Dua Orang Penakut

0
108

 

 

Adakah situasi yang lebih membosankan daripada siang hari gerah dan lembab dengan bising dengung lalat di telinga? Tentu saja ada. Seperti yang saya hadapi beberapa waktu lalu misalnya, seorang motivator instan bertabur sakarin berkata tepat di depan hidung saya, “Dua orang penakut jika bersama-sama niscaya akan menjadi dua orang pemberani.” Ia menyampaikannya dengan keyakinan orang saleh yang mengimani hari kiamat dan nabi terakhir. Sesungguhnya kemalasan saya sudah pada tahap akut, sekadar mengedikkan bahu atau menguap pun tidak mampu. Dalam hati saya ragu, apa iya Si Bapak benar-benar pernah merasakan menjadi salah satu dari dua orang penakut yang berada dalam satu panggung. Saya sudah, setidaknya dua kali, dan tidak satupun pada dua kesempatan itu saya lantas jadi berani karena berdiri bersama satu penakut lain.

Saat saya masih usia sekolah dasar, bau kencur dan ingusan dalam artian sebenarnya, saya berada di rumah pada pukul dua pagi berdua dengan adik perempuan saya yang–kalau tidak salah–masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Ibu sedang berkunjung ke rumah simbah di Magelang, sedangkan bapak tengah keluar rumah. Saya lupa untuk urusan apa. Saya penakut, adik saya lebih-lebih. Kami berbaring bersisian di tempat tidur kayu menunggu bapak. Rumah kami memang berada di tepi jalan raya provinsi, namun tetap saja masuk sepertiga malam terakhir jalanan sepi dari kendaraan yang lewat. Suara kelelawar di pohon jambu biji, suara jangkrik dari kebun kapulaga di belakang rumah, suara keresek daun segala pohon di pekarangan tertiup angin, semua terdengar berkali lipat lebih jelas di telinga bocah cilik yang tengah was-was. Sedang mencekam-mencekamnya, tiba-tiba terdengar suara congkelan pada dinding kayu. Seketika adik saya mencengkeram lengan saya, di pikiran kami sama: maling jahat sedang berusaha masuk rumah dengan mencongkel jendela. Saya sangat takut, tapi masih terhitung tak seberapa takut dibandingkan dengan adik saya yang sudah gemetaran parah.

Sebagai saudara yang lebih tua, tentu saja saya harus berlagak heroik. Saya berusaha menenangkan adik saya lalu merayap dari lantai kamar ke lantai dapur mengambil cobek batu ibu dan golok bapak. Saya kembali merayap–benar-benar merayap seakan-akan ada kawat berduri tepat di atas kepala–menuju ke kamar. Cobek batu saya berikan kepada adik saya yang gemetaran dengan pesan supaya ia tidak ragu menghajar kepala siapapun yang nantinya akan masuk melalui jendela. Sungguh sebuah nasehat yang mulia dari seorang kakak teladan kepada adiknya. Golok bapak saya pegang sendiri, macam Danny Trejo di film Machete saja, ‘ntap lah pokoknya. Suara berisik jendela dicongkel tidak selesai-selesai juga, saya mulai bosan dan berpikir ah paling-paling ini maling amatir yang bakal langsung keok dihajar cobek. Adik saya masih jirih tidak karuan di sebelah saya. Seruangan bersama penakut lain saya nggak terus jadi berani tuh, saya tetap takut meskipun rada bosan karena maling tidak rampung-rampung mencongkel jendela, juga kesal karena adik saya terus gemetaran. Thriller malam itu diakhiri dengan saya membukakan pintu untuk bapak sambil mengacungkan golok tajam dan membikinnya lemas karena kaget anaknya jadi buas-buas Kill Bill. Apa kabar maling pencongkel jendela? Tidak ada, ternyata suara berisik itu berasal dari dinding kandang bambu yang dipatuki ayam. Kzl.

Selanjutnya, saat duduk di bangku SMP, saya tinggal di tempat simbah. Sebagai pemudi soleha, setiap waktu magrib saya selalu shalat berjamaah di masjid ujung Utara dusun dilanjutkan dengan mengaji. Mengingat kami tinggal di dusun pelosok yang mblusuk-suk, lampu padam karena mati listrik adalah hal yang kerap terjadi. Suatu waktu sepulang saya dari masjid, listrik mati, lampu jalanan semua padam, gelap gulita belaka. Saya ini penakut, ha mbok sumpah, jalan kaki balik dari masjid saat lampu menyala saja saya keder. Apalagi pada saat itu ada isu hantu mukena terbang, kan syaiton ya, yang bikin cerita macam itu. Untunglah saya ada teman pulang, namanya Erma, sekarang dia jadi perawat. Saya pura-pura berani, dia juga tampak berani, maka kami pulang bersama dengan masih memakai atasan mukena, supaya tampak benar-benar soleha sekaligus membikin segan hantu-hantu. Saya menggandeng tangan Erma, atas nama keberanian, sepanjang jalan kami bernyanyi keras-keras macam duo The Virgin apalah. Belum sampai setengah perjalanan, kami berdua menjerit karena terperosok ke selokan. Baju dan mukena kami basah dan kotor belepotan lumpur. Saya menyalahkan Erma. Erma menyalahkan saya. Sampai akhirnya dengan kesal dan gemas kami berdua secara bersamaan bilang, “Aku kan mereeemmm!”

Nyet. Ternyata kami sama-sama penakut, sama-sama pura-pura berani dan saling mengandalkan. Tidak, Bapak motivator micin terhormat yang suka menggunakan musik Star Wars sebagai back sound saat menampilkan curriculum vitae sehingga spontan membikin saya pengin menghunus light saber dan bercengkrama dengan Darth Vader, dua orang penakut bersama-sama tidak lantas membikin keduanya menjadi pemberani. Paling banter mereka akan menjadi gerombolan curut atau trewelu yang berisik, sial dan memalukan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here