Pelesir, Dosa Besar Pelajar dengan Beasiswa

“Jalan-jalan terus, sekolah atau piknik, sih?”

Diucapkan kepada pelajar-pelajar dengan beasiswa, pertanyaan pendek yang cukup kiyut ini bisa dibawa ke dua jurusan: rajukan atau ungkapan kesebalan. Keduanya sama mengharukan. Sebagai pelajar kapiran, saya juga pernah dapat pertanyaan macam ini sekali-dua, meski saya terhitung fakir kalau soal jalan-jalan. Paling banter saya cuma cengar-cengir. Sederhana saja, saya memang nggak ngerti kenapa saya mesti menjawabnya.

Hingga saat saya menuliskan ini sekalipun, sesungguhnya saya bertanya-tanya, sejak kapan orang-orang memisahkan antara belajar (sekolah) dengan bermain (pelesir)? Buat saya pertanyaan ‘sekolah atau piknik’ ini merumit-rumitkan keadaan. Sedari kecil saya selalu menganggap sekolah berarti kesempatan seluas-luasnya buat bermain. Barangkali karena konsisten nggak punya kehidupan sejak kanak-kanak (sad), saya selalu berangkat sekolah dengan gembira. Ya senang saja, keluar rumah, bertemu dan bermain dengan teman. Buat saya, sekolah hampir selalu identik dengan pelesir, sebuah upaya mencari kesenangan dan keseruan. Oh, jangan ditanya, tentu saja saya sering frustrasi, ingin mencekik diri sendiri (atau guru tertentu) saat merasa ilmu pengetahuan menolak dan membenci saya. Sekolah memang sering menggencet dan kelewat menuntut, tapi enggak ngerti, sih, saya selalu bisa menemukan hal yang lucu atau menghibur dari sekolah. Buat saya, sekolah dan pelesir sama saja. Yang pertama hanya lebih babak belur daripada yang kedua.

Saat warganet yang budiman ramai mencurahkan perhatian pada para ‘pelajar pelancong’, saya enggak rugi atau untung apa-apa. Warganet para pembayar pajak yang taat sebal saat merasa uang beasiswa yang bersumber dari pajak mereka dipakai buat pesiar. Kekesalan macam ini ya wajar belaka. Uang pajak lho, darah rakyat. Edan, po? Reaksi macam ini mestinya bisa begitu saja saya abaikan sih, mengingat saya dapat pembiayaan dari skema beasiswa pemerintah negara lain. Yang mengusik saya sebetulnya adalah ide bahwa pelajar dengan beasiswa sepantasnyalah jangan nampak gembira. Aduh, mbok jangan mudah sakit hati dan marah-marah hanya karena orang lain kurang begitu nampak menderita, majelis yang terhormat.

“Anak beasiswa kok tidak tampak prihatin.”

Tenang, banyak kok di antara ‘anak beasiswa’ yang selalu kelihatan berjuang. Mereka rajin membikin status di media sosial tentang beratnya kuliah atau mepetnya tenggat tugas. Mengunggah gambar diri tertimbun tumpukan buku yang dipinjam dari perpustakaan, juga cerita bagaimana mereka menjadi pucat seperti mayat akibat begadang sebelum ujian dsb dsb. Pendeknya terus memberitahu dunia kalau dirinya sengsara belaka. Citraan menderita bisa jadi penting buat beberapa orang, barangkali dipandang perlu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas beasiswa yang diterima. Jadi mekanisme akuntabilitas. Yang demikian itu apakah salah? Ya jelas tidak. Namun enggak lantas juga jadi benar di mata rakyat, toh? Para pembayar pajak tentu bisa lantang saja berteriak, “Mengeluh melulu, sudah bagus dibayarin!” Awwww, kiyut dan menggemaskan bukan, society ini?

“Apa bedanya kalian dengan anggota DPR yang hobi studi banding abal-abal? Sama-sama makan uang rakyat.”

Blaik.

Pertama-tama, menyamaratakan semua penerima beasiswa (yang kebetulan sesekali pelesir) sebagai kaum pengerat pajak rakyat Indonesia sudah kurang bijaksana sejak awal, sih. Untuk mudahnya, saya misalnya, ikut skema beasiswa dari pemerintah di benua sebelah. Ya saya pakai uang pajak juga, pajak pemerintah sana. Mereka butuh memutar uang, saya jadi alat. Namanya juga negara dunia kesatu, perlu skema kedermawanan yang bisa membungkus kepentingan diplomasi dan ipoleksosbudhankam sekaligus. Enggak ada masalah. Simbiosis mutualisma.

Saat pembekalan sebelum berangkat, ada kelas cross culture seminggu sekali yang intinya kasih saya ruang seluas-luasnya buat eksplorasi agar supaya tidak jadi kadal gurun di balik diktat panduan hidup menjadi koboi. Pendeknya kami diberi selot untuk menghibur diri sendiri, malahan diharuskan banyak-banyak jalan dan pergi-pergi. Kami terang-terangan diberi panduan piknik.

Sebagai catatan, saya sampai saat ini masih gagal jadi koboi. Jadi kadal gurun saja belum.

“Ya sudah tidak usah cerewet, tuduhan pengerat pajak itu kan bukan buat kamu.”

Kayak yang saya bilang di depan, bukan perkara tuduhan pemakan uang rakyat yang mengusik saya, melainkan ide mengomeli anak sekolah yang kepergok dolan itu kok kurang namaste.

