Pemantik Api di Saku Baju Leira

pic fr: http://nakos.deviantart.com

pic fr: http://nakos.deviantart.com

Mataku hanya bisa menangkap dua warna, hitam dan putih. Tentu saja bagiku rumahmu juga berwarna hitam putih, ia luas seperti padepokan. Beberapa anak muda tinggal di sana menjadi muridmu. Rumah kayu dengan langit-langit tinggi itu ada di lereng sebuah bukit, sembunyi, seperti rumah pendekar penyendiri di cerita-cerita silat. Aku tidak yakin sedang musim apa tetapi di sana selalu berkabut dan di halaman ada banyak gelondongan kayu bakar yang menunggu dibelah.

Aku berantakan sekali. Aku tidak punya sisir dan rasanya badanku apak dan lengket seperti sudah lama tidak mandi. Satu-satunya yang selalu kubawa kemanapun adalah pemantik api darimu. Aku sering mengusap saku bajuku dan memastikan ia ada dan aman di sana. Aku rasa pemantik api itu membantuku jadi lebih tenang dan waspada.

Kau punya tiga anak laki-laki. Usia anak pertamamu sepertinya duapuluhan akhir, ia jangkung, tampan dan penyendiri. Murid-muridmu yang perempuan selalu tersenyum malu setiap berpapasan dengan si sulung ini, tapi ia dingin sekali dan jarang bicara. Setiap pagi setelah memakai baju tebalnya dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, ia pergi dengan sepedanya dan kembali saat hari mulai gelap. Aku tidak pernah tahu dia kemana.

Pada pagi hari, di halamanmu selalu berserakan surat ancaman, entah siapa yang mengirimnya setiap malam. Kadang kami meronda bergantian, tetapi surat-surat kaleng itu selalu tahu-tahu sudah ada begitu saja pagi harinya, seperti dikirim dengan kekuatan gaib.  Kasak-kusuk yang kudengar, ada sekelompok orang yang menuduh perkumpulanmu sesat dan mengancam akan mencelakaimu jika kau tetap mengajar murid-muridmu. Aku tidak tahu isi surat-surat itu, pun orang-orang di rumahmu tak suka membicarakannya. Saking terbiasanya dengan surat-surat itu lama kelamaan kau tidak pernah lagi memeriksa isinya satu per satu, kau akan meminta seorang muridmu untuk mengumpulkan dan langsung membakarnya saat itu juga.

Kau selalu pergi bersepeda ke pasar pukul enam pagi dan menolak ditemani siapapun. Setelahnya kau akan memasak semuanya sendiri. Kadang-kadang kau mengijinkanku membantu menyiangi bawang atau membereskan dapur yang gelap oleh jelaga dan berbau sangit karena asap tungkumu. Masakanmu enak sekali. Kau tidak pernah percaya pada masakan orang lain. Tetapi aku ingat suatu hari salah satu tetangga jauhmu mengirim ikan kukus dengan bunga pisang dan cabai rawit tua, kau ikut mencicipi lalu tertawa,

“Hahaha ini enak! Ini enak!”

Aku diam-diam percaya kau adalah titisan dewa mabuk, matamu seperti selalu menatap ke kejauhan dan kau sering tersenyum sendiri tanpa sebab. Kau suka sekali menertawakanku,

“Hei bocah, masih saja kau pakai bandana yang coraknya buruk itu, mukamu makin seperti burung crocokan. Hahaha. Jangan marah. Kau tahu aku cuma bercanda.”

Aku tidak pernah tahu burung apa yang kau maksud, tapi aku yakin burung itu pasti jelek dan mengenaskan. Aku berusaha tersenyum dan aku tahu hasilnya hanyalah seringai menyedihkan.

Pada malam tertentu saat sering turun hujan, entah bagaimana rumahmu berubah menjadi rumah ibadah. Orang-orang berjubah panjang dan bertutup kepala berkumpul dan merapalkan doa-doa rumit yang sesekali terdengar seperti gerutuan di telingaku sebab mereka mengucapkannya dengan samar dan begitu buru-buru. Kau tidak ikut berdoa. Kau memilih berkeliling dan mengomel karena atap yang bocor menyebabkan air menggenang di mana-mana. Pada saat-saat demikian aku akan berjalan berjingkat-jingkat sambil membawa kain jemuran yang masih lembab karena kurang mendapat sinar matahari dan kau selalu membikinku gugup dengan meneriakiku,

“Jangan lewat situ! Itu licin! Jangan lewat situ juga! Lewat sana saja! Hei kau, sebelah sini! Aduh itu kain jangan kau angkat-angkat menutupi mukamu, bagaimana kau bisa lihat jalan kalau begitu? Kacau!”

Kau selalu memanggilku dengan “Hei bocah!”, atau “Hei kau!”. Aku curiga kau tidak pernah tahu namaku. Dan entah bagaimana pikiran ini membuatku sedikit sedih. Aku menunggumu mengajariku sesuatu, menulis atau bercerita. Tapi kau selalu sibuk. Menulis dongeng atau membawakannya di depan orang banyak, memasak, mencari sayuran dan ikan segar ke pasar, mengawasi orang membelah kayu atau duduk semeja bersama beberapa anak muda yang bergantian datang ke beranda depan. Kalian sangat serius, hanya sesekali aku mendengar kalian tertawa keras dan panjang, entah menertawakan apa. Aku selalu takut kalian sedang menertawaiku.

