Saat balik dari jalan-jalan pagi beberapa hari lalu saya bertemu deretan pohon buah ini, kersen, atau ceri hutan, atau talok. Buahnya yang merah masak rasanya manis menyenangkan, kulitnya sedikit sepat. Saya lupa kapan terakhir kali makan buah ini. Barangkali sama lamanya dengan kapan terakhir kali saya makan buah murbei. Yang jelas sudah lama sekali, belasan tahun yang lalu, mungkin.

Saya ingat saat kecil saya punya teman mengaji bernama Oni, saya suka memanggil dia Onah, kadang malah saya panggil Onani, dari Onah-Oni. Saat itu saya dan teman-teman yang masih clingus tidak tahu kalau Onani adalah merancap, judul sebuah kegiatan yang tidak jahat tetapi juga blas tidak pantas dibanggakan. Si Oni ini selalu antre mengaji di belakang saya. Ia sering melamun. Kalau sudah melamun ia suka mengupil. Kalau sudah dapat upil ia suka memandanginya lama-lama dan beberapa kali saya memergoki dia mengudapnya. Iya, dia benar-benar makan upil. Bocah sakti.

Saya blingsatan sendiri dibikinnya, dia tidak sadar saya melihatnya tetapi saya juga tidak tega menegurnya karena takut dia diejek teman-teman yang lain. Oni si swasembada upil ini kalau diejek suka menangis. Kalau sudah menangis dia sering mengompol. Kalau dia mengompol di tempat mengaji, kami yang harus menciduk berember-ember air kolam buat menyiram lantai tegel Pak Haji. Repot sekali.

Sejak melihat Oni memakan upil, saya sempat sok tidak mau dekat-dekat dia. Apa daya dia satu-satunya teman yang di halaman rumahnya ada pohon talok besar, pohon itu selalu rendel berbuah sepanjang tahun. Dan lagi hanya saya satu-satunya yang dibolehkan memanjat paling tinggi, teman lain cuma boleh naik di dahan-dahan bawah saja. Saya ingat Oni sering bilang, “Awas yang manjat tinggi-tinggi nanti aku pipisin dari atas sini.”

Ancaman yang sungguh ngeri. Demikianlah pertemanan kami yang dirapuhkan oleh upil, diikat kembali oleh buah ceri hutan mini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here