Percakapan Dengan Anak Kunci yang Melibatkan Kencing Kecoa.

Ia merasakan kecoa-kecoa berlarian di dalam pikirannya, sesaat sebelum ia membuka pagar rumah. Diambilnya segerenceng anak kunci dari dalam tas dan ia mulai mengajak mereka bicara.

“Kalian senang tidak setiap kali dipertemukan dengan lubang kunci saat kami akan membuka pintu?”
“Biasa saja. Kami memang kalian ciptakan untuk itu, tidak ada yang istimewa.”, jawab anak kunci paling besar.

“Kalian tidak pernah merasakan apapun, sama sekali?”
“Kami jarang merasakan sesuatu, sesekali saja timbul perasaan sebal. Pada maling, misalnya. Mereka selalu saja mengakali kami.”
“Kalian takut kecoa?”
“Tidak.”
“Mereka sedang berlarian di kepalaku. Banyak.”
“Kami percaya.”
“Aku takut.”
“Kami tahu. Masuklah ke rumah.”

Ia mengangguk dan membuka gembok pagar, melepas sepatu dan naik ke teras lalu berjalan menuju pintu yang terbuat dari kayu nangka tua. Seperti biasa, ia kesulitan membuka pintu depan. Sebenarnya ia sudah paham pada tabiat pintu depan rumahnya yang rewel dan keras kepala, namun kali ini ia merasakan pintu itu berkali lipat lebih sulit dibuka dari pada biasanya. Ia berhenti berusaha membuka pintu dan kembali bicara pada anak kunci di tangannya.

“Kalian pernah merasakan rindu?”
“Tidak. Kami tidak boleh rindu pada apa pun.”
“Kenapa begitu?”
“Karena rindu itu menghabisi. Ia korosif, dan kami besi.”
“Oh.”

Mendadak ia merasa sesak, air berleleran dari kedua matanya.

“Kau menangis?”
“Tidak. Kecoa-kecoa sedang kencing di balik bola mataku.”
“Mengejutkan bagaimana kecoa lebih sering hadir daripada manusia, bukan?”

Ia tidak ingin menjawab. Diam menyandarkan dahinya ke pintu yang belum berhasil ia buka, ia merasakan makin banyak kecoa yang berkumpul dan bersama-sama mengencingi kedua bola matanya.

Leave a Reply