Sekolah Doa Enam Agama

Memilihkan sekolah untuk anak selalu jadi urusan memumetkan bagi orang tua. Perkara ini saya sadari menjadi semakin rumit saja saat kita tinggal di Jakarta. Selain memikirkan kualitas sekolah, yang harus pula ditimbang adalah jarak sekolah dari rumah, masuk akal enggaknya biaya, bilingual atau tidak, lebih banyak kasih porsi bermain atau pekerjaan rumah, punya riwayat perundungan atau tidak, dan masih banyak lagi. Saat saya masih bocah tinggal di kota kecil di Jawa Tengah, memilih sekolah demikian mudah. Cari yang paling dekat dari rumah, sudah. Di Jakarta, tak jarang urusan memilihkan sekolah anak jadi bibit masalah yang bahkan bisa merembet menjadi konflik ekonomi, konflik nilai, dan lainnya.

Kemumetan seputar memilihkan sekolah ini terkadang menggebuk kewaspadaan orang tua juga. Bayangkan, saat anak baru berumur 3 tahun lebih sedikit, orang tua sering kali mesti sampai harus berdebat dan terlibat drama sana-sini karena perbedaan pendapat dalam memilihkan kelompok bermain buat bocah yang masih balita. Asyiknya, menjadi orang tua adalah kemestian berjibaku dengan urusan demikian sampai si anak dewasa, atau setidaknya sampai ia berusia di atas 18 tahun, titik di mana mereka mesti lebih diberi keleluasaan untuk memutuskan hal-hal dalam kehidupan mereka sendiri.

Baru membayangkannya saja sudah pegal. Minta ampun.

Belakangan saya terbiasa melihat anak-anak bersekolah di sekolah berbasis agama. Berangkat pagi, pulang sore hari dengan banyak pelajaran tambahan untuk menggosok kesalehan anak. Tidak ada yang salah dengan semua itu, tentu. Orang tua berhak memilihkan apa-apa yang mereka percayai baik bagi anak mereka. Yang mengharukan sebenarnya lebih kepada keterpanggilan mereka untuk sekonyong-konyong menasehati semua orang di sekitar agar memiliki pilihan yang sama. Saat bertemu kerabat atau tetangga, pertanyaan yang paling lazim keluar dari mereka adalah seputar mengapa saya tidak memasukkan anak ke sekolah berbasis agama. Kemestian selanjutnya, mereka bakal menyampaikan a-i-u-e-o serba-serbi nilai lebih sekolah berbasis agama (di mata mereka), dengan harapan saya dihampiri hidayah sehingga tergerak mendaftarkan anak ke sekolah berbasis agama. Pilihan sikap saya masih sama: tidak.

Kenapa tidak? Sederhana saja, saya ingin anak saya bergaul dengan semua golongan, tidak mabuk keseragaman, luwes dengan perbedaan. Itu sudah. Saat anak saya ada di usia Kelompok Bermain, saya memasukkannya ke Indonesia Playschool. Agak jauh dari rumah, tapi sepadan. Menginjak usia TK, ia melanjutkan di sekolah yang sama, betah dan gembira anaknya. Sempat pindah ke luar negeri selama satu setengah tahun, ia masuk ke state school yang sangat heterogen. Gurunya di kindergarten satu berasal dari Pakistan, satu dari Timur Tengah. Masuk pre-school temannya makin beragam, dari Iran, India, Cina, Bangladesh, Korea, Italia, hingga anak-anak Suku Aborigin. Makin gembira dan betah di sekolah, ia. Harus kerja keras saya setiap menjemputnya pulang. Saya mengeluh melulu, tetapi diam-diam lega, sih.

Kembali ke Indonesia, ia minta balik ke Indonesia Playschool, sekolahnya yang lama. Beberapa kali saya ikut mengantarnya di acara kompetisi seni hingga wisuda. Setiap kali acara dimulai, selalu diawali dengan doa dari enam agama. Enam anak usia TK (ditemani ibu atau bapaknya) naik ke panggung dan membawakan doa dalam cara Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu. Pertama kali melihatnya, terharu benar saya. Mau menangis saking merasa lega bahwa masih ada sekolah yang menghargai semua agama sama rata.

Sekolah dia yang satu ini juga menerima siswa berkebutuhan khusus. Di kelasnya, anak saya biasa bermain dengan satu anak perempuan dengan down syndrome. Ternyata hal itu cukup jamak terjadi cabang Indonesia Playschool yang lain. Tidak hanya sekali dua saya menonton pertunjukan anak-anak yang melibatkan anak-anak dengan down syndrome. Semua guru dan murid yang terlibat di panggung begitu santai dan tidak pernah tampak terganggu dengan tingkah anak-anak berkebutuhan khusus ini. Mereka diterima, ditemani, di-emong, dikasihi. Batin hangat rasanya. Guru-gurunya pun sangat dekat dan ramah pada anak-anak, kepada orang tua murid juga. Saking dekatnya, saat acara perpisahan, wali kelas anak-anak yang lulus berterimakasih kepada anak-anak dan melepas mereka dengan keharuan yang menular ke banyak orang tua murid yang datang.

Sekolah seperti ini menenangkan benar. Terasa seperti rumah betulan. Tenteram.

Tetapi sebagaimana primata tumbuh, anak tidak bisa terus duduk di TK atau selamanya berusia lima. Ia butuh masuk sekolah dasar atau setingkatnya. Tidak bisa tidak, karena kemampuan saya sendiri jelas jauh dari bisa dalam mengakali sendiri urusan-urusan kepraktisan hidup pada sistem yang kita diami sekarang. Dan orang tua ini kembali mengalami sakit kepala yang akan diceritakan nanti-nanti saja karena belakangan Aspirin sudah tidak mempan alias wassalam.

Leave a Reply