Rayi

Dia barangkali memang tidak tinggal lama denganku ibunya, tapi jelas sifat rapuh dan pelupaku menurun padanya dengan sempurna. Namanya Rayi. Rayi saja tanpa nama belakang. Rayi yang dalam bahasa Jawa krama halus berarti adik. Tentang kenapa anak sulungku kuberi nama itu, mungkin akan aku ceritakan lain kali saja. Rayi anak manis, hanya saja dia sedikit pelupa. Dia selalu lupa di mana menaruh kunci, di mana menaruh ponsel atau payung, dia lupa nama orang sesering dia tiba-tiba lupa apa yang dia akan katakan atau lakukan. Kadang aku curiga jangan-jangan ruang di kepalanya banyak dia habiskan untuk mengingat hal-hal yang beratnya seperti timbal dan tidak menyisakan tempat untuk hal-hal ringan.

Rayi, aku kasihan padanya. Kakek nenek dari pihak bapaknya tidak pernah menyukainya sebagaimana mereka tidak pernah menyukaiku. Umur seminggu dan masih bayi merah ia kubawa berkereta dua belas jam lamanya lalu kutinggalkan di rumah nenek dari pihakku selama berbulan-bulan berikutnya. Aku tidak ingat merasa berat hati saat harus meninggalkannya dengan neneknya. Aku punya banyak adik yang pasti akan membantu ibuku mengurusnya. Biar saja dia membiasakan diri makan air tajin yang dicampur sedikit gula jawa, tak apalah, orang tua bilang air tajin baik, bikin anak cepat besar. Belakangan aku pernah mendengar Rayi mengomentari tetangga kami yang memberi air tajin pada bayinya, “Terang saja anaknya cepat besar, dikasih gula tinggi begitu siapa yang tidak bengkak.”

Aku menelan ludah dan berusaha tetap tenang mendengarnya, untunglah aku tidak pernah menceritakan saat kecilnya dia kuberi makan apa. Mau bagaimana lagi, mertuaku saat itu membenciku dan lebih-lebih lagi membenci Rayi sejak dia baru lahir. Aku mana bisa membiarkan dia tinggal serumah bersama kami, salah-salah suatu pagi aku akan menemukan dia biru kaku mati dicekik oleh mertuaku. Baiklah, yang terakhir barusan mungkin aku memang agak berlebihan. Tapi sungguh, ketika itu aku tidak menemukan jalan keluar lain selain menitipkannya pada ibuku. Bukankah itu lebih baik daripada dia kugugurkan sejak dalam kandungan seperti kakaknya? Ah, lupakan.

Tidak sampai setahun dari sejak kutitipkan di neneknya dari pihakku, Rayi kubawa pulang ke rumah kami yang sekarang, tepatnya rumah warisan almarhum kakeknya dari pihak bapaknya. Ketika itu bapak mertuaku sudah meninggal sehingga aku dan Rayi bisa sedikit lebih leluasa di sana. Ibu mertuaku masih ada namun dia sudah lemah dan sakit-sakitan. Hanya aku yang bisa diandalkan untuk merawatnya, maka dia tidak lagi bisa rewel macam-macam seperti dulu saat suaminya yang galak dan suka menunjuk-nunjuk muka orang lain dengan tongkat saat marah itu masih hidup.

