Maryoto Bin Joyokarto

Mbah Kakung (kiri) rada sangar orangnya. Waktu berfoto di Candi Borobudur, Mbah Kakung seperti Ali Topan. Duduk dengan setengah membuang muka dari kamera, berkacamata hitam, jaket kulit disampirkan di pundak. Di sebelahnya, aku yang berumur 5 tahun tampak seperti bolu emprit.

Saat aku masih sering mengaji di TPA, setiap ia mengantarku pakai motor Honda Astrea 800 merahnya, Mbah selalu dikira sebagai bapakku. Aku iya-iya saja karena aku suka teman-teman mengajiku takut sama tampang galaknya. Kata banyak orang–termasuk orang tua kawan-kawan SMPku–saat Mbah masih jadi kepala sekolah, ia memang galak minta ampun.

Mbah Kakung dulu sering mengisap rokok cap Djeruk. Bau asapnya kayak ketiak juru rajang tembakau. Aku pernah nyolong satu batang, menyulut lalu menghisapnya diam-diam dan berakhir batuk rejan.

Mbah Kakung senang melarang.

Aku dilarang mandi di Kali Putih. Aku dilarang belajar naik motor. Aku dilarang pergi kemah. Aku sangat, SANGAT, dilarang naik gunung. Aku dilarang daftar kuliah ke jurusan Hukum dengan alasan takut nanti enggak adil (lalu kemana harus kusalurkan bakat judgmental-ku ini, Mbah?).

Aku senang membandel.

Aku tetap mandi di Kali Putih sama Mbak Ulan. Aku sering mengendap menyambar kunci motor dan curi-curi belajar mengendarainya. Aku minta dibikinkan surat ijin berkemah jadi-jadian pakai kop sekolah sama teman. Aku bilang menginap di rumah Wati padahal naik Merbabu. Aku tidak nekat masuk fakultas Hukum sih, karena aku miskin sampai ke tulang.

Kadang-kadang kami bisa rukun juga, jalan ke Utara menyusuri irigasi sepanjang Kali Putih buat ‘mbedhah banyu’, membuka jalan air. Setelahnya kami jalan balik ke Selatan, menunggu dengan tenteram di pinggir saluran air sisi petak sawah Simbah. Saat menunggu air begitu, Mbah Kakung suka nembang, ‘endhas ula, banyu téka’ (kepala ular, air datang). Aku enggak pernah mau saat disuruh mengiringinya dengan tepuk tangan. Gengsi mesti dijaga.

Tulisan Jawa Mbah Kakung bagus sekali. Karena sebal pada pelajaran menulis huruf Jawa saat SMP, aku selalu minta Mbah Kakung mengerjakan PR Bahasa Jawaku. Sampai sekarang aku enggak habis pikir kenapa Mbah mau. Meski begitu, nilai Bahasa Jawaku tetap nggak pernah bagus karena aku nggak bisa pasang Mbah Kakung buat jadi joki ujian.

Siang tadi sebelum pemakaman, adikku bilang padaku kalau Mbah Kakung suka membaca dan mengumpulkan tulisan-tulisan isengku saat SMA yang sering tercecer di mana-mana. Konon Mbah bilang tulisanku lucu dan sering bikin ia ketawa-tawa. Aku curiga Mbah menertawai caraku menangisi kehidupan.

Di hari-hari akhirnya, Mbah Kakung sangat pelupa, namun saat masih bisa duduk di kursi roda, ia terhitung cukup banyak tertawa.

Aku kini mengenang semua kegalakan dan larangan-larangannya sebagai semata-mata tanda éman.

Sugeng tindak, Mbah Kakung. Sugeng istirahat.

Leave a Reply