Pertemuan dengan “R” yang Dilewatkan Pahlawan Anjing Liar.

Kami belum pernah bertemu. Aku pertama kali memimpikannya dua tahun yang lalu. Mimpi yang lumayan menurutku. Kau tahu lah, tidak buruk, tidak melibatkan orang gila yang mengejarku dengan membawa pacul atau orang-orang yang dibungkus seperti kepompong dan digantung terbalik di salah satu balkon rumah mewah menunggu untuk dijadikan kornet. Tidak cabul juga. Mimpiku tahu diri, bebas tapi sopan, seperti tulisan di stiker jadul yang sering dipasang di pintu kamar kos mahasiswi awal tahun ‘90-an. Pendeknya aku bermimpi baik mengenainya. Mimpi itu juga berwarna, bisa dibilang istimewa, tak pasti setahun tujuh kali aku bisa dapatkan mimpi mejikuhibiniu. Maka orang yang kumimpikan mestinya juga istimewa. Sebangunku dari tidur aku segera mencatat mimpiku di fitur catatan dalam ponsel.

Telepon selulerku berguna juga ternyata, selain rajin berteriak-teriak pukul empat pagi dia bisa juga kupakai buat mencatat daftar belanjaan, atau nomor-nomor tagihan, atau kutipan-kutipan dari pesan berantai murahan, atau kupakai buat berpura-pura sibuk menulis pesan singkat saat berpapasan dengan orang yang kurang menyenangkan dan selalu membikinku malas menyapa lebih dulu. Bagus kalau kemudian dia tetap mengenaliku dan lalu menegur dengan basa-basi yang tidak pernah berkembang sejak jaman palaeolithikum. Lebih bagus lagi kalau kami “sama-sama tidak saling lihat karena sibuk menulis pesan singkat di ponsel masing-masing”. Agak menyedihkan memang orang-orang sekarang. Aku tak bilang aku juga tidak payah. Kami semua payah. Yang tidak payah cuma abang tampan penjual kerak telor yang pernah aku temui di festival makanan di pelataran stadion besar ibu kota dan mas-mas pramugara kereta malam yang namanya mengambil nama salah satu naga dalam mitologi Hindu. Aku bertemu dengan keduanya sekitar empat puluh bulan yang lalu. Saat itu peruntunganku sedang lumayan sepertinya.

Hai R, aku mimpi ketemu kau di pinggir jalan raya yang teduh oleh pohon-pohon besar dan trotoarnya tebal oleh daun gugur yang lembab. Kau bilang padaku, “L, hari ini aku wisuda. Senang rasanya bangun pagi dan tahu kalau hari ini adalah perayaan buat kita.” Aku bilang, “Selamat, R.” Lalu kau berjalan dan langsung sampai di sebuah hall yang megah dengan perempuan-perempuan memakai bustle di gaunnya.

Setiap orang punya penyakit tertentu. Penyakitku salah satunya adalah memimpikan orang-orang yang belum pernah kutemui sama sekali. Salah satu teman pernah bertanya padaku, “Mungkin tidak kita merindukan orang yang belum pernah kita temui?”

Aku menjawab jumawa,
“Kau beruntung, kau sedang bicara dengan salah satu ahlinya.”

Hei, jangan tertawa. Aku serius. Aku beberapa kali memimpikan teman jauh –yang kumaksud teman jauh adalah teman yang suka bertukar pesan tanpa pernah benar-benar bertemu muka sebelumnya-, pada salah satu di antara mimpi-mimpi itu aku melihat teman jauhku minum bir dingin dari botol yang berlabelkan nama blognya, Pitoist. Masih di mimpi yang sama aku lalu memotretnya sedang berboncengan sepeda di jalan tepi persawahan di sebuah bukit di pulau para dewa dengan salah satu kawan dekatnya saat itu –yang juga belum pernah kutemui- bernama Joni Tengik. Aku selalu merasa mimpi itu ringan dan lucu seperti obat batuk rasa strawberry.

Mimpi tentang R ini lain. Di mimpiku aku merasa hari begitu tenang, teduh, ada perasaan agung, khidmat. Saat menyampaikan mimpiku pada R aku sungguh-sungguh berpikir ia akan memberiku kabar baik tentang keadaannya, atau setidaknya dalam kehidupannya di pulau kecil yang ramai dan mendunia tempat dia tinggal saat itu memang sedang ada perayaan buatnya. Ternyata justru kesehatannya sedang memburuk dan ia sering mengalami serangan panik. Sejak saat itu aku tidak percaya bahwa pertanda bisa datang melalui mimpi. Pertanda matamu, makiku pada catatan-catatan mimpiku.

