Senyum Teh Madu Hangat

Ia mengenakan blus merah jambu dengan blazer berpotongan pas badan, rok span di atas lutut warna hitam dan stocking tipis dengan warna sama. Sepatu kulit–juga hitam–berhak rendah ia pakai dengan luwes. Tubuhnya ramping. Jemarinya bersih, tidak lentik, namun cantik dengan cat kuku merah muda yang dipoles cukup rapi. Sebuah buku tebal di pangkuan. Rambutnya berwarna emas bergelombang sebahu. Ia memiliki senyum sangat manis, barangkali yang paling nampak tulus yang pernah kulihat di kota ini.

Wajahnya berkumis. Dadanya rata. Jika kau duduk persis di depannya sepertiku, tanpa usaha keras kau juga akan dengan mudah melihat bulu kaki yang lebat di balik stocking tipisnya.

Seorang laki-laki berkumis berpakaian perempuan duduk di bangku tram tepat di hadapan, dengan khusyuk membaca buku berjudul After Homosexual. Mungkinkah harimu bisa lebih ganjil dari itu?

Ia sudah berada di tram lebih dulu dariku. Saat aku melihatnya dari dekat pintu, ia duduk tenang dan sudah memegang bukunya. Ia memberi senyum, aku balas tersenyum. Matanya sangat ramah. Seorang kakek tua naik tram, si blus jambon berdiri dan memberikan tempat duduknya pada si kakek. Kini kami sama-sama berdiri. Di halte tram berikutnya, seorang perempuan Asia berjilbab membawa kereta bayi dan menggandeng satu balita, ia membantuku menolong si perempuan berkereta bayi dan anaknya naik tram. Sepanjang kami berada dalam tram yang sama, tidak ada orang yang menatapnya dengan pandangan sengit, menghakimi, melecehkan atau apalagi menelanjangi. Semua berjalan begitu wajar. Siang itu hari bahkan nyaris terasa lebih tenang dan lembut daripada hari-hari lain. Setiap yang ia beri tempat duduk dan ia bantu naik atau ia beri jalan lewat, berterima kasih. Setiap yang bersirobok pandangan dengannya, ia beri senyuman yang tidak mungkin tak kita balas.

Setelah lebih dari setengah perjalanan menuju ke pemberhentianku, tram mulai kosong, kami mendapatkan tempat duduk yang saling berhadapan. Ia kembali tersenyum padaku. Senyumnya sungguh membikin nyaman. Terasa seperti teh madu hangat.

“Tahu nggak?”
“Ya?”
“Kau punya senyum yang sangat memikat.”
“Benarkah?”
“Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Oh, terima kasih. Terima kasih.”
“Senang bertemu denganmu.”
“Aku pun.”

Jika punya waktu lebih panjang, mungkin kami bisa mengobrolkan banyak hal. Ia nampaknya sangat asyik buat dijadikan kawan.

Leave a Reply