Muka Kedua

 

Begini. Kau tahu kan, kau bertopeng.

Saking menyatunya kau dengan topengmu, ia dengan leluasa mengunci diri di mukamu. Menempel mati. Kalian kemana-mana bersama. Naik bus bersama, bekerja bersama, makan bersama, tidur bersama, bermain bersama, bicara bersama, bernyanyi bersama, senang bersama, bosan bersama, tertawa bersama, lari bersama, berhenti bersama, apa saja bersama. Sampai kau lupa, sampai kau tidak lagi sadar, bahwa muka yang tersenyum atau memberengut setiap hari bersamamu itu cuma topeng, bukan wajahmu yang sebenarnya.

Suatu ketika kau bertemu seseorang yang entah dengan cara bagaimana bisa membuatmu sadar bahwa kau masih punya muka lain di balik ia yang selalu kau tampakkan, yang bisa membuatmu memaki sembari merasa takjub, “Oh tidak, aku bertemu manusia yang segelombang! Sialan.” Lalu kau merasa semacam menemukan kunci rahasia, kunci yang baru kau tahu ia ada. Kunci yang kau lihat melekat di tangan manusia segelombang-mu itu. Kunci yang bisa membuka topeng di wajahmu. Kunci yang kau percayai cuma satu-satunya di dunia.

Kemudian kau berlatih membongkar-pasang topengmu. Setiap pikiran kalian bertemu, kau jadi orang yang sama sekali lain. Kau merasa menjadi semakin getir namun kau merasa perubahan itu manis. Kau merasa segalanya istimewa, apa saja yang kalian percayai bersama, yang kalian pahami atau yang kalian tengkarkan adalah sesuatu yang mahal. Tentu saja mahal, cuma di waktu-waktu yang paling rawan itu kau bisa telanjang menjadi manusia. Tidak ada yang lebih mahal dari itu bukan?

Kadang-kadang kau lupa, kau lupa bahwa lebih banyak hal yang perlu kau sadari, bahwa istimewa itu tidak ada, bahwa segalanya adalah biasa saja. Bahwa menilai sesuatu itu lebih atau kurang berarti daripada sesuatu yang lain adalah keputusan sepihak yang dilakukan pikiran masing-masing manusia. Kau bisa menempatkan orang lain di kepalamu setinggi atau serendah inginmu, tapi mengenai kau di kepala orang lain? Sesungguhnya kau tidak tahu apa-apa dan tidak bisa mengapa-apakan. Kau lupa kan? Iya kau lupa. Kau sudah terlalu mempercayai pikiran dan penilaianmu sendiri.

Kau tidak usah terkejut begitu, saat tahu bahwa segala hal yang kau selama ini hanya bicarakan dengan sangat terbatas, yang kau utarakan sedemikian jarang dan rahasia, ternyata bisa dibicarakan di mana-mana dengan siapa saja. Tidak hanya denganmu. Tidak hanya untuk telingamu. Ada yang salah dengan itu? Tentu saja tidak. Keterbatasan ruang dan keadaanmu yang kau sebut sebagai alasan akan ketidakbebasanmu itu adalah bikinanmu sendiri. Benar-benar ekor dari segala keputusan yang kau bikin kemarin, kemarin dulu, dan dulunya lagi.

Kau memilih apa yang kau pelajari, kau mengambil jalan yang sekarang kau lalui, kau yang memilah siapa-siapa yang bisa ada di sekitarmu, yang mengelilingimu, yang ada dalam jangkauan penglihatan, dan raba-dengarmu. Kau yang memilih, mengambil dan memakaikan sendiri, sekali lagi, me-ma-kai-kan sen-di-ri topeng ke mukamu. Ingat?

Jadi sudah paham ya, tentang kenapa kau begitu gagu menyampaikan hal-hal yang kau ingin teriakkan, tentang kenapa kau tidak bisa pergi ke tempat yang kau ingin datangi, atau kenapa kau kesulitan mendengar apa yang ingin telingamu tangkap, juga kenapa kau begitu sering disalahpahami. Itu bukan kesalahan orang lain. Itu pekerjaanmu sendiri. Kau yang membatasi diri dengan pagar yang menurutmu semakin hari semakin duri.

Dan untunglah, tidak semua orang sepertimu. Yang mau repot-repot bertopeng begitu. Mereka bisa bicara apa saja kepada siapa saja tanpa perlu memusingkan apa-apa. Orang-orang yang memiliki diri mereka sendiri, menguasai kepala dan pikiran sampai kaki mereka sendiri. Mereka bisa berjalan kemanapun mereka benar-benar maui, yang di bahunya tidak terpasang kekang dari tali jenis apapun. Orang-orang yang terberkati.

Dan kau. Terserah kau. Mau kau bawa kemana jalanmu. Mau kau apakan topengmu. Kau bisa melepasnya tentu, kalau kau mau. Atau terus (seakan-akan) merasa nyaman dengan muka keduamu, menghitung untung-rugi menjadi manusia “baru” kemudian berhenti di niat dan ragu. Semacam terus melacur, sekaligus mengeledaikan diri.

Begitu ya? Iya.

 

 

Image

(pic fr: http://l-eclipse.deviantart.com/art/mask-52441492)

Leave a Reply