Rayi sangat penurut. Seperti aku pada orang tuaku. Sama sekali tidak pernah membantah. Dia sopan, sangat baik tutur katanya. Sebagai orang Jawa tentu saja aku bangga bahwa anakku masih berbahasa krama halus padaku. Tetanggaku mana ada yang anaknya begitu. Mereka semua njangkar kurang ajar saat bicara dengan orang yang lebih tua. Orang tuaku ningrat. Dulu, di desa, saat kecilku aku selalu dipanggil Den, Raden Sruni. Saat ini memang sudah tidak ada lagi yang memanggil begitu, tapi sesungguhnya sifat penuh basa-basi tidak akan pernah hilang dari keluargaku. Namun gen itu putus di Rayi. Dia tidak kenal basa-basi. Dia tidak akan bilang semua baik saja saat dia merasa tidak nyaman, paling-paling dia hanya diam, melakukan apa yang harus dilakukan, lalu menerima pujian yang dia akan tanggapi dengan tenang. Agak terlalu tenang untuk anak kecil seumuran dia waktu itu. Setidaknya itu yang aku perhatikan selama ia tinggal bersamaku sampai umur sepuluh tahun. Setelahnya Rayi kembali kutitipkan kepada ibuku, tepat sehari setelah acara tujuh-bulanan calon adiknya yang masih dalam kandunganku, Raya. Sejak saat itu dia tidak pernah tinggal bersamaku lagi, kami hanya bertemu sesekali, sampai sekarang.

Rayi selalu berambut pendek. Rambutnya tidak pernah melebihi bahunya. Sedikit saja panjang rambutnya sudah kelihatan melewati telinga, aku akan langsung membawanya ke tukang potong rambut langganan, seorang kapster laki-laki yang kemayu dengan nama maskulin, Syahrir. Barangkali satu-satunya perintahku yang Rayi lakukan dengan ogah-ogahan adalah ritual potong rambut ini, dia memang tidak menolak, tapi dia menggerakkan tubuhnya dengan sangat lambat dan berjalannya diseret-seret. Saat duduk di kursi depan cermin, bibirnya akan mengatup kaku, lalu jari-jari lentik Mas Syahrir bekerja dengan gunting tajamnya. Aku duduk tenang di belakangnya, mengawasi dari cermin. Entah bagaimana, suara rambut terpotong oleh sepasang logam tajam itu selalu membuatku nyaman.

Ketika Mas Syahrir bertanya pada Rayi, “Sudah cukup segini?”

Rayi akan mengangguk, kemudian aku akan berdiri dari tempat dudukku, “Tidak, tidak, kurang pendek. Kurangi sedikit lagi.”

Mas Syahrir akan berdiri sedikit bingung, memandang wajah Rayi yang memberengut, lalu berpindah memandang wajahku yang tegang dan tidak mau dibantah. Tentu saja ia memilih menurutiku, aku yang membayar ongkosnya, bukan Rayi. Lagipula sudah kubilang, Rayi tidak pernah menolak apa-apa, paling-paling hanya wajahnya yang memberengut dengan mata merah menahan tangis. Aku kenal benar anakku dan aku terus meminta Mas Syahrir memotong rambutnya lebih pendek, lebih pendek, lebih pendek lagi. Sebelum kami pulang, aku selalu bilang pada Rayi, “Rambutmu bagus begitu.Tidak usah merengut, Ibu belikan bakso.”

Aku membayar ongkos potong rambut, lalu kami menuju warung bakso langganan, Rayi menghabiskan baksonya, ingus berleleran dari hidungnya, bukan karena pedas sambal tapi karena tangis. Dia akan terus berleleran ingus seperti itu sampai paling tidak dua hari ke depan, tidak mau bicara padaku dan kadang-kadang jadi demam. Begitulah, tapi selain itu hubungan kami baik-baik saja.

Rayi sekarang sudah dewasa, sudah umur dua enam. Sudah jadi sarjana dan bekerja jadi sekretaris manajer perusahaan tekstil di Jakarta. Terakhir dia menelepon dari Agra, India, ada pekerjaan di sana, soal tekstil, seperti biasa. Dia rajin mengirimi kami -aku dan bapaknya- uang setiap bulan, hingga kami bisa memperbagus rumah menjadi bertingkat seperti sekarang. Rayi tidak pasti bisa datang ke rumah setahun sekali. Dia tidak pernah dramatis, sementara bertemu dengannya aku selalu ingin menangis. Alangkah benarnya aku membiarkan ibuku saja yang membesarkannya. Demikian beruntungnya aku mempunyai anak sebaik dia, tidak pernah menyusahkan orang tua, tidak pernah membantah atau membuat marah, meski dia tetap sedikit bicara dan juga tidak pernah memelukku lebih dulu. Selama dia tetap tidak bergejolak seperti sekarang, dan tidak hamil di luar nikah (sebagaimana pikiran semua ibu di dunia mengenai anak perempuannya), dia tetap anak terbaikku. Adapun Raya, adiknya, benar-benar tidak ada apa-apanya.

