Ramon Fonseca, Novelis Pemutar Uang.

Photo credit: ramonfonsecamora.com

Beberapa hari yang lalu saya dibikin merinding saat membayangkan kerja lima jurnalis yang menggawangi harian Süddeutsche Zeitung di periode awal mereka menerima dan mengolah data bocoran skandal Panama Papers. Pertama kali membaca hasil investigasi yang membikin terjelengar ini, saya jadi bloon, diikuti perasaan culun, bahwa sementara di sini kami masih terus merundung Pak Menteri Gita Wiryawan perihal e-filing SPT yang kapiran, di luar sana para hartawan dari kalangan pengusaha, bandit, politikus, raja, atlet, ena-ena menabung pakai celengan babi raksasa tanpa pusing setor SPT. Macam anak SMA yang baru pertama kali baca bab awal Das Kapital aja, Lau. Cela Gita Wiryawan pada saya. Celaan Gita saya terima sebab saya paham hidupnya sebagai PNS dalam tugas belajar begitu syuram dan mencela manusia sempurna seperti saya adalah sama membahagiakannya dengan mencuri-cuil tepung di pinggiran tempe mendoan yang baru saja diangkat dari penggorengan. Ya, hakikat kebahagiaan bagi Gita memang se-ceketer itu saja. Cukup soal Gita, nanti cuping hidungnya megar.

Sesungguhnya yang lebih menarik bagi saya tentang Panama Papers malahan bukan soal wilayah labuhan pajak, perusahaan cangkang atau jumlah pajak yang berhasil dipecundangi para hartawan dan hartawati dunia, melainkan sosok Ramon Fonseca Mora. Ia bersama Jurgen Mossack mendirikan firma hukum Mossacc Fonseca yang kemudian diketahui sebagai firma hukum yang memayungi sejumlah besar perusahaan cangkang di Panama. Ramon Fonseca muda bercita-cita menjadi pastur, namun pada perjalanannya ia merasa bahwa kerja memutar uang ternyata lebih menarik ketimbang menjadi imam bagi umat. Ia belajar hukum dan politik di Universitas Panama kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah ilmu ekonomi dan politik di London. Sebelum mendirikan firma hukum yang kemudian ia gabungkan dengan firma sejenis milik Jurgen Mossack di 1986, Ramon bekerja di markas besar PBB di Swiss. Di samping pekerjaannya di Mossack Fonsecca, Ramon adalah seorang penulis. Bukan sembarang penulis, melainkan penulis best-seller yang berhasil memenangkan Ricardo Miro Prize, penghargaan sastra nasional di Panama, dua kali pula.

Yang ada di pikiran saya kemudian adalah, keamanan finansial pastilah sangat membantu penulis untuk bisa tenang dalam menghasilkan karya. Kalau kau seorang penulis, bayangkan, kau tak perlu mumet memikirkan cicilan rumah, atau kejaran tenggat pekerjaan, atau biaya sekolah dan berobat anak, atau rongrongan permintaan menjadi mesin ATM bagi keluarga dan mertua. Kau bisa mudah saja menyewa sebuah pulau buat menyepi dari hiruk pikuk dan menulis dengan khusyuk. Atau ya bisa saja sih kalau kau busuk, membayar mahal penulis bayangan yang bagus; kau bisa juga menyuap panitia penyelenggara pemberian penghargaan sastra di negaramu, atau membeli beruk-beruk yang –sialnya– punya pengaruh di dunia sastra buat mengucurkan puja-puji atas tulisanmu. Sungguh enaaaa…

John Steinback, penulis Of Mice and Men, bahkan setelah menulis tiga buah novel dan beberapa cerita pendek terbaiknya, masih belum bisa merasa aman secara finansial dan hal itu ia sebut mengusik kepenulisannya. Di awal kepenulisannya ia tinggal berpindah-pindah bersama istrinya yang bekerja secara sporadis dengan bantuan keuangan sebesar 25 dollar perbulan dari orang tua mereka. Ketika akhirnya novel Tortilla Flat meledak di pasaran dan memberinya keuntungan besar baik dari penjualan buku maupun film-nya, barulah Steinbeck untuk pertama kalinya merasa bebas dari kekhawatiran finansial dan dapat menulis dengan tenang. Of Mice and Men adalah buku pertamanya yang ia selesaikan dengan—ia menyebutnya—kemerdekaan artistik yang lahir dari perasaan aman dalam diri. Kepada Elizabeth Otis, perantara tulisannya, Steinback bilang, “I can write a better book. Maybe not. Certainly though I can take a little longer and write a more careful one.”

Saya terus jadi membayangkan semisal penulis-penulis asyik di Indonesia–yang karyanya sekarang saja sudah ntap berat–macam Mas Sulak AS Laksana atau Paman Yusi Avianto Pareanom atau pemuda harapan tetangga Dea Anugrah menjadi hartawan besar pemilik perusahaan cangkang di Panama, alangkah bahagia trewelu-trewelu pembaca karya mereka, macam saya.

Kembali ke Panama Papers, ya awloh, qu ingin mengemplang pajak juga tapi pertama-tama harus punya harta. Hhhhh..

Leave a Reply