Pintu

Pintu

Musim hujan yang panjang. Baru kemarin kita membicarakan pintu yang kian hari kian keras kepala, makin sulit ditutup dan dibuka. Suara derit kayu bertemu lantai semakin berat dan membikinku ngilu, tapi kamu masih saja menganggapku mengada-ada.

“Dulu tidak separah ini.”, katamu.

“Ini karena hujan. Kayu-kayu jadi lembab dan makin berat. Musim begini di mana-mana pintu dan jendela jadi sulit dibuka.”

Rasa-rasanya baru tadi kita berkelahi dengan gagang pintu yang rewel itu, ketika tahu-tahu kita tidak lagi bisa mengusiknya. Hei, kita baru saja kalah oleh sebuah pintu. Aku tidak lagi bisa mengetuk. Kau tidak bisa membukakannya untukku.

Aku bukan tidak tahu, sebesar apapun aku ingin menetap di situ, sebesar itu jugalah semesta akan di depan mata membanting pintu. Ah, tapi kita sudah lama berhenti membicarakan perkara-perkara macam itu. Maka ketika kita tahu kenangan tentang sesuatu akan dipaku sampai titik tertentu, kita melaluinya tanpa drama, tanpa lagu. Cuma ada kopi instan yg sudah tidak terlalu dingin, kalengnya berkeringat oleh hawa percintaan yang sengit.

Setelahnya kita pergi seperti biasa. Tanpa kalimat-kalimat atau bahasa tubuh istimewa. Percakapan-percakapan biasa. Tawa-tawa kecil yang mahal, begitu biasa. Bagaimana bisa kita merasa mengakhiri atau diakhiri sesuatu tanpa kita tau kapan segalanya dimulai bukan?

“Bagaimana perasaanmu?”
“Biasa saja”
“Dunia benar-benar tidak istimewa ya?”
“Kayak baru tahu saja”
“Hahaha..”

Mulut kita tertawa.
Hati kita tidak.
Seperti biasa.

(pic fr deviantart.com)

Leave a Reply