————————————————-oo0oo——————————————

Menurutku dia mirip aku, bapaknya. Rayi melankolis dan selera humornya sadis. Dia bisa membikin sekelilingnya tertawa bingung pada leluconnya yang kering sementara dia menceritakannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia sulit dibuat tertawa, sulit dibuat bicara dan membenci kerumunan. Mirip aku bukan? Aku tahu sejak kecil dia terlalu menahan diri atas segala sesuatu dan akibatnya dia kadang lepas kendali dalam hal-hal tertentu. Seperti ketika aku beberapa kali memergokinya sedang masturbasi saat dia masih duduk di kelas tiga SD. Aku tidak terlalu terkejut, aku tidak menegurnya, lagipula untuk apa, dia akan tetap dengan sembunyi-sembunyi melakukannya lagi. Kan sudah kubilang aku mengenal dia seperti aku mengenal diriku sendiri. Ibunya saja, Sruni, yang suka cerewet menyuruhku menasehatinya. Kupikir itu karena dia tidak sanggup saja mendekati Rayi dan membicarakannya baik-baik, dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Mereka berdua sangat berjarak dan selalu menghindari terlibat dalam pembicaraan yang serius. Itu salah dia sendiri sebenarnya. Sudah kubilang jangan tinggalkan dia di rumah neneknya, sudah jauh, kolot pula mereka. Tapi aku bisa apa. Orang tuaku yang tinggal serumah dengan kami seperti punya alergi pada Sruni, sejak hari pertama ia kubawa ke rumah. Mereka tidak pernah bisa tahan seruangan dengan Sruni, seperti takut akan terserang gatal-gatal kalau sampai berdiri dalam jarak satu meter saja dari dia. Masalahnya rumah yang kami tinggali sangat kecil, mustahil kami tidak bersinggungan, dan asal tersenggol sedikit orang tuaku bisa jadi rewel sekali mengomel kesana-kemari dengan sengit. Sruni baik dan tabah, tidak pernah bisa terbaca di mukanya sedikit saja kebencian pada mertuanya, orang tuaku. Walaupun dalam hatinya aku juga sama dengan kalian, tidak tahu. Kami tidak pernah membicarakan soal itu. Aku rasa akulah yang sengaja menghindar dari membahasnya, sebab semenyebalkan apapun orang tuamu, selalu sulit untuk membicarakan kekurangan mereka pada orang lain.

Rumah yang kami tinggali makin gerah, tapi aku anak bungsu, tidak bisa kemana-mana. Kadang-kadang aku merasa rendah, seperti hanya menunggu sebuah pagi di mana nanti akan kutemukan salah satu orang tuaku meninggal dunia, lalu salah satu yang lain akan menyusulnya di satu malam atau pagi yang lain lagi. Aku sungguh merasa bersalah mengakui bahwa aku sangat siap menghadapi kematian mereka, bahkan jangan-jangan -yang ini terus-menerus aku sangkal- aku tidak keberatan kalau mereka meninggal lebih cepat. Iya, diam-diam aku adalah anak bungsu yang laknat.

Mungkin karena aku seringkali merasa risih pada diriku sendiri, juga karena rumah kami makin pengap oleh ucapan-ucapan sengit dan pikiran-pikiran sampah, aku tidak tega membiarkan Rayi tumbuh di rumah ini. Barangkali nanti, seperti kubilang tadi, ketika kakek neneknya yang pembenci sudah tidak ada lagi, dia akan kubawa kembali ke sini. Sementara menunggu waktu itu tiba aku bisa menyiapkan cerita-cerita yang akan kusampaikan padanya untuk membayar ketidakberadaanku selama dia di jauh sana. Toh aku selalu punya banyak waktu luang untuk melamun dan menyusun banyak cerita, aku tidak bekerja, tidak banyak yang aku lakukan setiap harinya.

