Pada Sebuah Turbulensi

Begitu banyak hal-hal berserakan, di mana-mana, baik yang distempel sebagai hak milik, yang teronggok tanpa pernah ada yang meng-klaim, atau yang memang sengaja dibuang dengan berbagai alasan. Manusia, konon begitu suka mengumpulkan benda-benda, seperti juga mereka begitu suka terhubung dengan manusia lain, kemudian mereka mengaksesori diri dengan berbagai macam keberpunyaan.

Berpunya itu menyenangkan. Punya harta, punya keluarga, punya banyak teman, punya kekuasaan, dan punya-punya yang lain. Setelahnya kemudian tercipta kelas, si kaya dan si miskin, si populer dan si sebatang kara, si serba punya dan si orang tak punya. Mereka, kemudian, sadar tidak sadar, memasukkan diri mereka ke dalam kelas tertentu, sesuai dengan bagaimana dan seberapa tinggi mereka menilai dirinya. Di luar itu adalah kerja sistem sosial di sekeliling  mereka yang bertugas memberi label atas apa dan siapa saja.

Ada orang yang entah karena bakat atau memang karena berusaha keras, mempunyai kawan yang tersebar di mana-mana. Ketika kita berjalan dengan mereka, ada saja yang disalami dan disapa. Sementara itu, ada yang tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun. Kita selalu melihatnya berjalan sendiri, duduk sendiri, dan kalaupun mereka bersama orang lain, maka dia nampak seperti tidak benar-benar di sana. Baginya, diri sendiri ialah hal terbesar yang bisa dimiliki. Bisa jadi bahkan, tidak terlibat dengan orang lain buatnya adalah sebuah kemewahan.

Beberapa orang begitu mencintai benda-benda. Seakan-akan keberadaannya sebagai manusia dibuktikan dengan segala yang dimilikinya. Mereka suka memakai kendaraan dengan knalpot menggerung-gerung, atau menggantungkan nilai dirinya pada label harga dan merk segala benda yang mereka kenakan. Sementara itu, ada yang saking tidak inginnya menarik perhatian, saat membeli baju pun mereka sengaja mencari bahan berwarna pucat. Katanya, “Malas kalau pakai baju yang kelihatan baru.”

Di antara mereka semua ada yang begitu mencintai dan menyegalakan keluarganya. Ketika di luar sana ia merasa tidak berhasil sebagai apa saja, ia pulang ke keluarga yang bisa membuatnya (merasa) kembali menjadi manusia. Dan selalu, ada mereka yang memilih tidak menyimpan ingatan tentang keluarga mereka. Entah karena memang sebatang kara, atau semata ingin melepaskan diri dari bayang-bayang orang tua dan saudara, dengan alasan yang berbeda di masing-masing kepala.

Mengenai hal-hal tersebut, saya pernah, sekali, secara tidak sengaja, memikirkannya.  Saya sedang duduk di dalam sebuah pesawat  yang mengalami turbulensi cukup hebat karena cuaca buruk ketika itu. Beberapa orang di sekitar saya mulai panik, saya mulai mendengar bermacam-macam doa dibisikkan dengan suara pelan yang ditekan.

Pada saat itu saya berpikir: Kalau pesawat ini jatuh, saya pasti mati, jadi ya sudahlah saya tidak bisa apa-apa. Kalau saya mati pasti badan saya hancur lebur, mudah-mudahan sakitnya tidak terlalu lama. Kalau badan saya hancur lebur, kira-kira organ mana yang tersisa dan masih bisa diidentifikasi? Saya ingin secuil jempol kaki saya selamat. Kenapa harus jempol kaki? Saya tidak tahu.

Pikiran tentang secuil jempol ini terasa menggelikan buat saya sampai saya tidak bisa menahan diri untuk tidak nyengir dan tertawa kecil. Saya sedikit terkejut karena pikiran konyol itu membikin saya tidak menakutkan apa-apa lagi. Baiklah, saya tidak apa-apa kalau harus mati saat itu juga, tetapi sebelum mati saya ingin tahu sesuatu, sebenarnya apa dan siapa saja yang benar-benar saya cintai di dunia ini? Kemudian nama-nama berseliweran, wajah-wajah berderet lewat, tempat dan kejadian melalu-melintas. Pada suatu titik, saya menyerah. Ternyata tidak banyak hal yang saya berati di dunia ini. Tidak ada tempat yang terlalu saya cintai atau sedemikian sulit untuk ditinggalkan. Tidak ada benda atau harta yang saya perlu pusingkan. Sesungguhnyalah, tidak banyak orang yang bisa membikin saya merasa tertahan. Entah memang karena hati saya yang kurang luas untuk mencintai, atau memang tidak banyak hal di dunia ini yang saya nilai layak untuk diambil hati.

Di tengah turbulensi yang sesekali seperti menggelongsorkan jantung ke perut itu, saya menyadari bahwa saya irit sekali menggunakan hati. Tidak banyak perkara yang saya cintai, karenanya, semua yang saya punya tumpah hanya kepada yang sedikit tadi. Jadi kalaupun suatu saat nanti saya hanya bisa meninggalkan sedikit cuilan jempol kaki, yang kalau ketemu akan dilabeli nama saya, mestinya sih cinta saya yang terberi hanya pada yang sedikit tadi, akan diingat.

Ketika saya tiba pada pikiran itu, turbulensi berhenti. Hati saya terasa ringan. Tentu saja saya lega karena tidak jadi jatuh dari ketinggian sekian puluh ribu kaki, tetapi terlebih lagi ada kelegaan karena saya berhasil menjawab pertanyaan yang seringkali saya hindari. Orang lain mungkin berusaha mati-matian untuk mencintai seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Saya merasa cukup dengan mencintai seperlu dan semampu saya. Toh pada akhirnya, mencintai terlalu banyak hal bersamaan itu seperti menaruh nadi kita di mana-mana, membuka banyak jalan buat kita merasa terbunuh atau luka.

Image

pic fr http://en.wikipedia.org/wiki/Question

Leave a Reply