Aku sering tersasar. Itu penyakitku selanjutnya selain jadi mesin penggilingan mimpi seperti yang kuceritakan tadi. Pak sopir yang taksinya aku naiki, meski orangnya riang, ia tergolong pembingung -ada jenis sopir taksi yang suka pura-pura tidak tahu jalan untuk menjebak penumpangnya, bapak tua satu ini kukira tidak termasuk di dalamnya- kami celingak-celinguk berdua mencari sebuah kedai kopi yang konon berada di bawah atap sebuah bangunan bernama “Pohon Kecil” di jalan Matahari Terbenam 112. Nomor jalan yang kami lalui acak, dari 108 melompat ke 113, 116 lalu mundur ke 97. Kepalaku seperti dipuntir-puntir.

Aku sedang menginap beberapa hari di pulau tempat R tinggal. Kami janji bertemu di kedai kopi yang alamatnya sulit ditemukan, bersama satu kawan lain peminum bir berlabel nama blognya dalam mimpiku yang kuceritakan di awal. Aku dan sopir taksiku beberapa kali putar balik melalui jalan yang sama, hal ini berarti beberapa kali juga kami sudah lewat di depan penginapanku.

“Kedai kopi masyhur kok susah ditemukan kayak missing link dalam teori evolusi Darwin.”
Aku sama sekali tak berharap keluhanku akan disambut pak sopir taksi dengan tawa.

“Hahaha. Mungkin itu kedai kopi khayalan.”

Aku agak curiga sopir taksiku habis menghisap ganja. Wajahnya terlihat terlalu berbahagia untuk ukuran orang yang sedang kebingungan mencari alamat. Ketimbang tidak bisa menahan diriku untuk bertanya apakah pak sopir gumbira masih punya sisa ganja, aku akhirnya turun dan menanyakan letak kedai pada seorang penyeberang jalan.

“Dua gedung sebelum ini Mbak.”, jawabnya.

Si kedai khayalan ternyata selama ini bolak-balik kami lewati dan berdiam diri persis di seberang jalan tempatku menginap. Sungguh kegiatan bertaksi bolak-balik tadi adalah mubadzir lagi wagu. Baiklah. Cerita dengan pak sopir ganja (aku lebih suka menganggapnya benar-benar tengah giting, karena konon giting itu bahagia, dan aku suka memikirkan bahwa siapapun yang bersamaku sedang bahagia) selesai sampai di sini. Kubayar ongkos taksi dan berjalan kaki ke arah tempat aku akan bertemu R.

R belum datang. Kedai sepi. Tidak ada pengunjung selain aku dan tiga orang laki-laki paruh baya berkaos oblong dan bercelana pendek di meja sudut. Aku duduk dekat kolam. Kolamnya agak menyedihkan kurasa. Meski agak gelap masih kelihatan beberapa ekor ikan seukuran lenganku berenang. Yang kumaksudkan dengan menyedihkan adalah tanaman-tanaman di sekeliling kolam. Mereka nampak berdiri kikuk dan layu dan canggung karena baru ditancapkan. Belakangan aku baru tahu kalau kedai itu memang baru pindah dari tempat lama, kolam beserta ikan dan tanaman setengah layu yang menyedihkan tadi baru ada di situ sejak beberapa hari yang lalu. Pantas mereka tampak mengibakan.

Nyamuknya ya Dewa-Dewa! Apalah bagusnya duduk sendirian di meja sebuah kedai asing dengan tangan yang sibuk menepuk dan menggaruk? Aku memesan cokelat panas dan mulai berdoa agar R atau peminum bir berlabel Pitoist dalam mimpi segera datang. Doa yang kuhembus-hembuskan pada cangkir cokelat panas segera beroleh pengabulan. Seseorang melangkah masuk ke dalam ruangan setengah terbuka yang lebih pantas disebut penangkaran nyamuk berkedok kedai kopi.

Memakai sweater rajutan warna kelabu (atau biru tua aku agak lupa), celana longgar di atas lutut dan tas kain yang nampak berat, R berjalan ke arahku. Aku agak berdebar-debar sampai akhirnya kami saling tersenyum dan merentangkan tangan dan membagi sebuah pelukan singkat yang (syukurlah) tidak terasa canggung.

“Hai L.”
“Hai R.”
“Akhirnya ya?”
“Iya, akhirnya.”
Kami kemudian tertawa bersama. R beberapa kali terbatuk-batuk. Dia meminta maaf lalu memesan segelas minuman hangat campuran jeruk nipis, mint dan jahe.