Maka pada suatu akhir pekan, saat pagi baru merekah, merah seperti kulit Rayi yang baru berumur sepuluh hari, aku mengantar Sruni ke stasiun kereta api di kota sebelah. Sruni tidak memintaku ikut berkereta ke rumah orang tuanya, akupun tidak ingin menawarkan diri untuk menemani. Pikiran bahwa aku hanya melepas mereka piknik sebentar keluar kota terasa lebih menentramkan ketimbang bayangan aku dan istriku meninggalkan Rayi yang sedang menangis keras dengan kaki kecilnya menendang-nendang. Dalam hatiku aku selalu percaya, istriku jauh lebih kuat daripada aku. Aku juga percaya dia lebih mudah menghadapi segala sesuatu tanpa aku yang dengan canggung berusaha menghiburnya. Tentu saja semua baik-baik saja. Kami sudah menyadari semua keadaan ini dan menerimanya sejak lama.

Begitulah Rayi berpisah dengan kami, dia kembali saat sudah bukan bayi yang suka rewel di malam hari, sudah mulai bisa berjalan sendiri. Ia tinggal bersama kami tidak sampai sepuluh tahun, lalu pergi lagi sampai sekarang belasan tahun kemudian. Aku tahu, berada jauh dari kami membikinnya jadi kuat, itulah maka aku selalu merasa seperti tiba-tiba mengkerut setiap dia ada. Aku teripang laut yang tua, Rayi adalah pasir pantai yang hangat matahari, aku tidak tahan berlama-lama di dekatnya. Sejak lahir dia tidak merepotkanku, lalu dia datang saat dia sedang riang-riangnya menjadi bocah, membikin rumah kecil kami menjadi hangat, dan aku merasa jadi manusia yang lebih berguna saat cerita-cerita yang selama ini terkurung di kepala bisa keluar dan membikin matanya berbinar. Kemudian saat dia mulai beranjak remaja dan hidup jadi sedikit lebih rumit, dia kembali pergi dari kami, dibebaskannya kami dari pertanyaan-pertanyaan sulit dan pertengkaran-pertengkaran antara orang tua dan anak yang menguras tenaga. Lalu Rayi kembali lagi saat dia sudah bisa menghidupi kami, datang hanya sesekali, tanpa pernah membawa persoalan hidupnya kepada kami.

Dia anak yang sempurna. Terlalu sempurna. Sampai-sampai aku menjadi segan. Tak masalah dia tak pernah bangga memiliki ayah sepertiku, aku tetap bangga padanya. Dia tidak pernah meminta apa-apa, sehingga aku terlepas dari segala keharusan memenuhi dan mengabulkan seperti layaknya ayah-ayah lain di dunia.

————————————————-oo0oo——————————————

Aku jarang bicara, tapi kepalaku tidak mau diam. Orang tuaku tidak peduli padaku sejak aku bayi dan sekarang aku harus menafkahi dan menyirami mereka dengan materi. Aku bisa apa. Mereka sudah layu dan aku sering jatuh iba.

Bapakku kurus kering, aku sering merasa bisa memahaminya sekaligus tidak bisa memahaminya dalam waktu yang bersamaan. Aku bayangkan dulu Bapak sangat mencintai ibuku karena dia sampai rela berpindah agama demi menikah dengan Ibu. Atau barangkali mungkin sebenarnya tidak sedramatis itu, bisa jadi agama bukanlah hal yang sedemikian perlu diambil hati oleh Bapak. Entahlah. Tapi aku selalu ingat Ia menjemputku setiap lepas Isya dari rumah Haji Mujib guru mengajiku, sejelas aku bisa mengingat bagaimana aku selalu menggandeng tangannya kuat-kuat sambil memejamkan mata saat kami melewati kebun kosong gelap yang menghubungkan rumah Haji Mujib dengan jalan raya. Aku ketakutan tapi yakin bahwa aku aman. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah Bapak tahu bahwa setiap kami berjalan pulang, mataku selalu pejam. Tapi kupikir diam-diam dia pasti tahu. Orang dewasa selalu tahu segalanya bukan?

