MURAI BATU

Gambar dari http://orig02.deviantart.net/4bb5/f/2008/012/0/2/my_little_bird_______iv_by_mehmeturgut.jpg

Gambar dari http://orig02.deviantart.net/4bb5/f/2008/012/0/2/my_little_bird_______iv_by_mehmeturgut.jpg

Aku banyak tertawa namun lebih banyak merasa gemas.

“Kau tahu ia sudah menyia-nyiakanmu, menemuimu hanya saat bangkrut dan membutuhkan tumpangan atau makan siang, pendeknya ia mengadalimu habis. Kau sadar itu kan?”
“Sangat sadar.”
“Ia bahkan mencuri tulisanmu.”
“Yang lalu ia ikutkan lomba puisi di sebuah tabloid dan mendapat predikat puisi terpuji. Ya.”
“Dan setelahnya kau masih mau ia cium?”
“Betul. Tidak hanya mau dicium, aku juga membalas ciumannya.”
“Aku tidak mengerti perempuan.”
“Menurutmu aku bodoh?”
“Tidak, aku tahu kau tidak bodoh.”
“Tidak bodoh, hanya tidak masuk akal? Kau pasti merasa sangat pintar sekarang, laki-laki.”

Aku mengeluarkan cengiran kuda.

“Apakah segala yang tidak berhasil kalian mengerti selalu kalian anggap tidak masuk akal?”
“Tentu saja. Tidak masuk di akal kami.”
“Kalau begitu, berpikir kalian masih kurang panjang.”

Aku tertawa, hampir tersedak asap kretek sendiri.

“Baiklah kalau begitu, perempuan tidak masuk akal yang tidak mau disebut tak masuk akal, kenapa kau mau berciuman dengan cecunguk itu setelah semua perlakuannya padamu?”
“Kau yakin akal maskulinmu tidak akan tersinggung dan mampu menerima penjelasanku?”
“Aku berjanji menjadi anak manis yang haus ilmu.”

Mendengar itu, perempuan di depanku memutar kedua bola matanya. Ia menyulut rokok keduanya, menghisapnya dengan tenang dan menghembuskan asapnya pelan-pelan.

“Aku menciumnya untuk menghukumnya.”

Tawaku menyembur. Aku buru-buru meletakkan rokok yang masih menyala ke asbak sebab khawatir ia akan mencelat dari jepitan jariku saking aku merasa demikian geli.

“Kalian senang sekali menertawai hal yang tidak kalian pahami.”

Ia benar. Aku masih tertawa. Dan tidak paham, tentu saja.

“Awalnya aku hanya berniat bilang akan pergi ke luar pulau. Aku sudah memegang tiket untuk keesokan harinya. Ia tidak tahu, malah bilang mencintaiku. Aku pun mencintainya, tapi tidak menginginkannya. Sama sekali. Hari itu pertama kali kami berciuman. Kau tahu aku bukan pencium yang buruk. Menciumnya dengan sebaik-baiknya pada titik di mana kami sama-sama tahu hal itu tidak mungkin berlanjut atau terulang lagi adalah satu-satunya cara untuk membikin dia sadar bahwa ia sangat merugi. Selama menyiakan aku bertahun-tahun mana ia tahu kalau berciuman denganku bisa sedemikian—apa yang selalu kau bilang?—menyenangkan sekaligus menenangkan? Nyaris indah? Tentu saja, sebab aku hanya mencium orang yang benar-benar aku kasihi. Kukatakan kepadamu, ya, aku—pada saat itu—tahu benar kapan berhenti di saat yang tepat, meninggalkan rasa terganggu yang sangat tidak nyaman dan sukar hilang.”
“Dasar cerewet. Penjelasanmu panjang sekali, murai batu.”
“Selain senang menertawakan hal yang tidak kalian pahami, kalian juga senang mengeluhkan hal yang kalian sukai. Kalian ini kenapa sih, laki-laki?”
“Jangan bikin aku menciummu di tempat umum, ya.”

Mendengar ancamanku, ia hanya mengernyitkan alis kanannya.

“Baiklah, aku akan memberi jawaban yang membikin jiwa machismo-mu senang saja. Kau tahu? Kesadaran itu berjalan. Kalau bertanya pada kesadaranku yang sekarang, ia akan menjawab bahwa sebelas tahun lalu—pada saat kejadian itu—lobus frontal kepalaku sangat tak bisa diandalkan, sebab ia berisi agar-agar dari gelatin babi.”

Sialan sekali. Aku benar-benar menyukai perempuan ini.

Leave a Reply