Ruud Van Nistelrooy dan Indiana Jones yang Jatuh dari Kuda

Saya sedang keluar dari hotel Acacia, lalu jalan saya ditahan satpam, ternyata ada rombongan timnas Belanda, paling depan Ruud Van Nistelrooy. Di parkiran basement saya ketemu mereka lagi, seorang laki-laki Jepang menawari saya berfoto dengan Ruud. Tentu saja saya mau, beberapa anak TK ikut juga, mereka lompat-lompat senang seperti kelinci pakai tas ransel. Si lelaki Jepang berkenalan dengan saya lalu saya diajak ke paviliun Ruud. Ini ajaib, sepertinya Ruud naksir saya, kami saling cerita dalam bahasa Indonesia dan tertawa hahaha-hahaha.

“Aku tahu sebuah rahasia, kamu sebenarnya orang Betawi, Ruud itu nama samaran, nama aslimu Ro’id kan? Ro’id bin Namin?”

Ruud terkejut,

“Kok kamu tahu sih?”

Kami tertawa lagi dan tahu-tahu saya tiduran di atas dada Ruud van Nistelrooy a.k.a Ro’id bin Namin. Saya pulang pagi, ibu dan keluarga menunggu dengan cemas di teras, ternyata berita saya dengan Ruud sudah menyebar di seluruh negeri, lalu apakah saya akan jadi WAGs? Jelas tidak, karena jadi WAGs itu mutlak harus seksi sedangkan saya bantat seperti bolu kukus kurang baking soda. Sorenya Ruud datang ke rumah, semuanya senang selain bapak saya, dia gemas sekali pengin mengusir Ruud, dan keluarlah bapak saya dengan marah. Lho, kok bapak saya Harrison Ford? Wuih! Hore bapak saya ganteng! Ternyata bapak saya ini walaupun ganteng tapi agak katrok, mau usir Ruud saja ngeyel harus naik kuda, ya maklumi saja lah ya, namanya juga Indiana Jones. Naiklah bapak idaman ke atas kudanya, hup! Bapak salah menyentakkan tali kekang, kudanya melompat tinggi dan Harrison Ford tercinta jatuh dari kuda. Ibu saya tergopoh menolong,

“Sudahlah pak, nggak usah aneh-aneh, sudah tua.”

Saya berdiri di samping Ruud van Nistelrooy dan merasa hidup sangat mempesona.

Kemudian suara adzan Subuh. Iya, itu tadi mimpi. Saya senang saat pikiran saya tahu bagaimana cara menghibur dirinya. Saya ber-high five dengan kepala saya dan saling mengucapkan selamat hari Selasa.

 

 

Leave a Reply