Setiap orang punya kenangan buruk, ibuku juga. Aku rasa dia trauma dengan pengalaman masa kecilnya –sebagaimana diceritakan Ibu padaku- saat kakekku, setiap tiga bulan sekali selalu membawa ibuku memotong rambutnya pendek-pendek di tukang cukur langganan mereka. Setelahnya kakek akan membelikan ibuku bakmi Mbah Singo di sudut alun-alun. Begitu terus setiap tiga bulan sekali. Dan itu juga yang saat kecilku selalu ibuku lakukan padaku. Memotong sangat pendek rambutku lalu membelikanku mie bakso. Aku merasa sangat jelek berambut pendek. Aku selalu menangis tapi aku tidak ingin membantah ibuku. Setelah aku lebih besar aku mulai mengerti bahwa membawaku potong rambut sependek mungkin tiga bulan sekali adalah salah satu caranya untuk bisa merasa memegang kendali atas hidup.

Bapak suka melamun dan Ibu suka menangis. Aku tidak tahu kenapa dan aku tidak pernah merasa perlu mencari tahu. Mereka juga tidak pernah mencari tahu apa-apa tentangku. Impas bukan? Lagipula aku selalu punya banyak PR dan rencana bermain yang rumit dan tidak boleh aku kacaukan. Aku anak kecil yang pintar mencari pengalih perhatian memang.

Aku punya satu adik perempuan, Raya namanya. Dia sebelas tahun lebih muda dariku. Cantik dan rajin belajar. Agak manja kupikir, tapi tidak masalah, di dekatnya selalu ada sepasang orang tua yang selalu memastikan dia tidak kekurangan suatu apa. Aku tidak terlalu dekat dengannya, sama seperti aku tidak pernah terlalu dekat dengan siapapun juga.

Orangtuaku, mereka bangga padaku, aku tahu. Aku anak baik yang tidak pernah menuntut apa-apa. Aku tidak pernah marah dan tidak suka membikin keributan. Aku menerima saja apa yang ada di depan mata tanpa bertanya kenapa begini atau begitu. Aku suka belajar, aku suka mengajari teman-temanku, aku suka bernyanyi, aku suka menari, aku suka mengaji. Aku anak pintar yang dikirim ke segala jenis lomba sejak duduk di taman kanak-kanak. Aku selalu pulang paling awal di kelas setiap guru-guru membikin kuis di jam pulang sekolah. Aku tidak pernah dihukum. Tulisan balok atau latinku bagus. Aku suka mengalah. Aku selalu sopan dan makan dengan rapi. Aku suka membersihkan rumah. Setiap aku pergi main aku selalu membawa apa saja yang bisa mengalihkan perhatian orang tuaku dari memarahiku karena bermain terlalu lama. Suatu saat aku akan membawa buah-buahan dari rumah kawan, kali lain aku membawa daun singkong muda yang kupetik di kebun tumpang sari Wak Liman, kali lainnya lagi aku membawa abu gosok untuk mencuci jelaga di panci dan wajan Ibu dari pembakaran batu bata yang aku lewati saat pulang. Ibuku selalu senang dengan apapun yang aku bawakan. Saat sakit aku tidak pernah mengeluh apalagi mengerang-erang. Aku selalu menurut dan tenang saat diajak ke dokter gigi yang menyeramkan seperti alien.

Kau sudah bisa lihat? Orang tua mana yang tidak bangga punya anak sepertiku?

Kau tahu, aku tidak bangga pada orang tuaku, juga tidak pada diriku. Aku adalah kombinasi sifat buruk dari keduanya. Pemurung, suka melamun, pemalas, suka melantur dan berpikiran buruk, rendah diri dan abai, itu yang kudapat dari Bapak. Rapuh, cengeng, pemalu, pikun, palsu, itu yang kudapat dari ibuku. Hebat bukan?

