Pertanyaan Pemuda Afghanistan tentang Susu dan Kolom Rombeng di KTP

“Susu. Susu. Indonesian for milk is susu, right?”

Pemuda Afghanistan yang duduk persis di samping T, kawanku, kembali memotong pembicaraanku dan T, untuk ke-seratus tujuh puluh tiga kalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya maha penting sehingga mesti ditanyakan saat itu juga. Aku yakin pemuda ini tidak akan ragu menyogok lubang hidung T-Rex yang sedang berburu menggunakan batang bambu untuk sekedar memberitahu ndoro karnivora sebuah berita sensasional, “You know Kampung Arab? I’ve been there, It’s in Bo-ghor.”

T sudah tidak lagi berusaha menutupi rasa risihnya, mukanya menunjukkan gelagat ingin menggaruk-garuk tanah gambut Kalimantan Tengah. Aku memutar-mutar bola mata, cantik sekali seperti penari Pendet (maaf aku tidak menyediakan kantung muntah, jadi tahan saja sebentar atau telan lagi muntahan yang sudah naik ke kerongkonganmu itu). Saat sampai di stasiun tujuan dan turun lebih dulu dari si pemuda Afghanistan, T tampak begitu lega macam habis klaar mengisi SPT tahunan saja. Di perjalanan balik, aku kembali berkereta bersama T. Mengobrolkan perasaan-perasaan yang membingungkan, cowok India yang naksir padanya dengan modal ketampanan (baca: dengkul) serta ogah rugi macam tengkulak bawang merah di musim paceklik di Brebes, juga soal batin yang mati rasa dan tidak bisa lagi deg-degan akibat terlalu sering dihajar ujian (awal, tengah dan akhir) semesteran.

Di sepertiga perjalanan terakhir, kami mendirikan shalat tahajud. Tidak ding. Di sepertiga perjalanan terakhir, obrolan yang ringan kriuk-kriuk macam kerupuk melarat Purwakarta jadi agak menyesakkan, aku merasa seperti sedang pakai korset kekecilan. Siapa tidak kesal saat membicarakan Pilkada Jakarta dengan segala isu-isu agama yang dibawanya. Pada suatu titik, T bilang padaku,

“Aku nggak ngerti lagi, dengan kebencian orang-orang Islam pada yang di luar mereka seperti sekarang ini, bagaimana aku dan keluargaku akan hidup. Semua di luar mereka mau disikat.”

Ia lalu cerita,

“Kamu tahu nggak, sejak SD sampai SMA kolom agama di KTP keluargaku semua diisi agama Islam. Iya, aku selalu ikut pelajaran agama Islam di kelas saat sekolah. Aku bisa membaca huruf Arab, aku bisa membaca Qur’an, aku bahkan ikut ujian praktek shalat. Bapak yang bikin keputusan begitu. Itu nyebelin banget. Aku sempat kesal dan marah sama Bapak. Bapak ini apa-apaan, kenapa kami mesti pura-pura menjadi sesuatu yang bukan kami. Sampai suatu saat, ada kejadian yang menimpa kakakku. Ia tinggal di Sumatera dengan suaminya yang berasal dari Bali. Saat itu pas sekali aku meminta Bapak buat mengganti kolom agama di KTP kami, tidak diisi Islam lagi. Di Sumatera saat itu, ada konflik yang agak parah, awalnya masalah ekonomi, sih, pendatang-pendatang non-Islam diusir, rumah mereka dibakar. Kakakku dan suaminya baru saja membangun rumah, benar-benar baru berdiri, rata jadi tanah. Mereka kabur dan sembunyi sampai harus tidur di sawah. Mobil disembunyikan dan ditutupi semak dan sampah supaya nggak dibakar. Kakakku yang saat itu sedang mengandung akhirnya keguguran. Aku merasa bersalah sekali pada keluargaku, terutama pada kakakku. Aku merasa mereka mesti menderita sebab aku yang bersikeras mengganti kolom agama di KTP kami. Aku merasa egois banget. Saat itu aku baru paham dan mengerti kenapa Bapak bertahun-tahun begitu kekeuh dengan keputusannya mengaku sebagai orang Islam. Hidup kami ternyata demikian sulit dan terancam. Padahal kami sama sekali tidak melakukan apa-apa yang merugikan mereka. Kami cuma ingin hidup biasa saja, kok. Beneran. Kakakku sempat ingin menjual tanahnya di Sumatera, tapi dicegah oleh Bapak. Kata Bapak, jangan jual tanah, kita saja mengalah terus berbuat baik sama mereka. Akhirnya Bapak bolak-balik Jakarta-Sumatera, bantu kakakku membangun lagi rumahnya. Bapak juga terus silaturahmi dengan orang sana, menjalin hubungan baik, meyakinkan mereka kalau kami tidak berbahaya, berusaha jadi orang berguna buat mereka, agar kakakku dan keluarganya aman.”

Aku ingin memeluk T dan meminta maaf atas semua ketidakadilan yang ia dan keluarganya alami karena kebencian orang-orang dari kaum mayoritas. Saat ia selesai bercerita, gangguan pemuda Afghanistan di awal perjalanan kami jadi terasa receh amat. T ini, sekali melihatnya, kau akan tahu ia manusia baik. Ia jenis orang yang kau tidak akan bisa menemukan keburukan sebagai bahan untuk mencelanya atau menggunjingkannya di belakang. Jahanam benar jika ia sampai harus memalsukan agama di KTP demikian lama karena merasa terancam hidupnya. Demi Nabi Musa yang membelah Laut Merah dan Nabi Yunus yang ditelan paus, apa sih susahnya tidak jahat pada kaum lain?

Untuk T, kau berhak mengisi apapun di kolom agama di KTP-mu. Kau bahkan berhak untuk sama sekali tidak mengisi kolom rombeng itu. Semua yang telah terjadi bukan salahmu. Yang terjadi adalah: banyak sekali orang-orang yang mengaku beragama dan bertuhan namun akalnya ringsek. Orang-orang ini, batok kepalanya mesti dibuka dan amygdala di dalamnya perlu ditetesi Lactacyd kadaluwarsa.

Leave a Reply