sekadarnya dari orangtua yang anak-anaknya terhibur gembira. Cemara kadang datang, kadang tidak, kadang bersama anak-anaknya, kadang tidak.

Saat datang tanpa anak-anaknya, dia hanya akan duduk di salah satu bangku beton dekat lampu taman, diam, merokok. Aku melambai dari jauh, dia mengangguk, begitu saja. Baru beberapa minggu terakhir ini saja beberapa kali aku memberanikan diri menyapanya. Saban kali kami berbincang, saban kali itu pula lah aku dikejutkan dengan cerita-ceritanya yang ajaib dan mengusik. Aku sendiri tidak pernah betul-betul paham mengapa ia mau bercerita kepadaku. Barangkali karena muka badutku membikinku nampak tolol. Kau tahu kan, orang tolol selalu mudah dibikin terpesona dengan segala macam cerita, yang paling tak masuk akal sekalipun.

TEPAT setengah bulan sejak Cemara pergi dengan kesal dan bersungut-sungut mengataiku tidak pantas menjadi badut, aku kembali melihatnya duduk sendiri di taman kota. Setelah beres mengemasi perlengkapan membadutku, aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia menyapaku lebih dulu, “Halo Lou. Kau kelihatan agak tampan hari ini.”

Entah dia tengah mengejekku atau apa, tetapi tetap saja aku tidak bisa tak tersenyum. Iya, wajah badutku memang selalu tersenyum lebar, tapi—maksudku—kali ini aku benar-benar tersenyum.

“Apa kabar Si Kembar?”

“Baik.”

“Apa kabar kau?”

“Aku baik. Elmira yang tidak baik.”

“Oh, Elmira?” tanyaku.

“Iya, Elmira. Dia mimpi buruk terus. Akhir-akhir ini, dia selalu murung dan benci sinar matahari. Aku sudah bikinkan ayunan, dia tetap tidak mau bermain. Dia selalu ingin sembunyi. Kalau kutanya, ia menangis. Setelah terus-menerus kubujuk, akhirnya dia mau bercerita. Katanya, ada raksasa yang suka membawanya ke gudang, menindih tubuhnya, melucuti bajunya, menciuminya di semua tempat dan menyakitinya di pangkal paha. Dia bilang, dia sudah minta ampun dan terus menangis, tapi raksasa itu tidak mau melepaskannya, dan akhir-akhir ini si raksasa makin sering datang. Elmira diperkosa, Lou.”

“Elmira?” tanyaku lagi. Aku belum pernah mengenal nama itu sebelumnya. Setahuku Cemara tak pernah menyebut nama Elmira.

“Iya, Elmira. Dulu dia punya banyak kawan bermain, lalu semuanya pergi karena dia terlalu murung. Sekarang, dia sendirian. Suatu saat, aku benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri, raksasa itu mendatanginya lagi, aku berteriak-teriak menyuruhnya lari, tapi Elmira tidak bisa bergerak, dia cuma berdiri diam gemetaran, lalu raksasa itu mencapainya dan membaringkannya. Aku terus berteriak-teriak menyuruhnya melawan, tapi semuanya tetap terjadi.”

Tangan kanan Cemara yang memegang rokok kini gemetar. Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana. Elmira dan raksasa? Aku benar-benar tidak paham dengan ceritanya.

“Tentang Elmira, kenapa kau tidak menolongnya sendiri? Kau tidak melaporkan kejadian itu ke polisi?”

“Tidak bisa, tidak bisa begitu! Lou, kau harus menghiburnya, kau harus menghibur Elmira.”

“Aku? Tetapi aku tidak mengerti ceritamu.”

Cemara terdiam saat memandangku, gemetar pada tangannya sudah berhenti. Perempuan ini benar-benar membingungkanku. Ke mana perempuan yang selalu tampak hangat dan penuh tawa saat bersama anak-anaknya? Aku ragu apakah orang yang berada di sebelahku adalah Cemara yang sama dengan Cemara yang biasanya.

“Jadi, kau tidak mau menghibur Elmira?”

“Bukan begitu maksudku,” jawabku.

“Baiklah, aku pulang. Percakapan ini tidak berguna.”

Begitu saja, Cemara bangun lalu berjalan pergi. Sial! Apakah semua perempuan selalu bersikap membingungkan seperti ini?

Aku mengejarnya.

“Tunggu sebentar! Mungkin aku bisa coba. Aku bisa temui Elmira di mana?”

Cemara berbalik, menempelkan telunjuk kanannya ke pelipisnya sendiri, “Di sini Lou, di kepalaku.”

Percayalah, merasa terkejut—di saat kau memakai riasan badut tersenyum lebar—sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Kau akan merasa seakan-akan kepalamu diputar paksa ke belakang, sedangkan kakimu ngotot berjalan ke depan.

Aku masih terbengong-bengong dan pasti tampak tolol, sementara Cemara sudah berjalan menjauhi taman.

Sesuatu mengetuk kepalaku. Perempuan itu baru saja bercerita tentang dirinya, bodoh! Elmira dan Cemara adalah perempuan yang sama, si anjing betina yang menderita. Dasar kau badut tolol!

Begitulah. Setelah ceritanya tentang Elmira, Cemara kadang masih datang ke taman bersama Elina dan Alina. Ia tiba dengan wajah hangat, penuh senyum dan ramah. Pada kedatangannya yang lain, dia akan duduk sendiri dengan rokok di tangan, pandang mata kosong dan cerita-ceritanya yang ajaib. Dia kerap mengeluhkan betapa aku selalu jadi tidak lucu setiap berada di dekatnya, menurutnya hanya kostum dan muka konyolku saja yang menyelamatkanku dari tampak mengenaskan. Ia suka dengan sadis menjadikanku sebagai lelucon, membikinku bersungut-sungut, kemudian dia kesal sendiri dan pergi. Aku tidak mengerti, di dekatnya aku selalu lupa bahwa aku adalah badut yang mestinya melucu habis.

Minggu depan, aku akan ke taman kota lagi, mungkin aku bisa mendengarkan cerita-ceritanya kembali, menunggu saat ia menyebut dirinya perempuan berani yang akan pergi, meninggalkan babi jahat yang sering menaikinya di malam hari.

Leave a Reply