Dengan kombinasi sifat seperti itu kadang-kadang aku merasa takkan bisa bertahan hidup. Tapi lalu pada suatu hari yang sulit, saat lambung sedang nyeri-nyerinya karena terpaksa “mencerna dirinya sendiri” (orang miskin yang jarang makan pasti tahu maksud kata-kataku barusan), aku mendapat pencerahan. Ting! Sebuah lampu bohlam tiba-tiba menyala di kegelapan pikiranku. Badanku saat itu demam, lemas dan berkeringat dingin karena kurang makan, meringkuk di kamar kos kecil yang gerah, sama sekali tanpa uang. Saat itu aku berkhayal bahwa kondisiku mirip seperti saat Muhammad ujlah di gua Hira. Lalu aku mulai tersenyum sendiri dan berpikir, mestinya ini waktu yang paling tepat untuk turunnya inspirasi paling hebat atau semacam wahyu kenabian (pada titik ini aku terkikik sedikit membayangkan Pak Muhajir, guru agamaku saat SMA menabok kepalaku dan menyuruhku istighfar).

Benarlah bahwa pada keadaan paling sulit, manusia selalu akan menemukan jalan yang tidak pernah ia duga-duga. Tiba-tiba di kepalaku ada suara, jelas sekali, “Pergilah ke warung depan, pesan makan dengan nasi dan lauk yang banyak dan teh manis hangat. Setelah habis kau makan, bilang kalau uangmu ketinggalan. Mukamu lugu dan kau tidak pernah berhutang. Mereka pasti percaya padamu. Nanti saat kau punya uang, bayarlah.”

Suara lain di kepalaku mengomel, “Matamu. Mau ditaruh di mana mukaku?” Tapi toh akhirnya aku berangkat juga. Badanku sudah kehabisan tenaga, bagaimana kalau aku pingsan lalu mati sendiri di kamar kos? Mati muda mungkin terdengar gagah, tapi mati muda karena kelaparan itu sungguh hina. Akhirnya aku mengikuti suara di kepalaku tadi. Benar saja, ibu pemilik warung sama sekali tidak curiga, dia cuma tersenyum maklum. Oh, terberkatilah kau ibu-ibu penjual nasi yang baik hati. Aku keluar dari warung dengan perut kenyang dan harga diri yang terselamatkan. Setelah kejadian itu, aku mempersenjatai diri yang lemah dan lugu dengan dua hal: siasat dan kenekatan.

Aku selesai kuliah dengan cepat tentu saja. Segera aku pergi ke Jakarta, sebagaimana sarjana-sarjana dan manusia-manusia instan lainnya. Belum seminggu di Jakarta aku sudah mendapat pekerjaan di sebuah toko tekstil besar bertingkat tiga di Pasar Baru milik seorang laki-laki India yang selalu kupanggil Baba. Awalnya Baba ragu-ragu menerimaku sebagai kasir di tokonya. Dia bilang pekerjaan ini hanya untuk lulusan SMA, tidak pernah ada sarjana yang mau jadi kasir toko tekstil. Aku bersikeras. Padanya aku bilang, “Gajilah saya sama seperti Baba menggaji lulusan SMA yang lain.”

Pada Ibu dan Bapak di rumah, aku bilang aku bekerja sebagai sekretaris manajer perusahaan konveksi. Tentu saja mereka percaya. Seperti biasa.

Keputusan Baba mempekerjakanku barangkali adalah keputusan terbaik yang pernah dia ambil. Aku selalu suka mengamati orang lain. Menjadi kasir adalah kesempatan yang baik untuk mengamati orang lain. Diam-diam aku selalu memperhatikan pembeli-pembeli kami yang terlihat kaya dan royal, lalu dengan seijin Baba aku meminta nomor ponsel mereka dan menghubungi mereka setiap kami mengadakan potongan harga. Semua orang menyukai ideku ini, pelanggan-pelanggan kami, dan terutama Baba sendiri. Dalam daftar nomor ponsel yang aku simpan, aku juga merekam nama-nama orang dan ciri-ciri fisik mereka. Aku tahu suatu saat itu akan berguna, kalau tidak untuk Baba ya untukku.