Beberapa kali aku mendapati kalian mencuri lihat padaku, dan bukannya kalian yang  jadi sungkan karena terpergok mencuri pandang, justru akulah yang sibuk menggosok-gosok hidung dengan gugup. Tentu saja setelahnya aku segera beringsut pergi, mencari hal untuk kukerjakan, membereskan lemari kitab-kitab tebalmu yang sudah rapi atau mencuci ulang dandang yang sudah bersih.

Keadaan ini mengesalkan sekali. Aku tak tahu apa yang dikatakan orangtuaku padamu saat mereka menitipkanku di tempatmu. Aku kemari karena merasa barangkali aku bisa belajar sesuatu darimu. Kau pencerita yang hebat, kata orang-orang. Kalaupun aku tak bisa jadi pendongeng sepertimu, setidaknya kau akan mengajariku yang buta aksara ini membaca dan menulis supaya aku bisa menceritakan kisah perempuan yang tumbuh sulur di telinganya, pemabuk yang jatuh cinta pada ember muntahnya atau kisah lain yang berputar-putar di kepalaku. Tetapi bahkan setelah setahun lebih aku di tempatmu, kau hanya memanggilku saat perlu diambilkan tembakau, atau saat perlu dibantu menyalakan tungku, atau meminta diseduhkan teh limau.

Suatu sore kau memanggilku yang tengah menutup jendela depan,

“Hei, kau. Jangan lupa masukkan kayu bakar ke gudang belakang.”

Aku mengangguk dan segera berjalan ke halaman. Langkah tergopohku melambat saat kudengar sulungmu yang baru saja tiba menegurmu,

“Ayah, sekali-kali cari tahulah namanya dan panggil dia dengan namanya, jangan ‘Hei kau, hei kau.’ terus begitu.”

Kau terdiam sesaat sebelum menjawab,

“Kau benar. Aku betul-betul tidak tahu namanya. Semua orang, bahkan orang tuanya saat mengantarnya kesini untuk jadi pesuruh, memanggilnya Sumbing. Menurutmu apa ada orang tua yang sengaja menamai anaknya Sumbing? Tapi kalaupun itu benar namanya aku tidak tega memanggilnya begitu. Itu olok-olok yang kejam. Barangkali nanti kupikirkan satu nama panggilan buatnya.”

Sambil kembali melanjutkan berjalan ke arah tumpukan kayu bakar di halaman, aku membatin,

“Baiklah. Baiklah aku ini hanya seorang pesuruh. Baiklah. Tapi kalau sampai kau harus menemukan sebuah panggilan buatku, jangan sampai kau memanggilku ‘burung crocokan’, aku mohon jangan. Namaku Leira, paman Jatmika.”

Tentu saja tidak satupun kata-kataku tadi bisa terucap dari mulutku yang sejak lahir sudah terbelah parah dari bibir sampai ke langit-langitnya.

Aku mengangkat setumpuk kayu bakar dan memanggulnya di kepala, menaruhnya di gudang belakang, mengelap mataku yang panas dan hidungku yang tiba-tiba beringus dengan lengan baju. Masih perlu bolak-balik tiga kali untuk memindahkan semua kayu bakar. Aku melakukannya dengan cepat, aku merasa tenagaku jadi berlipat-lipat, seakan-akan aku bisa menjatuhkan seorang tukang kayu dengan satu pukulan di rahang. Tidak ada seorang atau sesuatupun yang bisa kupukul rahangnya, maka aku menghabiskan tenagaku dengan berusaha mengucapkan namaku. Percayalah, untuk orang-orang tertentu, hal seremeh itu bisa sangat menguras jiwa raga.

“Leira. Le-i-ra. Le…i…ra…! LE..I…RA!!”

Aku bisa mendengar benakku membentak-bentak, sementara mulutku hanya menghasilkan semacam dengusan yang menyedihkan,

“Weywah. Wey-wah. Weeiiyyw….wah..! WEEIIYYYW…WAAHHH!!”

Aku terus melakukannya sampai empat puluh tahun kemudian. Tidak, aku bohong. Mana mungkin begitu. Kau selalu mencari-cariku, seperti tahu kalau sendiri terlalu lama tidak baik buatku. Tahu-tahu saja kau sudah menyusulku ke gudang, tanpa berkata apa-apa mengulurkan dua buah lentera yang masih padam. Aku paham, mengangguk, mengambil lentera dari kedua tanganmu dan mulai menyalakannya dengan pemantik api yang selalu kusimpan di saku bajuku. Kau mengawasiku dan setelah kedua lentera menyala, masih tanpa mengatakan apa-apa, kau mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku berjalan mengikutimu dan memutuskan untuk memperhatikan punggungmu saja ketimbang memikirkan perihal yang mungkin atau tidak mungkin kulakukan.

Aku masih satu-satunya orang yang kau percayai untuk menyalakan pelita di seluruh rumah. Itu cukup menenangkan. Kurasa dengan cara demikian aku akan bertahan.

 

Dimuat di Jakartabeat, 9 Februari 2014

 

 

 

 

2 Responses to “ Pemantik Api di Saku Baju Leira ”

  1. kamu keren El.

  2. Haha kerenan juga kamu mbak. 🙂

Leave a Reply