Mau dalam soal apa saja, jeda itu penting. Secinta-cintanya orang sama pengetahuan, setekun-tekunnya orang belajar, berjalan keluar sebentar dari rutinitas akan membantunya tetap waras. Sepengetahuan saya, dalam kontrak berbagai skema beasiswa, yang diatur adalah soal standar minimum nilai dan kelulusan tepat waktu, serta tidak terlibat tindak pidana atau pelanggaran tertentu yang disebut pada lembar kontrak. Pelesir, piknik dan berbagai varian rekreasi lainnya sepanjang tidak termasuk dalam tindakan pidana atau pelanggaran kontrak, saya kira tidak merugikan siapa-siapa.

“Ya tapi apa deh, pentingnya pelesir?”

Beberapa bulan lalu ada kawan yang kebingungan mengontak temannya. Terakhir ia dengar si teman sedang depresi karena beban kuliah dan mendadak tidak bisa dihubungi berminggu-minggu. Ia sangat khawatir. Kawan lain mengalami serangan panik. Ia bolak-balik ke dokter, berkali harus dirawat di rumah sakit akibat berbagai komplikasi psikosomatis. Kawan sekelas saya minum valium beberapa menit sebelum presentasi. Kawan lain, minta bertemu dengan saya dan tiba-tiba menangis. Ia punya bipolar, tidak pernah bisa tidur tanpa mengonsumsi obat dari psikiater, saat itu bisa dibilang tidak punya tempat tinggal dan baru saja jadi korban tindakan rasis. Mereka semua pelajar dengan beasiswa ke luar negeri. Sudah cukup? Belum. Kawan saya satu lagi sudah lulus dari kuliahnya namun sampai sekarang masih harus mengonsumsi obat penenang akibat depresi yang ia alami sejak saat masih duduk di bangku kuliah.

Tidak, kok, tidak. Saya nggak minta permakluman atau belas kasihan atau semacamnya. Saya cuma ingin bilang kalau sekolah dengan beasiswa jelas bukan perkara senang-senang belaka. Keteteran di kelas, kapiran di nilai, keruwetan pekerjaan, persoalan keluarga dan keceketeran lain-lain bisa terjadi pada siapapun. Penyebab dan efeknya macam-macam, berbeda pada setiap orang. Cara mengatasinya juga bervariasi. Ada yang memilih beribadah, lari, pergi ke gimnasium atau mendatangi psikiater atau jalan-jalan. Mengapa dari kesemuanya, yang terakhir saya sebut jadi seakan-akan lebih rendah derajatnya, bahkan hina, dibanding yang lain? Adakah binatang yang didzalimi dalam
berbagai mekanisme mengelola stres ini, Mbak Mas warganet yang mulia?

“Ya kelihatan nggak mutu saja, sih. Apalagi kok sering amat.”

Saudaraku, kekerapan pelesir tidak dapat dipakai buat jadi tolok ukur prestasi atau mutu hidup seseorang. Saya tahu baik seseorang yang di media sosial selalu kelihatan senang-senang, pekerjaannya jalan-jalan, bertualang dan pacaran, mana orang tahu ia pernah menolak tawaran pekerjaan dari NASA? Kawan yang lain lagi adalah orang paling merdeka dan gembira yang pernah saya kenal, main terus kesana-kemari, sibuk bergaul, pesta dari kelab ke kelab. Orang yang sama adalah kandidat PhD yang presentasi risetnya memanen pujian dari profesor senior utama di kampus dan disebut-sebut sebagai presentasi konfirmasi terbaik. Apakah mereka suka membikin citraan prihatin dan menderita? Enggak. Malahan, saya percaya mereka adalah golongan manusia paling bodo amat yang pernah saya kenal.

Banyak pelesir tidak lantas berarti banyak buang-buang uang tunjangan beasiswa juga. Siapa yang tahu kalau mereka yang sering memacak foto jalan-jalan, bisa sampai sana-sini karena ikut piknik murah berjamaah yang dikoordinasi asosiasi mahasiswa? Siapa yang tahu kalau buat beberapa orang, keputusan untuk piknik artinya adalah lembur bermalam-malam, dan rencana menonton pertunjukan berbayar adalah keniscayaan menambah shift kerja puluhan jam?

Sebut macam-macam upaya manusia bersantai; pacaran, jalan-jalan, olahraga, berkebun, memasak, menonton drama Korea, bersepeda, karaoke, memperbanyak sujud kepada Tuhan, membaca, tidur seharian, menonton konser, menggosek WC, mengurung diri di lemari, mengobrol dengan tawon endhas. Sama saja. Selama tidak mengancam hajat hidup orang lain, ha mbok biar. Orang yang paling banyak pergi dan berpesta belum tentu adalah orang yang sama sekali tak menderita. Mereka yang senang berfoto gembira tidak lantas berarti sama sekali tak punya kesedihan.

Seorang kawan bilang ia akan berubah jadi pembenci segala hal dan semua orang di muka bumi saat ia diburu tenggat. Ia nggak lantas jadi jahat. Ia hanya membenci dirinya sendiri habis-habisan sampai demikian marah dan kemarahan itulah yang selama ini membantunya menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Cara-cara menyelesaikan masalah dengan diri sendiri yang seperti itu (atau yang lain) tentu saja adalah hak dia. Tidak perlu dicela-cela.

Tapi kembali lagi, berhubung semua orang memiliki mekanisme bertahan hidup sendiri-sendiri, maka bisa jadi memang ada yang mekanisme bertahan hidupnya adalah dengan merisak mekanisme bertahan hidup orang lain. Yang demikian itu sesungguhnya sudah tertulis di mahhfudz lauful. Jadi yauda nga pa pa ~

Main, yuk!

——–

Dimuat di Birokreasi

Leave a Reply