Baba begitu terkesan padaku, beberapa kali dia sudah naikkan gajiku tanpa memberitahu karyawannya yang lain. Aku tahu dia tertarik padaku. Dia laki-laki keturunan India yang tidak terlalu tampan, tidak terlalu tinggi, tidak bau kari, tidak terlalu “India” (kalau kau mengerti maksudku). Dia duda beranak satu yang selalu sibuk, dan aku karyawan yang rajin, terlalu rajin. Aku selalu pulang paling akhir, aku sering membicarakan ide-ideku padanya, kuakui kadang-kadang aku sengaja ingin membikinnya terkesan. Aku berhasil tentu saja, buatnya aku adalah aset paling berharga. Apalagi setelah ia berhasil meniduriku pada suatu malam, di atas berlembar-lembar kain pesanan yang baru datang sore harinya.

Setelah persetubuhan yang singkat itu, saat kami masih sama-sama berpeluh, Baba bertanya padaku, “Kau sudah tidak perawan?”

“Iya, dan aku tidak ingin membahasnya.”

Baba tidak bertanya lebih jauh. Aku masih telentang, tanganku bersidekap sementara Baba berbaring miring menghadapku. Aku bisa merasakan dia memperhatikanku dari samping tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk ikut memiringkan tubuh menghadap ke arahnya. Aku tidak suka mengingat-ingat mengenai kapan dan bagaimana aku kehilangan keperawananku. Kejadiannya cepat dan tidak bisa disebut indah walaupun saat itu aku melakukannya dengan orang yang kucintai. Sekarang aku tidak mempercayai cinta atau semacamnya. Keperawanan juga bukan hal yang penting. Barangkali ini penghiburanku saja, aku berusaha membuat diriku berpikir bahwa aku tidak pernah memberikan sesuatu yang bernilai untuk seseorang yang saat ini juga tidak bernilai apa-apa bagiku selain sebagai laki-laki pembolak-balik kata yang pengecut dan mata keranjang. Tentu saja orang tuaku tidak tahu soal itu. Aku tetap perawan suci di mata mereka. Semengerikan-mengerikannya pikiran mereka tentangku, kurasa tidak bakal lebih jauh dari ingatan ketika mereka memergokiku masturbasi saat aku masih bocah kelas tiga SD dulu. Nyatanya mereka tidak melakukan apa-apa, dan tentu saja aku juga tidak menghentikan apa-apa yang mereka tidak pernah permasalahkan.

Aku berkemas dan bersiap pulang dari toko Baba seperti biasa setelah mengomel tentang cashmere mahal yang menjadi kusut oleh keringat kami berdua. Aku ingat Baba hanya tertawa. Dia kelihatan senang dan puas. Baba menawarkan diri untuk mengantarku pulang dan aku menolak.

Hari-hari setelahnya Baba tetap bersikap biasa kepadaku. Aku sengaja tidak mau menerima kebaikan-kebaikan kecil yang ia tawarkan dan tidak selalu mengiyakan setiap ajakannya berhubungan badan. Hubungan kami tetap tampak wajar seperti karyawan dengan majikan. Percayalah, aku adalah orang paling tidak menarik perhatian. Aku berpakaian biasa saja, berbicara biasa saja, bergaul biasa saja, berperawakan biasa saja, berwajah biasa saja, sangat biasa sampai kau tidak akan bisa menyadari keberadaanku kecuali aku dengan sengaja berkata atau melakukan sesuatu yang tidak kau sangka-sangka.

