Ketakutan orang terhadap micin (MSG) seringkali melebihi ketakutan pada hal-hal lain. Kita bisa jadi lebih takut pada kandungan MSG dalam sebungkus mie instan ketimbang harus menyeberang jalan raya Margonda lepas magrib, saat jalan sedang sadis-sadisnya.

Monosodium Glutamat pertama kali dibikin ekstraknya oleh Kikunae Ikeda pada tahun 1908. Produknya—Ajinomoto (cup cup cup!)–masih populer sampai sekarang. Ikeda berusaha merangkum cita rasa gurih yang biasa ditemukan pada keju parmesan, jamur atau rumput laut. Rasa gurih ini dikenal sebagai “umami”. Ajinomoto laku keras, masyarakat (utamanya industri makanan Asia) senang karena masakan mereka bisa jadi lebih gurih tanpa ribet. Enggak ada masalah. Sampai tahun 1968, New England Journal of Medication menerbitkan surat Dr Ho Man Kwok yang mengangkat isu Sindrom Restoran Cina. Disebutkan bahwa ia selalu mengalami serangan pusing, mati rasa di bagian belakang leher serta gejala alergi setiap setelah makan di restoran Cina. MSG dipercayai sebagai pemicunya. MSG juga disebut sebagai penyebab utama obesitas, bahkan kanker. Hal ini menyebabkan maraknya pelabelan “No MSG added” di restoran-restoran Amerika Serikat.

Kontroversi penggunaan MSG menjadi-jadi pada pertengahan abad 20 saat rasisme anti Asia dan xenophobia di AS lagi tinggi-tingginya. Gelombang besar imigrasi dari Asia di abad 19 memicu dominasi orang Asia dalam berbagai pekerjaan kerah biru dan menimbulkan rasa terancam kaum Barat. Dipupuk dengan ide eksotisme budaya Asia—yang kerap dipandang aneh dan berpotensi mengandung ancaman (sebagaimana digemborkan dalam Yellow Peril Ideology)— persepsi bahwa MSG adalah biang kerok berbagai masalah kesehatan semakin subur. Hal ini diperburuk dengan hembusan isu higienitas masakan Asia.

Pseudosains berperan banyak dalam pembentukan opini soal bahaya MSG. Salah satu komponen MSG yaitu glutamat, merupakan asam amino yang secara alami diproduksi oleh tubuh manusia. Beberapa kritik menyebut glutamat sebagai racun bagi neotransmitter dalam otak manusia (makanya MSG sering dituduh sebagai penyebab kebodohan). Kenyataannya, MSG adalah campuran protein dengan garam. Rasa gurih yang didapatkan saat mengonsumsi MSG berasal dari reaksi di mana kita mengapresiasi impuls yang dihasilkan otak saat merespon keberadaan protein dalam MSG yang kita konsumsi. Klaim yang dihembuskan bahwa MSG meracuni otak, tidak dapat dibuktikan. WHO pun mengategorikan MSG sebagai substansi yang aman dikonsumsi tubuh manusia dalam jumlah wajar. Lagipula tubuh kita biasa juga memproses glutamat yang ada dalam makanan sehari-hari seperti jamur atau tomat.

Mengenai Sindrom Restoran Cina, disebutkan bahwa tidak pernah ada penelitian yang mendukung hipotesis tersebut. Ia semata-mata adalah ide yang dihasilkan dari kombinasi sains yang jongkok, rasisme, xenophobia dan jurnalisme yang buruk.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here