“Aku sedang kurang sehat.”
“Iya kau tampak kurang sehat. Sudah berobat?”
“Aku diobati oleh kawanku yang tinggal di sebuah bukit.”
“Syukurlah.”, aku menyahut sambil kembali sibuk menepuki nyamuk yang hinggap di kaki.
“Kau mau lotion anti nyamuk?” R terlihat seperti juru selamat di mataku saat dia menanyakan apakah aku butuh lotion penangkal nyamuk. Siapalah yang tahu bahwa lotion penangkal nyamuk pada suatu saat bisa terdengar hampir sama menakjubkannya dengan wahyu kenabian?
“Wah! Kau bawa?” R tertawa.
“Hahaha. Tidak. Mereka menyediakan kok, gratis. Sebentar aku mintakan ya.”

R berjalan ke arah perempuan yang duduk dekat kasir dan kembali dengan membawa dua botol cairan ajaib penangkal nyamuk wangi lavender dan jeruk yang menusuk. Aku menerimanya dan segera mengoleskannya ke sekujur kaki dan tangan dengan penuh keharuan. Aku berterimakasih pada R dengan tulus. Dia tersenyum, lalu kembali batuk.

“Kudengar kau sedang bahagia?”
“Hahaha. Pasti S yang bilang padamu ya?” R tertawa, kali ini –syukurlah- ia tidak terbatuk-batuk.
“Iya. Dia bilang kau sedang jatuh cinta.”
“Dasar pembual dia itu. Eh, aku punya kawan, dia tinggal di bukit.”
“Kawan yang mengobatimu itu?”
“Iya. Dia warga negara asing, tinggal bersama kedua anaknya. Rumah mereka berdiri sendirian di tengah persawahan hijau. Mereka berkebun dan makan dari hasil kebun mereka sendiri. Mereka hampir tidak pernah belanja ke pasar. Setiap pagi kau benar-benar bisa melihat buah tomat dan cabai yang masak pohon berjatuhan di tanah dan bisa terus di sana sampai mereka benar-benar busuk dan diserap tanah. Anak-anaknya sangat menyenangkan. Pulang sekolah mereka main lumpur di sawah, mereka masih SD dan suka bermain sandiwara. Kau pasti takjub melihat mereka bermain-main dengan imajinasi mereka. Mereka tidak pernah memegang atau bermain gawai. Sesekali dalam beberapa hari ibu mereka yang bekerja di kota menengok mereka. Aku selalu merasa tenteram setiap melihat mereka.”

“Kedengarannya asyik.” Aku menyesap cokelatku yang tak lagi panas.
“Memang asyik. Kau tahu? Hidup di sini tidak mudah. Aku bahkan bisa bilang bahwa kehidupanku di sini adalah salah satu fase termundurku dalam hidup, tetapi aku selalu merasa kalau aku tidak apa-apa dengan semua ini, aku baik saja dengan keadaanku yang seperti ini -R sempat terbatuk, aku mempersilakannya minum-, aku heran orang-orang kadang tidak mau mengerti itu.”
“Mereka mungkin tidak mampu mengerti, bukan tidak mau.”, selaku.
“Iya. Mereka selalu merasa aku perlu ditolong. Barangkali aku memang nampak seperti perlu pertolongan, tapi selama aku tidak minta tolong aku berharap orang-orang mestinya tidak usah sibuk bicara. Aku akan sangat berterimakasih kalau mereka membiarkan aku menikmati semua ini. Semua ketidakpastian dan ketaktertebakan di sekelilingku sekarang.”
“Aku paham.”
“Aku tahu kau paham.”
“Berarti kau tidak ingin pulang?”
“Belum. Aku tahu kok kapan harus pulang, alam akan ngasih tanda.”

Aku selalu takjub pada R, pada keyakinannya akan waskita dan tanda. Dia selalu bisa melihat keajaiban kecil di sekelilingnya yang orang lain tak pernah bisa tangkap.

“Kau masih meditasi?” tanyaku
“Hehehe. Masih, kadang-kadang.”
“S sempat cerita padaku tentang vipassana.”
“Oh ya?”
“Iya. Aku tertarik, tapi sulit cari waktu untuk ikut retret.”
“Kau mesti coba.”
“Otodidak saja bagaimana? Hehehe.”
“Hehehe. Coba saja.”

Kami bercakap-cakap cukup lama. Sama sekali tidak buruk untuk sebuah pertemuan pertama. R banyak bercerita sementara aku lebih banyak mendengarkan, sampai terdengar dering dari ponselku. Satu kawan lain, si peminum bir berlabel Pitoist dalam mimpiku, tidak bisa menemui kami malam ini. Dia mengalami kecelakaan di sepertiga jalan ke arah penangkaran nyamuk yang menyamar sebagai kedai kopi tempat kami menunggu. Luka-luka dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, ia meminta maaf tidak bisa datang. Sayang sekali. Aku dan R sepakat untuk memuliakan peminum bir berlabel Pitoist di dalam mimpiku itu sebab ia terjatuh demi menghindar dari menabrak seekor anjing liar.