Kau ingat nomor-nomor ponsel yang aku simpan di buku pelanggan Baba? Belakangan aku makin mengamati mereka yang datang, terutama yang laki-laki. Aku bisa melihat dompet tebal mereka, wajah bosan mereka, senyum palsu dan gerak tubuh yang penuh kejenuhan. Pada nomor orang-orang yang kuanggap menarik, selain rajin mengirim sms potongan harga, kadang aku sengaja salah mengirim pesan singkat yang akan menarik kami ke percakapan lebih dalam. Aku punya banyak sekali pesan-pesan yang bakal membikin siapapun penasaran, bukan pesan murahan yang menawarkan diri, bukan, melainkan pesan yang akan membuatmu melihat bahwa aku adalah sesuatu yang istimewa. Kecuali kau laki-laki bodoh yang tidak mengerti hal-hal sederhana seperti sarkasme dan metafora. Asal kau tahu, aku tidak pernah mau dekat-dekat laki-laki macam itu.

Beberapa dari mereka yang kukirimi pesan “salah kirim” tadi akhirnya mengajakku ngobrol di luar, terkejut entah pada apa yang terkandung dalam omonganku lalu tertarik bersetubuh denganku. Jangan tanya bagaimana aku merayu mereka. Laki-laki semuanya sama, kau tidak harus genit, kau hanya perlu mencari kalimat yang tepat untuk membawa mereka ke arah sana. Aku memasang harga, mereka setuju, dan kami bertransaksi dengan baik. Aku hanya memilih mereka yang benar-benar berminat mengobrol denganku sejak awal, yang tertawanya tidak menyebalkan dan yang paling merasa hidupnya tidak bahagia. Setelah bergaul denganku, mereka akan tahu bahwa kesenangan mungkin ada, tapi tidak kebahagiaan. Kemudian setelah bersetubuh denganku mereka akan tertawa pahit dan merasa sedikit lebih pintar daripada orang di luar sana yang masih tergesa-gesa memburu sesuatu yang bernama kebahagiaan. Kesadaran semacam itu mahal sekali, kalau kau mau tahu.

Oh ya, rumah orangtuaku sudah selesai direnovasi, adikku Raya sekolah di sekolah lanjutan atas yang bagus, dan kemarin ibuku sambil lalu bilang ingin naik haji. Aku tersenyum sambil membatin, akan kupenuhi apa mau kalian, orang tua. Akan kupenuhi. Walaupun aku tahu bahwa aku bukan anak yang mereka harapkan saat aku menemukan buku nikah mereka yang tanggalnya hanya selisih dua bulan dengan tanggal lahirku, atau bahwa aku hanya diberi air tajin dan gula merah oleh nenek sejak umur sepuluh hari di ratusan kilometer jauhnya dari mereka, atau bahwa mereka tidak pernah menengokku barang sekalipun saat bertahun-tahun aku tinggal sendirian di kota asing yang cuma tujuh jam perjalanan darat dari rumah mereka. Aku melihat dan mengerti segalanya, sedangkan mereka tidak. Tidak apa, tugas mereka hanya satu, merasa bangga.

Terakhir aku mendengar suara senang Ibu dari sambungan telepon luar negeri saat kubilang secepatnya ia bisa segera membayar uang muka pendaftaran hajinya. Samar-samar aku mendengar suara ibu-ibu lain di belakang suara ibuku, mungkin sedang ada arisan atau pengajian atau hajatan. Mereka pasti iri pada Ibu. Aku meneleponnya dari Agra, kubilang ada pekerjaan dari perusahaan yang mengharuskan aku melakukan survey terhadap produsen konveksi di India. Tentu saja tidak begitu. Aku hanya sedang berjalan-jalan dengan Baba yang lengannya tengah memeluk tubuh telanjangku di balik selimut di sebuah hotel mewah yang tenang dekat Taj Mahal.

Sudah kubilang, tidak pernah perlu cinta atau omong kosong berlebihan lainnya soal kasih sayang hanya untuk bisa memberi banyak. Kau hanya perlu kenekatan, dan sedikit siasat.

 

———————–

*) Dimuat di Jakartabeat, 22 Oktober 2014.

Leave a Reply