Pepes Kemuliaan yang Dibungkus Daun Pisang. -sebuah bagian dari cerita yang (direncanakan) lebih panjang-

Barangkali inilah satu masa dalam hidup di mana aku paling banyak menghabiskan waktu tanpa kemana-mana, tinggal di rumah seperti beruang pemalas bersama satu manusia lain hasil reinkarnasi hewan laut berangka kalsium karbonat penyusun terumbu karang, Koral. Koral selalu sibuk membaca dan aku sibuk tak melakukan apa-apa. Di sore hari Koral akan menceritakan soal buruknya atau mengejutkannya atau betapa anjing –saking bagusnya– buku yang baru selesai ia baca, sementara aku sibuk memasukkan kue-kue ke dalam mulutku.

“Pada dasarnya semua orang adalah pemalas.” Komentar Koral suatu saat ketika aku tengah berbaring dan berayun-ayun malas di atas hammock.

“Kau menyindirku? Jangan repot-repot begitu, deh.”

“Tidak. Aku menyukaimu karena kau sudah menemukan hakikat menjadi manusia. Bermalas-malasan dengan merdeka.”

“Menurutmu kenapa aku mau kau ajak pindah ke antah-berantah sini?”

“Bisa saja kau khilaf.”

“Mau kucium?”

“Jangan repot-repot.” Koral langsung menunduk, kembali meraih buku yang tadi sempat diletakkannya. Aku bertaruh mukanya memerah.

“Kau sedang baca buku Kissing for Dummies ya? Teknik mencium untuk pemula?”

Koral tak menjawabku, ia memilih melanjutkan membaca buku sembari menutup kedua telinganya. Aku masih terus meracau, mengganggunya dengan kalimat-kalimat luar biasa bijaksana yang melampaui kata-kata mutiara motivator bising pencemar akhir pekan.

“Membaca tak lebih penting dari makan atau ciuman.”

“Membaca tak membantumu mendapatkan perempuan.”

“Membaca membikinmu malas mandi.”

“Membaca adalah keniscayaan menuju kepala ketombean.”

Koral masih saja selalu mendadak salah tingkah setiap aku menawarkan diri untuk menciumnya. Aku serius ingin menciumnya, –jika dia membolehkan, tentu– tetapi sesungguhnya setiap aku dengan rewel menawarkan diri untuk menciumnya, aku sedang bermaksud membungkamnya, membikinnya berhenti mengucurkan nasihat-nasihat mulia dari mulutnya yang kupercaya terbikin dari gentong air untuk bersuci orang-orang tua di desa. Sejauh ini cara itu tak pernah gagal.

Kami berteman baik dan aku percaya selamanya kami akan tetap berteman baik. Dengan Koral aku tak pernah bisa menemukan alasan untuk berlaku buruk kepadanya sebagaimana aku tak bisa menemukan sesuatu yang bisa menumbuhkan romantisme tertentu terhadapnya. Kami sudah dua bulan selalu bersama-sama –kecuali saat ritus kamar mandi– 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan tidak terjadi apa pun.

Orang-orang banyak melarang laki-laki dan perempuan berdua saja karena konon yang ada di antara mereka adalah setan dan hal-hal buruk ialah kemestian yang selanjutnya terjadi. Omong kosong saja. Kurasa jika aku dipisahkan dari Koral justru setan akan lebih senang, sebab aku selalu jadi jauh lebih ngawur dan sembarangan jika tak ada dia. Koral punya sesuatu yang membikin orang lain kehilangan nafsu berlaku bejat. Kalau energiku sedang berlebihan –biasanya karena mengasup terlalu banyak gula– aku suka memanggilnya Pepes Kemuliaan yang Dibungkus Daun Pisang.

Leave a Reply