Pelayan kedai menghampiri kami, meminta maaf sebab malam sudah larut dan mereka harus segera menutup kedai. Mungkin mereka merasa sudah waktunya memberi privasi bagi nyamuk-nyamuk. Kami segera menghabiskan minum kami dan membereskan tagihan. Sebelum kami beranjak, R mengulurkan sebuah buku catatan bergambar rusa.

“Menulislah di sini L.”
“Menulis apa?”
“Apa saja sesukamu. Aku baru dapat buku catatan ini siang tadi. Aku suka gambar rusa di sampulnya.”
“Boleh menulis apa saja ya.”
“Iya.”

Aku menulis sebanyak dua halaman, lebih banyak daripada yang kurencanakan. Aku lupa tepatnya menulis apa, aku hanya ingat berpesan padanya agar menjaga kesehatan dan selalu bergembira. Aku tak memperbolehkannya membaca catatanku sebelum kami berpisah.

R menawarkan untuk mengantarku ke penginapan. Aku bilang aku jalan kaki saja tidak apa, dekat kok. R bersikeras mengantar. Akhirnya aku mengiyakan. Kami berjalan ke tempat parkir. Sampai di samping motor bebeknya, R kerepotan mencari kunci motor yang ia masukkan dalam tas kain bersama jutaan barang lain. Akhirnya kami berlutut di tempat parkir, R menumpahkan seluruh isi tasnya ke lantai. Kami tertawa. Buku-buku tebal, buku tipis, pulpen, kertas-kertas, dompet, dompet kain, kantong kain, gantungan kunci, boneka kecil, boneka agak besar, kunci, kunci yang lain, sisir, permen. R berhenti mencari kunci dan menawariku sekantong besar permen.

“Kau mau permen? Tapi permenku selalu permen telanjang keroyokan begini. Aku tidak suka permen yang dikemas satuan seperti kebanyakan permen sekarang. Selalu mengingatkanku pada upacara pemakaman.”
“Upacara pemakaman?”
“Dulu saat aku masih kecil, salah satu keluarga jauh kami meninggal. Aku ikut ke rumahnya, di sana ada beberapa mangkuk kecil yang berisi macam-macam permen, permen kopi, permen caramel, permen mint. Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari permen-permen itu. Mereka seperti rasa manis yang jahat dan berusaha mengusik dukacita orang-orang. Tidak suka. Aku tidak suka.”

Aku mengangguk mendengarkan ceritanya, menolak permen darinya karena aku memang tidak suka permen, dan kembali mengingatkannya untuk mencari kunci motor. Ketemu. Kami bersorak.

“Kau pasti tak pernah mengeluarkan barang-barang dari tasmu.”
“Hehehe. Iya.”
“Sayang bahumu.”
“Bahuku baik-baik saja kok.”

Aku menawarkan untuk memboncengkannya karena dia lebih kecil dariku dan sepertinya sedang agak sempoyongan, R menolak. Katanya, kau kan tamuku.

Kami berpisah di depan penginapan, saling memeluk dan bersalam dan berterimakasih satu sama lain. Siang hari berikutnya, aku kembali ke kotaku. Begitu sampai di bandara, kawan peminum bir berlabel Pitoist dalam mimpiku yang semalam telah jadi pahlawan bagi seekor anjing liar mengirim pesan pendek,

“Hei, sudah mendarat?”
“Sudah. Bagaimana keadaanmu?”
“Kayak Hell Girl. Bercula satu di jidat.”
“Keren.”
“Iya. Eh, kau ngapain saja sih di sini kemarin?”
“Nggak ngapa-ngapain. Kenapa?”
“Begitu kau jalan ke bandara, jalan Matahari Terbenam langsung diserang puting beliung.”
“Masa? Waktu aku jalan cuaca masih bagus.”
”Iya. Sekarang terowongan yang kau lewati saat ke bandara tadi ditutup, banjir parah. Hahaha.”
“Aduh.”
“Santai saja, kamu nggak bisa apa-apain cuaca.”
“Menurutmu kalau aku nggak ke pulaumu dan minta bertemu denganmu dan R, apakah kau akan tetap jadi Hell Girl dan jalan Matahari Terbenam tetap kena puting beliung?”
“Kayaknya sih enggak.”
“Ah sial.”
“Hahaha. Aku mau minum penghilang rasa sakit dulu. Kalau tertawa kepalaku berdenyut.”
“Mengobatlah, pahlawan anjing liar.”
“Yeah, apa kata perempuan pemanggil puting beliung saja.”

Aku menatap layar ponsel dan tiba-tiba merasa seperti tokoh Storm dalam serial komik X-Men.

Leave a Reply